
Masih dalam malam yang sama, ulang tahun Laura dirayakan oleh teman-teman dekatnya hingga semua orang teetidur pulas.
Zola dan dua temannya sudah pamit hendak pulang, sedangkan Erlang dan Rudi masih disana. Andin sudah membalas pesan yang dikirim oleh Rudi. Kekasih Rudi itu sepertinya juga kaget bahwa acara yang diadakan oleh Laura secara mendadak itu adalah sebuah acara ulang tahun. Andin sedang dalam perjalanan menuju kesana dan tiga temannya menunggunya dengan bernyanyi dan bercerita.
"Mau minum?" Tanya Laura.
"Minuman yang seperti biasanya?" Tanya Rudi.
"Iya, aku ambil ya."
Erlang dan Rudi mengangguk dan Laura pergi ke dalam rumah untuk lengambil minumannya.
Beberapa saat setelah Laura masuk ke dalam rumah, ada sebuah motor dengan lampu terang berhenti didepan Rudi dan Erlang. Ternyata dia adalah Andin yang tidak terlihat sudah mandi. Wanita itu terlihat penuh keringat dan kaos yang ia pake nampak basah oleh keringatnya.
"Halo teman-teman..." ucap Andin setelah turun dari motor.
Rudi dan Erlang hanya tersenyum kecil mendengar bagaimana Andin menyapa mereka berdua.
"Sini sayang, duduk disampingku." Ucap Rudi menggoda.
"Ehh... Sayangku manis banget! Pasti mau minta jatah!"
Erlang terbahak-bahak mendengar bagaimana Rudi dan Andin saling menggoda. Kemudian andin mendekat dan mengambil kursi untuk duduk disebelah Rudi.
"Mana Laura?"
"Ada didalam, sedang ngambil minum"
"Darimana kamu An? Kok keringetan?" Erlang bertanya.
"Hahaha, habis main bulutangkis sama temen"
"Dari tadi sore?" Tanya Rudi.
"Iya"
"Gila!" Kata Rudi.
"Hahaha, biar aku semakin seksi sayang." Ucap Andin sambil memeluk tangan Rudi dan mengusapkan keringatnya kepada Rudi. Rudi berusaha menyingkirkan Andin yang tidak mau melepaskan pelukannya yang penuh keringat. Erlang tertawa kepas melihat kemesraan mereka.
Selang beberapa waktu, Laura keluar dengan membawa tiga botol minuman dan satu wadah es batu.
"Lang, tolong ambilin gelasnya didalam"
__ADS_1
"Siap tuan putri"
Erlang pergi kedalam rumah Laura dan mengambil empat gelas kecil yang sudah disiapkan oleh Laura.
"An, darimana aja baru datang?" Tanya Laura.
"Hahaha, maaf tadi habis olah raga."
"Gak mandi dulu?"
"Iya bener! sana mandi dulu, masak aku punya pacar bau keringat dan ketiak." Ucap Rudi sambil berusaha menyingkirkan pelukan Andin yang masih menempel ditangannya.
Tiba-tiba Andin mencium Rudi dan kemudian pergi ke dalam rumah Laura. Erlang melihat bagaimana Andin mencium Rudi, kemudian ia menatap Laura seakan ingin mengatakan bahwa dirinya juga menginginkan hal yang sama. Laura merespon Erlang dengan wajah sinis dan mata yang melotot.
Rudi tersenyum melihat respon Laura yang garang dan manis itu. Erlang kemudian menaruh gelas yang dia ambil dan Laura mulai menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Eh nunggu Andin dulu." Ucap Laura saat Rudi hendak meminum segelas yang sudah dituangkan Laura.
Rudi kemudian mengangkat gitarnya dan menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan orang-orang pada saat ada yang sedang berulang tahun.
"Tiup... Tiuupp... Tiup lilinnya...."
Erlang dan Laura menatap Rudi seketika setelah mendengar Rudi menyanyikan lagu yang nyeleneh.
Laura tertawa mendengar kekasihnya yang mencoba melanjutkan lirik Rudi dengan suaranya yang sangat tidak pas dengan melodi gitar Rudi.
Rudi tetap melanjutkan permainan gitarnya meski Erlang telah merusaknya. Mereka menyanyikan lagu itu hingga selesai, hingga Andin selesai mandi dan ganti pakaian.
"Ra, pinjam bajumu ya" kata Andin.
"Iya"
Mereka berempat kemudian duduk bersama. Andin mengangkat gelas yang sudah diisi oleh Laura.
