
Rudi baru saja akan membeli sebuah handphone. Sebenarnya dia bisa saja mengambil handphone lamanya di kantor polisi, namun Rudi enggan melakukannya. Sepertinya dia takut polisi akan mengungkit kembali tentang masalahnya dan akan membuat perjuangan Marni sia-sia.
Setelah memilih handphone yang akan dia beli, ia mulai memilih kartu perdananya. Beberapa nomor yang terlihat cantik disuguhkan oleh penjual wanita yang ada didepannya. Rudi memilih salah satu dan lekas membayarnya.
"Tidak ada diskon kak?" Tanya Rudi.
"Hehehe belum ada kak, mungkin kakak bisa beli satu lagi. Nanti kita kasih potongan harga."
"Beli kartu perdananya?"
"Hehehe... Handphone-nya"
"Hahaha, baiklah tidak perlu diskon kak. Jadi totalnya berapa?"
"Tiga ratus dua puluh ribu"
"Yaampun uang gajianku..."
"Hehehe terimakasih kak."
Rudi langsung membuka bungkus telepon genggam barunya dan memasangkan kartu perdana ke dalamnya. Dibantu oleh penjaga toko yang lumayan cantik dan manis membuat Rudi sangat berantusias untuk sedikit menggoda wanita itu.
"Kak boleh bertanya?" Ujar Rudi yang hendak menggoda.
"Iya silahkan kak."
"Jatuh dari surga sakit tidak?"
"Saya tidak tahu kak, saya belum pernah jatuh dari sana. Kesana aja belum pernah"
Jawaban yang diberikan oleh penjaga toko itu sangat tidak sesuai dengan jawaban yang diharapkan oleh Rudi. Pria malang itupun buru-buru menyelesaikan semuanya dan langsung pergi dan tidak melanjutkan untuk menggoda wanita penjaga toko.
Karena tempat Rudi membeli handphone cukup dekat dengan tempat tinggal Marni, ia memutuskan untuk menemuinya terlebih dahulu dan meminta nomor teleponnya. Rudi mulai mencari angkot dan segera berangkat menuju tempat tinggal Marni.
__ADS_1
Sore masih cukup, angkot yang dinaiki oleh Rudi juga terasa gerah dan panas meskipun jendela dan pintu bagian belakangnya terbuka dengan lebar. Tidak hanya gerah dan panas, Rudi juga harus berdesak-desakan dengan penumpang lain yang yang terus bertambah.
"Geser-geser, kursi panjangnya masih muat tiga orang lagi." Teriak sang supir.
"Gila kamu ya pir! Sudah pir, sudah gak muat lagi." Teriak ibu yang sepertinya terjepit oleh penumpang lainnya.
Sembari mengamati penumpang lain yang saling berdesakan, Rudi mulai menikmati matahari yang perlahan mulai memerah jingga. Angkot yang sedang berjalan menuju arah timur itu membuat Rudi mendapatkan sebuah pemandangan terbaik dari arah barat. Sungguh indah pemandangan itu, beberapa manusia yang sedang bekerja menambahkan sensasi yang menyenangkan bagi Rudi.
Beberapa orang yang sedang telanjang dada mengangkat beberapa karung dengan semangat. Meskipun terlihat berat namun orang-orang itu masih sempat tertawa dan bercanda dengan temannya. Sebuah kebahagiaan sederhana yang tidak akan bisa dinikmati oleh para bos yang lebih suka terlihat rapih dan bersih dibalik meja kerjanya.
Beberapa saat kemudian Rudi sampai didepan gang kediaman Marni. Ia turun dan membayar ongkos angkot itu dan langsung berjalan menuju rumah Marni.
Pintu rumahnya terbuka lebar yang menandakan wanita itu sudah pulang kerja. Tanpa banyak mikir, Rudi langsung mengucapkan salam dan masuk ke dalamnya. Seperti yang diperkirakan oleh Rudi, Marni sudah ada dirumahnya. Wanita itu sedang berada didalam kamar mandi sedang mencuci pakaiannya.
"Rudi?" Tanya Marni yang sedang mencuci pakaian.
"Iya, kamu dimana?"
"Baiklah..."
Rudi duduk di sofa dan menyalakan televisi, menunggu Marni yang masih mencuci pakaian akan butuh waktu yang sangat lama.
Setelah beberapa acara televisi selesai, Marni keluar dari dalam kamar mandi dengan menggotong satu bak besar yang penuh dengan pakaiannya.
Rudi menatap Marni yang terlihat cantik seperti biasa dan iapun teringat dengan momen saat hendak mencuci pakaian wanita. Rudi tersenyum dan Marni menatapnya dengan penuh keheranan.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?"
"Hahaha, kamu cantik banget."
Mendengar Rudi memuji dirinya, Marni mengambil sedikit air dari dalam bak yang dia bawa dan menyiramkannya ke arah Rudi.
"Oh iya Rud, apa kamu masih belum mau rehabilitasi?" Tanya Marni yang sedang menjemur pakaian didepan rumah.
__ADS_1
"Sepertinya sebentar lagi, aku sudah memikirkannya."
"Baguslah jika begitu, kamu harus cepat-cepat menyudahinya."
"Siap ratu"
"Hahaha, kamu punya barangnya? Kalau kamu tidak punya, aku bisa memesannya dari temanku."
"Hehehe, terimakasih tapi tidak perlu repot-repot."
Rudi melanjutkan menonton televisi, ia menonton kartun yang sudah berulangkali ia tonton. Meskipun ending dari kartun itu sudah diketahui oleh Rudi, namun kartun itu masih tetap bisa menghiburnya.
Marni telah selesai dengan pakaiannya, ia masuk ke kamar mandi lagi untuk menaruh bak. Setelah itu ia duduk disamping Rudi dan langsung merebut remote control yang sedang digenggam oleh Rudi.
"Sudah besar masih suka nonton kartun!"
"Hahaha, lebih baik daripada nonton drama lebay"
"Hahaha... Setidaknya aku tidak terbawa suasana oleh apa yang sedang aku tonton."
Rudi mengalah dan ikut menonton acara kesukaan Marni yang merupakan sebuah drama percintaan dengan alur yang sangat membosankan bagi Rudi.
Mereka berdua menikmati acara televisi itu. Seiring berjalannya acara, mereka menyempatkan untuk mengobrol beberapa saat ketika sedang ada sponsor yang lewat dan mereka akan kembali fokus lagi saat acara drama itu dimulai lagi.
"Emang bener-bener ya, kok bisa cowoknya sejahat itu!" Ujar Marni saat sedang asik menonton televisi.
Rudi menatap Marni dengan senyuman yang sangat sinis. Marni menyadari senyuman sinis yang ada diwajah Rudi itu dan menanyakan apa maksudnya.
"Katanya tidak akan terbawa suasana?" Jawab Rudi.
"Terserah aku dong..."
Marni memalingkan wajahnya dan melanjutkan menonton drama yang sudah sampai di puncaknya.
__ADS_1