ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kemesraan dibawah Bulan


__ADS_3

Matahari sudah terbenam dengan sungguh-sungguh. Tidak ada lagi cahaya yang menyinari mereka selain bulan dan bintang.


Rudi menata kayu yang sudah ia dan teman-temannya cari tadi sore dan menyalakan api untuk menghangatkan tubuh sekaligus sebagai sumber cahaya.


Malam itu begitu sunyi, tanpa suara deru motor dan klakson-nya. Kesunyian membuat suasana di pantai itu menjadi sangat nikmat. Api unggun yang sudah menyala menyatukan mereka semua. Mereka duduk memutar dan saling menghangatkan tubuh.


"Ga, ambil gitarmu" ucap Rudi kepada Arga.


Arga tidak banyak bicara dan langsung mengambil gitar. Setelah gitar ia bawa menuju api unggun ia menyerahkannya kepada Rudi agar dia memulai menyanyikan sebuah lagu yang akan menemani malam syahdu mereka.


"Lagu apa?" Tanya Rudi kepada teman-temannya dan.


"Terserah, yang seru" kata Arga.


"Bagaimana kalau Kemesraan-Iwan Fals?" Laura memberi saran.


"Iya betul, lagu itu cocok banget dengan suasana kita hari ini." Kata Elsa.


"Suatu hari, Dikala kita duduk ditepi pantai..." Laura memulai.


Rudi langsung memetik senar gitarnya pelan dan menyatu bersama irama tepuk tangan dan suara merdu Laura.


Erlang, Elsa dan Andin menatap kaget ke arah Laura saat mengetahui betapa merdunya suaranya. Laura memejamkan mata, bernyanyi dan menepuk-nepuk pahanya.


Lagu itu meng-angkasa di atas api yang membakar kenangan dan kesedihan. Lagu itu menyatu bersama dengan mereka ber-enam. Mereka serempak bernyanyi dan menikmati alunan melodi malam hari.


Kehangatan dari api yang membakar kayu seakan menjadi teman sekaligus obat untuk hati yang sedang pilu.


Pelan-pelan waktu berlalu hingga satu lagu terselesaikan. Mereka semua tersenyum bahagia. Rudi menatap wajah-wajah temannya yang terang oleh cahaya api unggun di depannya. Sumringah wajah mereka membuat Rudi semakin bahagia.


Andin menjadi momok yang dikagumi Rudi. Andin duduk didepannya. Di samping kanannya adalah Erlang dan disisi kirinya ada Laura. Mereka tidak melihat Rudi yang sedang termenung mengagumi Andin.


Rudi masih memandangi wanita cantik itu. Dengan kaos hitam berukuran besar, lebih besar dari badannya dan celana pendek berwarna putih. Andin nampak sangat menawan dibawah awan-awan hitam dan bintang.


Laura berdiri dan membuat Rudi tersadar dari lamunannya.


"Eh iya, aku bawa sesuatu dari Rumah."


Laura masuk ke dalam tenda yang sudah mereka dirikan sejak sampai disana.

__ADS_1


Setelah beberapa saat dia keluar membawa beberapa cemilan dan dua botol besar beserta gelasnya.


"Ada yang lapar?" Tanya Laura.


"Aku masih kenyang" jawab Rudi.


"Sama aku juga masih kenyang" kata Erlang.


"Elsa? Arga? Andin?" Laura bertanya lagi.


Mereka bertiga menggelengkan kepalanya. Kemudian Laura kembali ke dalam tenda dan keluar lagi dengan membawa beberapa cemilan yang sudah siap makan tanpa perlu dimasak lagi.


Laura duduk dan membagikan cemilan kepada mereka semua. Ia membuka tutup botol dan mulai menuangkan sedikit minuman ke dalam gelas kecil yang ia bawa bersama botol dan cemilan.


Laura membagikan gelas itu kepada teman-temannya.


Rudi memulai melodinya lagi, lagu demi lagu mulai memenuhi malam mereka. Bersama kicau burung dan dering jangkrik, petikan Rudi menjadi sangat asik. Andin, Elsa dan Arga sangat menikmati alunan gitar Rudi, mereka menatap Rudi dan Laura yang seakan memiliki satu arah pikiran. Mereka berdua saling memahami dan saling hafal dengan lagu yang dinyanyikan satu sama lain.


Malam larut dalam kemesraan, suara ombak membantu mereka yang sedang dalam masa sesak, angin yang tenang menemani tubuh yang mulai melayang.


