ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Menunggu Libur dan Berlibur


__ADS_3

Hari-hari telanjang tanpa benturan kasih sayang. Rudi sudah berada di tempat kerja dan sudah mulai bekerja, para penumpang naik ke dalam bus dengan tenang. Satu persatu kursi terisi dan bus melaju menuju terminal tujuannya.


Rudi seperti biasa menjaga pintu depan dan Erlang berada dibelakang. Sesekali Erlang menghampiri Rudi untuk mengajaknya bercanda dan mengobrol santai.


"Nanti pulang jam 12 siang" ucap pak Darto.


"Loh kok tumben pak?" Jawab Erlang.


"Iya, katanya mau ada sosialisasi untuk para sopir, dan kernet boleh pulang"


"Wuih... Bayaran dobel nih!" Ujar Rudi.


"Gundul-mu bayaran dobel. Hahaha..."


"Hahaha"


"Rud, nanti ngopi dulu gimana?"


"Gas Lang"


"Ok"


Erlang kembali ke belakang dan baru mulai menagih ongkos para penumpang. Rudi menghadap ke depan menatapi jalanan yang hampir empat pulan ia lalui setiap hari.


Para manusia dengan segala tingkahnya, meramaikan bumi yang mulai sepi oleh kasih sayang.


Bus melaju kencang, tidak ada hambatan kecuali para pemotor yang sedikit tidak sabaran dan belok sembarangan. Pak Darto adalah seorang supir bus yang sabar, keahliannya mengendarai kuda besi raksasa sudah tidak bisa lagi diragukan. Bus sampai pada terminal tujuan dan para penumpang turun bergantian.


Pak Darto mengatakan pada Rudi dan Erlang agar tidak tidak kemana-mana karena bus akan segera kembali.


"Tidak usah ngopi dulu, kita langsung balik setelah ini"


"Siap ndan!" Ucap Erlang.


Rudi dan Erlang duduk di dekat bus dan mengobrol santai bersama beberapa kernet bus lainnya.


"Lang, nanti liburan ayo jalan-jalan”


"Kemana?"


"Terserah, ajak anak-anak juga biar ramai"


"Ok gas, nanti tak kabarin mereka"


Setelah cukup lama menunggu, pak Darto datang dan langsung menyalakan mesin bus.


"Kita langsung balik, ambil penumpang di perjalanan aja"


Setelah beberapa menit memanasi mesin. Bus langsung berangkat menuju terminal asal. Mereka tidak mengambil penumpang dari dalam terminal dan langsung kembali.


Sesekali bus berhenti saat ada penumpang yang mencegat dipinggiran jalan. Kursi bus hanya terisi beberapa orang hingga sampai pada terminal.


Rudi dan Erlang langsung pulang sedangkan pak Darto menuju Aula yang ada didalam terminal untuk sosialisasi yang dia katakan tadi.


Erlang tidak pulang terlebih dahulu dan mengikuti Rudi ke kos-kosannya. Setelah sampai kamar Rudi, Erlang langsung merebahkan badan dan menunggu Rudi selesai mandi.


Setelah Rudi selesai mandi, giliran Erlang yang mandi.

__ADS_1


"Rud! sudah pulang?" Suara seorang wanita dari luar kamarnya.


"Sudah Ra! Ada apa?"


"Tidak ada, cuma mau ngajak santai-santai"


Erlang keluar dari dalam kamar setelah mengenakan pakaiannya.


"Mending ikut ngopi aku aja gimana? Kebetulan aku sama temanku mau ngopi setelah ini"


"Dimana?"


"Belum tahu, temanku masih mandi"


"Ohh... Yasudah, aku ikut tapi aku mandi dulu"


"Ok"


Laura meninggalkan kamar Rudi dan turun melalui tangga. Tidak lama kemudian Laura kembali menemui Rudi.


"Nanti kalian naik apa?"


"Mau naik angkot sih"


"Pake mobilku aja"


"Gak masalah, kalau kamu mau"


"Ok pakai mobilku aja"


Laura kembali menuju rumahnya dan mandi. Erlang mendengar perbincangan Rudi dengan Laura dan menanyakannya kepada Rudi. Rudi menjelaskan semuanya tentang Laura yang sering membantu dirinya. Erlang begitu penasaran dengan sosok Laura yang dibicarakan oleh Rudi.


