ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Tertangkap


__ADS_3

Hari ini Rudi sedang membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak didalam kantong jaketnya. Ia menuju pasar untuk menyerahkannya kepada Dimas.


"Ini uangnya" ucap Rudi


"Hahaha, padahal aku mengira kamu bakal butuh waktu lebih lama untuk menjual semua"


"Aku ahlinya. Ada barangnya lagi?"


"Ada, sebentar aku ambilkan"


Dimas masuk ke dalam pasar, cukup lama ia mengambil barangnya. Hingga Dimas keluar dengan membawa sebuah tas berwarna hitam yang terlihat cukup besar hingga membuat Rudi terkejut.


"Ini tiga kali dari kemarin Rud. Sengaja aku siapkan agar kamu tidak terlalu sering kesini" kata Dimas saat menaruh tas yang ia bawa.


"Tiga kali dari kemarin?"


"Iya? Bagaimana? Sanggup?"


"Baiklah, bagaimana dengan bagianku?"


"Tiga kali lipat dari jatahmu sebelumnya dan nanti ada sedikit tambahan uang.”


"Baiklah, harganya seperti biasa kan?"


"Iya"


"Ok"


Rudi membawa tas hitam itu dan langsung pergi meninggalkan Dimas. Mulai dari Rudi mulai merasakan sebuah kecemasan yang membuatnya sedikit menyadari bahwa apa yang dia lakukan sekarang bisa menyebabkan dirinya berakhir didalam penjara.


Namun Rudi hanya bisa tetap melakukannya, ia merasa bahwa dirinya masih butuh untuk menjalankan bisnis barunya itu. Cukup menguntungkan dan cukup untuk menghentikan sakit kepala yang selalu ia derita setiap malam.


Rudi sampai di depan kos-nya, ia berjalan menunduk dan berharap tidak ada yang menyapa.


"Rud! Darimana?"


Rudi mencari asal dari suara wanita itu, ia melihat Laura sedang menyapu dan melambaikan tangannya seakan sedang memanggilnya.


"Sebentar..."


Rudi menjawabnya dengan berjalan cepat menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar dan menaruh barangnya, Rudi kembali turun dan menemui Laura yang sedang menunggunya di depan rumah.


"Ada apa Ra?"


"Kamu baru pulang kerja?"


"Iya, kenapa?"


"Kok sekarang kamu agak lama pulangnya. Entah itu perasaanku atau emang begitu"

__ADS_1


"Hahaha, itu hanya perasaanmu saja"


"Mau kopi?"


"Boleh"


Laura masuk ke dalam kamarnya dan membuatkan Rudi segelas kopi dan untuk dirinya, ia membuat es susu putih dalam gelas besar.


"Harusnya tadi aku minta es susu juga" ucap Rudi sambil mengelus tenggorokannya.


"Hahaha, salah sendiri minta kopi"


"Aku terima semua dengan lapang dada"


"Hahaha, sana buat sendiri kalau mau es."


"Tidak usah"


"Oh iya Rud, tas hitam yang kamu bawa tadi apa isinya?"


Rudi terlihat kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh Laura. Pria itu diam sejenak sembari memikirkan apa yang akan ia katakan sebagai jawaban.


"Oh itu... Itu alat buat benerin bus"


"Oh cuma peralatan"


"Iya"


Obrolan antar teman dengan saling menyembunyikan rahasia itu tidak membuat obrolan mereka canggung. Justru mereka semakin berlarut-larut hingga sore itu mulai petang.


"Oh iya Rud, kamu sudah bertemu dengan Marni lagi?"


"Iya belum, aku juga hampir lupa dengan wanita itu"


Dalam hati Rudi ia baru saja menyadari bahwa dirinya sudah sangat lama tidak bertemu dengan Marni. Seakan Marni ditelan oleh tanah dan bumi. Wanita seakan lenyap seketika dari kehidupan Rudi hingga Laura mengingatkan dirinya.


"Iya yah! Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Marni" tambah Rudi.


"Bukannya kamu masih menyimpan alamat yang diberikan olehnya?"


"Sepertinya masih aku simpan"


......................


Obrolan itu berakhir dengan pembahasan seputar Marni dan beberapa bahasan tentang cuaca yang akhir-akhir ini mulai tidak menentu.


Rudi kembali menuju kamarnya, ia sudah menahan keinginannya cukup lama untuk hanya sekedar membuat Laura tidak curiga.


Rudi memulai ritualnya seperti biasa, ritual yang membuatnya terbenam dalam keheningan. Malam itu berjalan begitu cepat, segala pikiran yang berusaha ia kubur perlahan hilang menyatu dengan tanah.

__ADS_1


Bulan berlalu, bintang berlalu, malam berlalu dan matahari menyapa segala kehidupan yang ada di bumi. Bunga-bunga yang basah oleh embun, perlahan mulai mekar dan menyebarkan aroma serta keindahannya.


