
Pagi ini saatnya Rudi kembali ke aktivitas sehari-harinya, ia berangkat bekerja seperti biasa dan bekerja seperti biasa. Ia bertemu dengan Erlang yang saat ini sudah menjadi pacar Laura. Erlang yang sekarang sudah mulai menata dan memperbaiki penampilannya dan dia terlihat sangat berbeda dengan Erlang yang dulu.
Erlang mulai memakai parfum, menyisir rambut dan beberapa hal lainnya yang membuat dirinya terlihat lebih bersih dan tampan.
Rudi masih sama seperti biasa, hanya saja kini ia memakai baju dan celana baru yang ia beli kemarin saat sebelum berlibur.
Pekerjaan mereka terasa sangat menyenangkan, dengan tingkah Erlang yang masih suka mengajak bercanda beberapa penumpang wanita dan ditolak mentah-mentah. Guyonan yang Erlang berikan bukanlah guyonan yang sering ia gunakan saat sedang bersama teman-temannya. Guyonan Erlang kepada para penumpang tergolong sebagai guyonan yang absurd, dan tidak lucu sama sekali.
Hal itu membuat beberapa penumpang yang sudah sering melihat Erlang begitu menjadi cengingisan di kursi mereka, tidak terkecuali Rudi yang setiap hari melihat tingkah Erlang saat di dalam bus.
Sore hari adalah saatnya Rudi pulang, ia berjalan keluar terminal sendirian, hingga terdengar suara Erlang yang memanggilnya dari belakang.
"Rud, langsung pulang?"
"Iya. Ada apa?"
"Tidak ada, barangkali mau ngopi dulu"
"Ngopi dimana?"
"Didepan sana" jawab Erlang sambil menunjuk warung kopi yang di seberang jalan raya.
"Boleh, ayo"
Mereka berjalan menuju warung kopi yang ditunjuk oleh Erlang. Setelah duduk di kursi yang ada didalam warung itu, Erlang memesan kopi dan Rudi memesan segelas es susu.
__ADS_1
"Lah? Kan aku ngajak ngopi?"
"Tetap nyusu"
"Susu coklat apa putih?"
"Yang coklat yang nikmat" jawab Rudi becanda.
"Hahaha, bener sih. Yang coklat yang lebih nikmat."
"Hahaha"
Si pemilik warung membuatkan pesanan mereka dalam waktu singkat. Mereka berdua tidak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan mereka selesai.
Mereka berdua mengobrol tentang beberapa hal ringan dan tidak menyinggung apapun tentang hubungan yang mereka jalin dengan wanita mereka kemarin.
Rudi mengeluarkan rokok miliknya dan membagikannya kepada Erlang. Mereka sangat menikmati sore itu hingga gelap menyelimuti sekitar mereka tanpa mereka sadari.
"Rud kamu gak kepikiran untuk mencari pekerjaan lain?"
"Hmm, tidak sepertinya. Ada apa?"
"Aku kadang sedikit minder dengan hubunganku dengan Laura, dia adalah wanita yang mapan sedangkan aku hanya kernet."
"Hahaha, dia menyukaimu. Dia juga bukan wanita yang tertarik pada gelar dan harta. Laura yang ku kenal adalah wanita yang baik dan sangat menghargai sebuah cinta dan kasih sayang."
__ADS_1
"Tapi tetap saja aku minder"
"Hahaha, tetap jadi dirimu seperti biasa. Jangan memaksakan apapun yang tidak perlu"
"Semoga saja aku tidak membuat Laura menyesal."
"Hahaha, tumben banget kamu seperti ini"
"Aku juga manusia, hahaha."
"Tapi kamu ngerasa gak, setelah liburan kita kemarin. Seperti ada sesuatu yang berbeda tapi kita tidak mengerti apa yang berbeda."
"Tidak." Jawab singkat Erlang.
Rudi mencoba menyampaikan apa yang ia rasakan namun respon singkat yang diberikan oleh Erlang membuat Rudi jengkel. Kemudian mereka mengganti begitu saja topik yang serius itu dengan topik lain sangat tidak berfaedah dan tidak jelas.
"Sudah gelap, ayo pulang"
"Y" jawab Rudi.
Erlang memandang Rudi dengan tertawa, seakan dia mengetahui bahwa Rudi sedang membalasnya. Erlang membayar kopinya serta es susu yang dipesan Rudi.
Kemudian mereka beranjak menuju angkotan yang menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Rudi pulang cukup malam kali ini. Masih pukul delapan, namun keadaan sekitar yang ia lewati terasa sangat sepi dan tenang. Rudi duduk melamun memandang keluar jendela angkotan. Dia hening dalam kebingungan yang tidak ia ketahui. Hingga penumpang lain naik angkotan itu dan memudarkan lamunannya.
...----------------...
__ADS_1