ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Si Pria Buncit Berkacamata


__ADS_3

Rudi sedang berada di terminal, masih tiga jam lagi sebelum pulang. Hari ini dia hanya berada di terminal asal tanpa melakukan perjalanan apapun.


Rudi, Erlang dan Pak Darto sedang melakukan penjagaan atau perawatan bus. Mereka mencuci bus, mengganti oli dan ban, menyetel beberapa baut dan beberapa perawatan mesin.


Tubuh mereka penuh dengan oli dan sangat kotor. Pekerjaan mereka dilakukan di bagian belakang terminal yang merupakan tempat parkir khusus bus.


"Rud, di kantor ada lowongan administrasi. Tidak mau daftar ke-sana?" Tanya Erlang


"Memangnya kamu bisa Main komputer Rud?" Tanya pak Darto.


"Bisa dong pak! Kan Rudi dulu..." Ucap Erlang terhenti.


"Dulu kenapa dia Lang?"


"Hahaha... Dulu dia pernah jadi admin sebuah pabrik"


"Ohh, beneran begitu Rud?"


"Iya pakde" jawab Rudi.


"Yasudah daftar ke kantor aja, daripada panas-panasan didalam bus."


"Hahaha, males pakde. Kerja di depan komputer malah bikin Ambien"


"Hahaha, iya juga. Tapi aku duduk di kursi bus terus kok gak ambien ya"


"Hahaha, pantatnya sudah kapalan" ejek Erlang.


Setelah bergelut dengan oli dan debu-debu yang menempel dibeberapa bagian bus, mereka bertiga mulai menyiram bus dan menggosoknya dengan spons.


Mereka bermain dengan ceria, saling siram dan saling lempar busa yang tidak bisa dilempar. Seakan mereka bertiga adalah teman kecil dari lingkungan yang sama, umur pak Darto yang terlampau jauh dari Rudi dan Erlang tidak membuat lelaki paruh baya itu berlagak dan bertingkah seenak hatinya. Justru mereka saling akrab dan saling menghormati.


Bus yang awalnya kotor kini telah berubah menjadi kinclong dan bersih. Mereka bertiga kemudian duduk di pinggiran sambil minum kopi dan makan gorengan khas yang pastinya jarang dirasakan oleh Rudi saat berada dirumahnya. Gorengan itu adalah sate bekicot yang sangat nikmat dengan bumbu spesial.


Setelah ini mereka akan pulang lebih cepat dari biasanya, pak Darto akan langsung pulang sedangkan Erlang akan ikut bersama Rudi ke kos-kosannya. Erlang sepertinya sedang rindu dengan kekasihnya.


Dia belum memiliki janji dengan Laura sehingga membuatnya tidak terlalu berharap akan bertemu dengan laura.

__ADS_1


Setelah cukup lama bersantai, mereka bertiga membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah itu mereka berpencar sesuai rencana mereka masing-masing.


Rudi dan Erlang langsung keluar terminal dan naik angkot yang sudah bersiap untuk berangkat. Angkot hijau dengan nomor 57 itu berjalan pelan sambil menunggu dibeberapa pertigaan untuk mencari penumpang lain.


Biaya setiap Rudi naik angkot adalah lima ribu rupiah, namun setiap pemberhentian akan dipatok harga yang berbeda. Tergantung jauh dan dekatnya, meskipun sudah ada sebuah stiker yang bertulisan bahwa jauh dekat harga tetap sama.


...----------------...


Mereka sampai ditempat Rudi, ia mengajak temannya itu untuk langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat terlebih dulu.


"Kamu kopi atau es?" Tanya Rudi.


"Es aja"


"Tunggu disini ya, kelihatannya Laura juga belum balik"


"Ok, aku titip rokok juga."


Erlang memberikan uangnya kepada Rudi yang akan menuju warung untuk membeli es dan rokok.


"Gila banget anak ini, kamarnya bersih dan rapi banget!" Gumam Erlang.


Setelah beberapa saat menunggu, Rudi tiba dengan membawa dua kantong plastik. Satu berisi es dan satu lagi berisi dua bungkus nasi pecel.


"Beli nasi pecel juga?"


"Aku tahu kamu lapar, tadi kamu hanya makan gorengan sedikit."


"Hahaha, aku malu sama pak Darto"


"Hahaha, malu disini ya bakal kelaparan bos!"


Rudi memberikan satu bungkus untuk Erlang dan satu bungkus untuk dirinya sendiri. Kemudian mereka makan bersama.


Setelah makan, Rudi bermain gitar dengan rokok yang ia pegang ditangan kanan. Sedangkan Erlang membuka kaosnya dan nampak beberapa tato kecil selain yang ada di tangan kanannya.


"Itu tato apa Lang?" Tanya Rudi sambil menunjuk bagian dada tengah Erlang.

__ADS_1


"Ini bahasa sansekerta yang artinya hati."


"Hahaha, kan hati ada di dada kiri?"


"Terserah aku dong, kan aku yang tatoan"


"Hahaha, aku juga pengen tatoan, tapi takut dimarahi mama papa."


"Hahaha, udah besar masih kena marah. Cupu kamu Rud!"


"Hahaha, biasa anak baik-baik."


"Hahaha, siap si paling anak baik-baik"


"Hahaha, Laura belum juga pulang. Kemana dia ya." Rudi mulai mengajak Erlang untuk membahas Laura.


"Kurang paham, kan kamu yang tetangganya."


"Hahaha, tapi kan bukan aku bapaknya"


"Biar aja, kita santai-santai dulu aja sambil nunggu dia pulang." Kata Erlang.


"Kalau gak pulang bagaimana?"


"Ya aku yang pulang. Hahaha"


Cengingisan adalah sikap asli Erlang, dia tidak menanggapi hal serius dengan serius. Namun begitulah keseriusan Erlang. Dia lebih memilih menjadikan hal serius sebagai hiburan bagi dirinya. Seakan dia sudah sangat siap untuk menerima banyak hal, baik dan buruk.


Mereka bernyanyi dan saling bercanda hingga untuk waktu yang lama, namun Laura masih belum pulang juga.


Hingga waktu hampir menjelang magrib, mereka berdua mendengar suara mobil berhenti didepan rumah Laura. Kemudian mereka mencoba untuk melihatnya.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang sangat terlihat mewah. Keluar dari mobil itu Laura dan kemudian disusul oleh seorang pria berkulit putih dengan kacamata dan perut buncit yang sangat khas. Laki-laki itu kemudian mengantarkan Laura dari belakang hingga Laura masuk ke dalam Rumah.


Laki-laki kacamata itu tidak ikut ke dalam rumah dan langsung menuju mobilnya lagi dan kemudian pergi.


Rudi berfirasat bahwa laki-laki kacamata itu adalah mantan suami Laura, namun ia tidak mengatakan apapun kepada Erlang yang masih memandangi mobil sedan hitam itu hingga lenyap dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2