"Untuk Laura yang sedang tambah tua dan belom juga nikah!" Ucapnya.
"Hahaha, untuk saya sendiri yang masih asik bermain dengan orang-orang konyol seperti kalian." Tambah Laura.
Setelah bersama-sama mengangkat gelas, mereka kemudian meminumnya dan kembali duduk. Laura mengisi kembali gelas-gelas yang sudah kosong itu.
Mereka bersama-sama menikmati malam yang gelap itu dengan tiga botol alkohol yang manis dengan gaya tarik bumi yang tinggi.
Mereka melayang bersama dan saling tertawa, keharmonisan mereka semakin erat dan persahabatan mereka semakin terikat.
__ADS_1
Andin mesra dengan kekasihnya yang sedang bermain gitar. Ia memeluk dan kadang ikut nimbrung dan menjaili Rudi.
Erlang dan Laura tidak nampak seperti seorang kekasih, mereka hanya duduk bersebelahan dan sesekali saling berpegangan tangan.
Semakin tinggi mereka terbang bersama, semakin malam dan semakin dingin. Rudi memindahkan posisi duduknya, dia bersila di atas kursi dan bersiap menyanyikan sebuah lagu.
"Hari ini... Hari yang kau tunggu...."
Satu lagu lagi tentang hari ulang tahun, dengan nada dan lirik yang lebih dalam dan penuh makna. Malam itu terasa begitu sangat indah bagi Laura, janda itu sangat bersyukur memiliki teman-teman dan kekasih yang sangat mencintai dirinya. Matanya berkaca-kaca mendengar bagaimana Rudi menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati dan penuh penghayatan.
Lagu itu bertebaran dan menghiasi langit hitam. Lirik-liriknya menjadi benih semangat dan meniadakan keputusasaan. Melodi dari jari-jari Rudi yang menekan senar dengan hati, membuat angin semilir menjadi embun yang dingin. Embun yang siap mencerahkan pagi yang akan datang.
"Lang, kamu gak ada hadiah buat Laura?" Kata Andin.
"Hadiah?" Jawab Erlang.
"Iya"
Erlang kemudian terdiam sebentar dan memikirkan sesuatu. Tidak lama setelah itu ia berdiri dan pergi, seakan ia tahu apa yang aka ia hadiahkan kepada Laura.
Setelah muter-muter sejanak, dia kemudian mengambil sesuatu dan mengaotak-atik sesuatu yang baru saja ia ambil.
Erlang kemudian kembali menuju meja dan menghampiri Laura. Ia kemudian berlutut didepan Laura dan menggapai tanganya. Rudi mengeluarkan sebuah cincin yang baru saja ia buat dari plastis yang digelintir dan dibentuk menjadi sebuah cincin bulat.
Laura tersenyum manis melihat tingkah konyol kekasihnya itu yang masih berlutut didepannya dengan memegang jari manisnya begitu lama.
Erlang memegang jari manis Laura bukan seperti sedang ingin menaruh cincin tapi lebih seperti ingin mematahkan jari manisnya. Rudi menggenggam jari manis Laura dengan lima jarinya.
"Laura, kamu mau tidak jadi mama, ibu, pengasuh dan pembimbing anakku?" Ucap Erlang dengan nada becanda dan wajah serius.
Mereka berdua saling menatap mata satu sama lain. Rudi dan Andin hanya menatap sepasang kekasih itu dengan bibir yang sedang menahan tawa besar dengan senyuman kecil.
Laura kemudian mengangguk lalu Erlang menarik jari manisnya dan memasangkan cincin plastiknya ke jari manis Laura yang putih dan mening.
Andin dan Rudi kemudian berdiri mereka memberi tepuk tangan dan kemudian melepaskan bibir mereka yang sudah tidak tahan lagi untuk tertawa.
Erlang kemudian berdiri dan memeluk Laura dengan Erat. Ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Laura dengan sangat lembut.
"Mungkin caraku telihat seperti bercanda, tapi apa yang ku katakan adalah hal yang nyata." Bisik Erlang pelan.
Malam itu seperti dipenuhi oleh mawar. Laura menangis haru setelah mendengar apa yang dibisikkan oleh Erlang. Mereka berpelukan dengan bejanji untuk tetap saling bersama apapun keadaannya.
Bulan, bintang, langit dan dua temannya menjadi saksi janji mereka. Mereka melepas keharuan dalam sebuah pelukan hangat dengan kepala yang masih melayang terbang ke angkasa.
__ADS_1