"Iya sebentar, baru masang BH"


Laura berteriak dari dalam rumahnya. Erlang yang baru saja mendengar celetukan Laura yang blak-blakan itupun tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Erlang terheran-heran dengan sikap janda teman dekat Rudi itu.


Setelah cukup lama mereka berdua menunggu Laura, akhirnya mereka mulai berangkat. Didalam mobil mereka berdiskusi untuk memilih tempat mana yang paling cocok untuk mereka ngopi dan menikmati siang yang sudah mulai menjelang sore akibat terlalu lama menunggu Laura berdandan.


Erlang yang duduk dibelakang tiba-tiba saja mengajak berkenalan Laura. Laura menerima ajakan Erlang dan mereka mulai mengobrol layaknya seorang teman tang sudah lama kenal.


"Loh kamu duda?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Kenalin saya janda"


"Hahaha, tuhan! Kenapa aku punya dua orang teman sebodoh ini" ucap Rudi.


"Hahaha, kita tidak bodoh. Kita hanya terlalu tidak pintar." Ucap Laura.


Setelah mereka bercanda tawa didalam mobil, mereka sampai di lokasi yang sudah mereka tentukan bersama.


Sebuah cafe yang berada dipinggiran pantai, dengan kursi yang berada di atas kaca tebal dan pagar dipinggiran-nya. Suasana yang tenang dengan deru ombak dari selatan, cahaya matahari sudah mulai redup dan mengurangi panas yang menyengat kulit mereka.


Seorang penyaji makanan datang menemui mereka dan menawarkan menu-menu yang ada disana.


"Saya kopi hitam tanpa gula saja" ucap Rudi.

__ADS_1


"Kamu apa Lang?" Tanya Laura kepada teman barunya.


"Aku es aja, terserah yang penting segar"


"Ada yang mau cemilan gak?"


"Boleh"


Setelah mereka selesai memesan, penyaji makanan itu pergi. Rudi masih asik menatapi air laut yang biru dan karang-karang menjulang seakan menantang ombak yang datang.


"Rud! Sedang melamunkan siapa? Dari tadi lihat kesana terus!" Tegur Erlang.


"Lagi mikirin sembako kali" ucap Laura.


"Dulu aku pernah berduaan dengan Salsa dipinggiran laut gini, saat itu dia menceritakan masa lalunya yang kelam dan hitam. Sebuah cerita yang membuatku berjanji akan selalu membahagiakan dia"


"Emmm... Sudahlah, semuanya sudah berlalu"


"Iya juga sih, tapi kasian Salsa"


"Kita do'akan yang terbaik saja"


Mereka tidak lagi membahas Salsa setelah penyaji makanan datang mengantarkan pesanan mereka.


Rudi langsung menyeruput kopinya yang masih panas dan pahit.


"Ra, nanti saat libur kerja kita mau liburan bersama beberapa teman Erlang, kamu mau ikut?"


"Kemana?"


"Belum tahu, kita belum membahasnya"


"Bagaimana kalau kita ke pantai, pantai yang sepi dan indah, pasti bakal seru"


"Boleh juga" ucap Erlang.


"Terserah sih, aku ikut saja. Tapi pantai mana yang sepi?"


"Entar aku carikan"


"Kita sewa mobil aja, kalo pake mobilmu gak bakal muat"


"Boleh juga" ucap Erlang lagi.


Rudi dan Laura memandangi Erlang yang hanya mengatakan kalimat yang sama dua kali tanpa memberikan pendapat apapun.


"Boleh juga" ucap Erlang lagi.


"Boleh juga" tambah Rudi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Boleh juga" salsa meniru mereka berdua.


Setelah itu mereka tertawa bersama, koneksi mereka seakan terhubung, bahkan hal sekecil itu yang mungkin dianggap tidak lucu bagi orang lain, terasa sangat lucu bagi mereka.


Sore sudah tiba, mega merah sudah melambai dan menyapa mereka. Malam akan datang, tenang akan tiba dan doa-doa para hamba akan ter-untai disepertiga-nya.


Akal, nafsu dan syahwat akan lelap bersama hari yang semakin gelap.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2