
"Rud! Nanti langsung pulang?"
"Iya Lang. Kenapa?"
"Mau ngajak ngopi bareng"
"Gak bisa, aku langsung mengunjungi Salsa"
"Aku ikut kesana boleh Rud?"
"Boleh, sekalian nanti ngopi disana"
"Ok, kita bungkus aja. Bawa masuk ke kamar Salsa"
"Bisa~"
Erlang penasaran dengan seberapa parah luka yang diderita oleh Salsa. Hari ini adalah minggu ke-dua Salsa dirawat di rumah sakit.
Erlang selalu setia mengunjungi Salsa setiap pagi dan sore hari dan hari juga bertepatan dengan pelepasan perban yang membungkus wajah Salsa.
Selama dua minggu Salsa hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya. Ia masih kesulitan berbicara dengan beberapa luka yang ada disekitar bibirnya.
Perjalanan bus menuju terminal asal sudah dimulai. Bus melaju dengan lancar dan tanpa halangan. Setelah bus sampai di terminal, Rudi dan Erlang mulai turun dan membantu beberapa penumpang untuk menurunkan barang bawaan mereka yang ditaruh dibagasi bawah bus.
Satu-persatu penumpang mulai berhamburan, Rudi dan Erlang juga sudah keluar dari terminal. Mereka berdua berinisiatif untuk membelikan beberapa jajanan khas pasar seperti onde-onde, putu, lemper dan serabi. Mereka membeli jajanan pasar dengan cukup banyak yang akan mereka berikan kepada Salsa dan juga beberapa penghuni rumah sakit lain.
Setelah selesai membeli beberapa jajanan mereka berangkat menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan mereka melihat seorang anak kecil duduk bersama seorang wanita dua dan mereka terlihat sangat kelaparan. Erlang menyuruh Rudi untuk memberikan sebagian dari jajanan yang mereka beli untuk mereka. Rudi memberikan jajannya dan juga memberi beberapa uang yang tidak begitu banyak.
Anak dan wanita tua itu terlihat sangat girang dan langsung memakan jajan yang diberikan oleh Rudi.
Erlang tersenyum sumringah dari belakang Rudi melihat keanggunan senyum gadis kecil itu.
Setelah mereka sedikit berbincang dengan anak dan ibu tua itu, Mereka berdua langsung melanjutkan perjalanan kembali.
Rumah sakit itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada beberapa mobil-mobil mewah yang terparkir di depan halaman rumah sakit.
Rudi dan Erlang langsung menuju kamar Salsa. Saat hendak membuka pintu kamar Salsa, tiba-tiba ada dokter yang menyuruh mereka untuk menunggu terlebih dahulu.
"Maaf, mohon tunggu sebentar. Pasien hendak membuka perban kepalanya"
"Iya dok, saya tunggu" sahut Rudi.
"Berapa lama dok?" Erlang bertanya.
"Gak lama, mungkin sekitar 15 menitan."
"Ohh... baiklah dok"
Rudi dan Erlang menunggu dokter itu untuk membuka perban Salsa. Mereka duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar Salsa.
"Beli kopi gak?” Tanya Erlang.
"Boleh"
__ADS_1
"Ok! Aku yang beli"
"Ini uangnya" ucap Rudi dengan mengulurkan beberapa uang.
"Tidak, kali ini aku yang traktir."
Erlang pergi untuk membeli kopi, sedangkan Rudi duduk sendiri di kursi tunggu.
Lima belas menit berlalu begitu cepat, dokter yang mendapatkan bagian untuk melepas perban Salsa sudah keluar dan Rudi langsung masuk ke dalam.
...----------------...
Benar-benar wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Hampir seluruh bagian wajah Salsa menjadi hitam dan berkerut, menyisakan sedikit bagian di bagian pipi kiri Salsa.
Rudi tidak menampakkan ekspresi wajah yang menunjukan perasaan jijik. Ia berusaha tetap tegar dan tersenyum. Salsa menengok ke arah Rudi dan kemudian memalingkan wajahnya dari pandangan Rudi.
Rudi mendekati Salsa, kemudian membuka bungkus jajanan yang ia beli dan menaruhnya dimeja.
"Mau makan?" Tanya Rudi sangat pelan.
"Iya" jawab Salsa sangat pelan juga.