Rudi terbangun dalam keadaan yang lebih segar dari biasanya. Ia langsung membersihkan seluruh tubuhnya didalam kamar mandi. Memakai pakaian dan mengambil beberapa ganja yang baru saja ia dapat dari Dimas.


Rudi keluar kamar dan menguncinya, ia berjalan pelan dengan jaket yang ia kenakan. Rudi berjalan keluar menuju jalan raya dan naik angkot seperti biasa.


Setelah beberapa menit perjalanan, Rudi turun di suatu tempat yang masih jauh dari terminal. Di depan sebuah gang kecil, Rudi menoleh ke kanan dan kiri kemudian ia masuk ke dalam gang kecil itu.


Rudi berjalan beberapa langkah hingga sampai di sebuah rumah kecil dengan tembok berwarna biru. Dari dalam rumah itu keluar seorang remaja yang sudah mengenakan seragam sekolah.


Remaja itu mengulurkan beberapa lembar uang dan Rudi memberikan barangnya.


Tidak ada obrolan apapun antara Rudi dan pelajar itu. Rudi langsung putar balik dan keluar dari dalam gang.


Sebuah nasib sial yang tidak pernah disangka oleh Rudi. Dua orang dengan jaket kulit hitam tiba-tiba saja merangkul dirinya dengan kekuatan penuh.


Dua pria itu langsung memasangkan borgol pada kedua tangan Rudi tanpa mengatakan apapun.


Saat itu juga Rudi menyadari apa yang sedang dua pria itu lakukan. Percaya tidak percaya, hati Rudi berdetak dengan kencang. Ia tidak percaya bahwa dirinya sedang ditangkap oleh polisi.


Rudi mencoba memberontak dan berusaha untuk kabur, namun dua polisi itu memiliki tenaga yang cukup untuk menghentikan Rudi. Apalagi kedua tangannya yang sudah diborgol, Rudi mulai pasrah dengan keadaan yang ia derita pagi itu.


Rudi menghentikan usahanya untuk memberontak dan sebuah mobil hitam berhenti didepannya. Rudi digelendeng dan dipaksa masuk ke dalam mobil hitam itu.


Dua polisi itu cukup baik karena tidak melakukan kekerasan sedikitpun kepada Rudi selain rasa sakit yang ada dikedua lengangnya akibat borgol yang terlalu rapat.


Mobil itu membawa Rudi entah kemana, Rudi hanya diam dan menyelimuti dirinya dengan beberapa penyesalan dan memikirkan apa yang terjadi hari itu.


Rudi dijebak oleh polisi itu dengan memanfaatkan seorang remaja yang baru saja memesan ganja darinya. Saat itu juga Rudi merasa sangat ingin membentur-benturkan kepalanya ke tembok.


Penyesalan itu datang terlambat, tidak bisa dipungkiri lagi dan tidak bisa memutar waktu untuk menanganinya.


Rudi hanya diam didalam rangkulan kedua polisi itu. Mobil itu melaju kencang tanpa menyalakan sirine. Menyalip dan menyalip hingga berhenti didepan sebuah kantor polisi.


Rudi diseret keluar dari dalam mobil dan diantar masuk ke dalam markas polisi. Didalam kantor polisi itu terdapat beberapa polisi lain yang menatap dirinya dan menggelengkan kepalanya.


Rudi tidak tahu apapun dengan sikap para polisi itu. Kemudian Rudi disuruh duduk okeh salah satu polisi yang menahan dirinya.


Rudi duduk dengan mata menghadap lurus ke depan tepat dimana sebuah kursi kosong dan meja yang penuh dengan beberapa berkas.


Rudi melihat sekelilingnya, ia mengamati seluruh ruangan itu dan menemukan sebuah papan putih yang terdapat fotonya disana. Foto itu diambil disebuah tempat yang sangat tidak asing baginya.


Foto itu baru sehari kemarin saat ia duduk bersama dengan Dimas, namun anehnya disana hanya ada fotonya saja tanpa ada foto Dimas disana.


Rudi masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa sama sekali tidak ada fotonya dimas disana dan hanya ada fotonya saja? Apakah ia dijebak? Pertanyaan demi pertanyaan mulai keluar didalam pikiran Rudi.


Tidak lama kemudian seorang polisi dengan kumis tebal dan perut buncit duduk di kursi yang ada didepan Rudi.


"Jadi kamu yang selama ini menjual ganja kepada anak-anak dibawah umur?"

__ADS_1


Rudi kaget dengan pernyataan polisi itu. Menjual ke anak dibawa umur? Bukankah baru kali ini aku menjualnya pada anak dibawah umur?


Semakin bertambah pertanyaan yang ada didalam otak Rudi.


__ADS_2