Dua botol minuman itu tersisa sedikit. Laura dan Erlang menyandarkan kepalanya dipundak Rudi. Mereka sepertinya sudah mulai kelelahan.


Api yang ada dihadapan mereka sudah mulai mengecil dan padam. Menyisakan bara yang masih menyala kemerahan. Satu botol minuman masih tersisa. Erlang kembali ke dalam tenda dan tidur. Begitu pula dengan Laura dan Arga.


Rudi sudah tidak memainkan gitarnya. Elsa dan Andin mendekati Rudi dan duduk disebelahnya.


Mereka bermain bara dengan menggunakan sebuah ranting yang mereka dapat entah dari mana. Rudi hanya diam diapit oleh dua wanita cantik itu.


"Rudi kenapa kamu tidak menggunakan nama aslimu? Kan kita sudah saling mengetahui ceritamu?" Elsa bertanya.


"Entahlah, lebih nyaman dipanggil Rudi daripada Doni. Bahkan kadang aku juga lupa bahwa namaku sebenarnya adalah Doni."


"Hahaha, tenang saja aku akan membantumu menjalankan cerita yang kau ingin jalani."


"Hahaha, kita berteman saja sudah ku anggap sebuah kisah yang menyenangkan"


"Kapan-kapan ajak aku main ke rumahmu, aku ingin makan salmon yang dikelola oleh para karyawanmu"


"Hahaha, tenang saja."

__ADS_1


"Aku jarang sekali berlibur. Hari-hari yang ku halani adalah kerja dan kerja. Sangat melelahkan"


"Kenapa tidak memulai bisnis saja"


"Bisnis apa? Terkadang aku ingin melakukannya namun terkadang juga aku rasa malas membuatku tidak ingin melakukannya."


"Hahaha, itu bukan rasa malas. Hanya sebuah idealisme yang sudah sangat mendarah daging"


"Hahaha itu hanya bahasa yang lebih lembut. Tidak ada bedanya."


"Bukanya ayahmu juga sudah memiliki sebuah bisnis Sa?" Andin bertanya tiba-tiba setelah lama mendengarkan mereka.


"Iya benar, namun bisnis itu sudah diberikan kepada kakak pertamaku"


"Lantas apa yang menjadi bagianmu?"


"Emmm... Aku hanya dapat rumah yang saat ini ditinggali ibu dan kakak-kakakku."


"Setelah ayahmu meninggal, apakah ada yang berubah didalam keluargamu"


"Hanya kakak ke-dua yang agak tidak terima dengan pembagian yang diwariskan oleh ayahku"


"Kenapa kamu hanya ingin rumah itu?"


"Entahlah, aku hanya berpikir rumah itu penuh dengan kenangan. Aku juga berkata kepada kakak dan adikku bahwa rumah itu akan tetap menjadi rumah bersama dan menjadi rumah tempat kita akan berkumpul dan pulang. Aku tidak mengharapkan banyak tentang warisan ayahku, aku hanya ingin semua keluarga tetap akur dan saling menyayangi."


"Ternyata kamu dewasa juga ya" ejek Rudi.


Elsa mencubit pipi Rudi dan membuat Rudi sedikit kesakitan. Setelah itu ia beranjak dan meninggalkan Rudi berduaan dengan Andin diluar.


Andin masih bermain bara sisa kayu yang hangus dibakar oleh api. Ia tidak mengatakan apapun kepada Rudi. Andin seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. Matanya tajam menatap bara yang ia mainkan.


Rudi hanya menatapnya pelan dan menuangkan minuman yang masih tersisa. Ia mengisi dua gelas dan memberikannya kepada Andin.


Malam sudah sangat gelap, tanpa api dingin menyambar hingga lubuk hati. Demikian malam berlalu bersama Andin yang masih membisu.


Cukup lama diam itu merangkul tubuh yang mulai kedinginan. Rudi menggosokkan ke-dua telapak tangannya dan menyapukan kewajahnya. Ia menatap Andin lagi dan tidak mengajaknya mengobrol terlebih dahulu. Ia hanya menatap bintang dengan aroma parfum ketenangan yang ada di sampingnya.


"Rud, bisa bantu aku untuk jatuh cinta lagi?"

__ADS_1


Tiba-tiba Andin memintanya melakukan hal yang bahkan tidak ia ketahui bagaimana caranya.


...----------------...


__ADS_2