Rudi tersenyum mendengar suara Salsa lagi setelah sekian lama ia tidak mendengarnya. Rudi menawarkan beberapa jajan yang iya beli dan Salsa meminta putu untuk ia makan terlebih dahulu.
Tangan Salsa masih tidak bisa digerakkan dan Rudi menyuapi Salsa dengan penuh perasaan.
Sesekali Salsa berusaha tersenyum namun sepertinya dia masih tidak percaya diri. Rudi mengerti bagaimana perasaan Salsa saat ini, ia berusaha sebisa mungkin menunjukkan sikap bahwa ia menerima Salsa apa adanya.
Salsa hanya diam dan Erlang hanya tersenyum dan memandangi wajah Salsa sekilas kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Rudi.
"Ini kopimu" ucap Erlang dengan mengulurkan kopi bungkusan.
"Terimakasih"
"Salsa mau kopi hitam tidak?" Erlang mencoba menghibur kekasih temannya itu.
"Terimakasih" jawab Salsa dengan berusaha tersenyum.
Erlang duduk dilantai dan membuka bungkusan kopinya. Ia mencari-cari kemasan gelas untuk menuangkan kopinya dan mulai menyeruput perlahan.
Rudi masih asik menyuapi Salsa. Salsa masih tidak mau menceritakan apapun, dia hanya diam dan mengunyah makanan yang diberikan oleh Rudi.
...****************...
...Bunga-bunga layu telah menyiapkan dirinya...
...Keindahan yang terenggut tidak membuat mereka takut...
...Benih-benih telah tersebar...
...Atas kehendak tuhan dan kuasanya...
...Lebah dan angin ikut serta mengaminkan...
__ADS_1
...Tanah dan air membantu dan merawat...
...Benih-benih itu akan tumbuh bersama waktu dan keindahan...
...Lebah-lebah akan senang...
...Angin akan menari...
...Dan dunia akan kembali asri...
...****************...
"Rud, jika kamu ingin pergi, maka pergilah. Aku bukan Salsa yang dulu lagi"
Ucapan Salsa yang tiba-tiba itu, membuat hati dan tubuh Rudi merinding. Erlang mendengar perkataan Salsa itu dan kemudian keluar dari kamar Salsa.
Rudi masih belum menjawab atau merespon perkataan Salsa dan melanjutkan menyuapinya.
"Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik lagi Rud! Jangan memaksakan dirimu untuk tetap tinggal dengan wanita layu sepertiku!" Salsa menangis.
Rudi mengambil beberapa tisu dan mengelap air mata Salsa. Dia masih tidak merespon perkataan Salsa.
"Aku sudah hancur Rud! Aku sudah hancur!"
Rudi berdiri dan memeluk Salsa pelan.
"Kamu akan tetap menjadi Salsa-ku, apapun yang terjadi!"
"Tidak Rudi, apa yang akan dikatakan orang bila kau tetap bersamaku? Kamu akan dipermalukan!"
"Siapa yang akan berani mempermalukan kita? Kita akan menghadapi semuanya bersama. Bahkan jika dunia dan seisinya membenci kita"
Salsa mulai sesenggukan tak kuasa menahan air matanya. Rudi tetap berdiri disampingnya dan membersihkan air mata Salsa.
"Jangan pikirkan apapun! Kita akan tetap bersama. Kita akan memulai lagi perjalanan dan cerita kita seperti dulu."
Salsa semakin tak kuasa menahan air matanya. Dia kebingungan, dia seperti tidak tega jika harus tetap bersama dengan Rudi. Tapi dia juga tidak bisa jika tidak bersama kekasihnya itu.
Salsa mulai menenangkan dirinya, mengatur nafas dan menghentikan hujan air matanya.
"Apa kamu siap dengan apapun yang akan terjadi jika kita bersama Rud?"
"Itu sudah pasti, kita akan mencari jalan keluar bersama, kita selesaikan segalanya bersama"
"Sudah kau pikirkan matang-matang?"
"Sudah, aku akan tetap bersamamu"
"Baiklah jika itu keinginanmu"
Salsa tersenyum dengan lebar, senyum yang tidak terlihat begitu senang dan seperti ada yang ia rencanakan dan sembunyikan.
...----------------...
__ADS_1