
Kuning mentega yang menutupi sekujur tubuh Marni berkibaran terhempas angin yang berhembus dari selatan. Wanita itu terlihat anggun dan menawan. Berjalan beriringan dengan Marni membuat sekujur tubuhnya bergetar.
Marni dan Rudi sedang berjalan masuk menuju sebuah gedung panti rehabilitasi milik negara. Rudi sudah membulatkan tekad untuk segera mengakhiri kecanduan yang ia derita.
"Tapi bagaimana jika kita tidak bisa melakukan rehabilitasi?" Tanya Rudi.
"Biarkan aku yang mengurusnya, kamu hanya perlu untuk menjalaninya saja."
"Hahaha, aku merasa seakan sedang menjadi anakmu"
"Hahaha, suka tidak jika kamu memiliki ibu seperti aku?"
"Emm... Ibuku lebih"
"Hahaha, kalau begitu biarkan aku jadi ibu dari anak-anakmu nanti."
"Hahaha, bisa diatur."
Mereka berdua masuk ke dalam gedung rehabilitasi itu dan langsung menemui dua resepsionis yang sudah berdiri dihadapan mereka.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau mengajukan permohonan rehabilitasi untuk teman saya"
"Boleh saya minta data dirinya?"
"Kebetulan teman saya tidak memilikinya, namun saya ada surat rekomendasi."
"Bisa saya lihat sebentar?"
Marni menyerahkan sebuah surat yang dibungkus didalam sebuah amplop putih dengan sebuah lebel kepolisian yang melekat di atasnya.
Salah satu dari resepsionis itu menerimanya dan langsung membawanya ke dalam sebuah ruangan yang ada dibelakang mereka.
Setelah cukup lama, resepsionis itu keluar lagi dengan membawa secarik kertas putih berisi beberapa ketentuan, aturan dan beberapa hal yang harus disetujui oleh Rudi.
Marni dan Rudi membaca semua yang tertulis pada selembar kertas itu. Setelah cukup memahami isinya, Rudi memberikan tanda tangannya dan memberikannya lagi kepada pihak resepsionis.
"Baiklah, mohon untuk menunggu terlebih dahulu" ujar resepsionis.
__ADS_1
Mereka berdua menuju kursi yang sudah disediakan ditempat tunggu yang ada di bagian kanan meja resepsionis.
Seperti dua orang bisu yang saling duduk berdekatan. Tidak ada obrolan apapun diantara mereka. Rudi sedang sibuk melihat salah satu resepsionis yang sedang melayani tamu lain, resepsionis wanita itu cukup pintar dalam menangani seorang tamu yang sedang mengajukan komplain.
"Dia cantik ya Rud?" Ucap Marni tiba-tiba.
"Lumayan" Rudi menjawab tanpa melihat ke arah Marni.
"Cantikan mana dengan aku?"
Rudi menatap wajah Marni.
"Buka cadarnya"
Marni membuka cadarnya dan Rudi berusaha membandingkan wajah Marni dengan wajah resepsionis wanita.
"Emmm... cantikan kamu"
Pujian Rudi itu membuat wajah Marni memerah, wanita yang sedang tersipu itupun menutup kembali cadarnya.
Selang beberapa saat, seorang resepsionis yang menangani permohonan mereka keluar dari sebuah ruangan dan memanggil nama Rudi.
Rudi mengikutinya dari belakang dan Marni tetap duduk ditempatnya. Dia hendak mengikuti Rudi, namun dicegah oleh resepsionis dan menyuruhnya untuk menunggu beberapa saat lagi.
"Nak Rudi?"
"Iya dok"
"Sudah berapa lama kamu menggunakan narkotika?"
"Kurang lebih satu bulan dok"
"Narkotika jenis apa?"
"Ganja dok"
Dokter itu menanyakan beberapa pertanyaan seputar kecanduan Rudi. Satu persatu pertanyaan diajukan oleh dokter itu dan dijawab dengan jujur okeh Rudi tanpa ada yang ia sembunyikan.
Setelah cukup dengan pertanyaannya, dokter itupun meminta Rudi untuk tidur di atas ranjang putih yang ada didalam ruangan itu.
__ADS_1
Dokter itu mengambil satu buah suntikan, jarum dan satu botol kecil cairan bening. Setelah menyiapkan semuanya, dokter itu membuka sebagian dari pantat Rudi dan mengelus sebagian kecil dengan sebuah kapas basah yang terasa dingin saat menyentuh kulitnya.
"Jangan tegang, rileks saja biar tidak berdarah." Ujar dokter itu sambil menyuntik Rudi.
Setelah menyuntikkan semua cairan, dokter itu mengelus kembali bekas suntikannya dengan kapas basah.
"Sudah, hari ini cukup sampai disini"
"Untuk rehabilitasi-nya akan dimulai kapan dok?" Tanya Rudi.
"Besok, besok kamu kesini dan mulai menginap disini."
"Menginap dok?"
"Iya, ada masalah?"
"Tidak dok, tidak ada masalah. Butuh waktu berapa lama dok?"
"Untuk kasus seperti yang nak Rudi alami mungkin hanya butuh dua mingguan."
Dokter itu menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Rudi. Dia cukup ramah dan sabar meskipun harus berhadapan dengan pasien yang cukup banyak tanya seperti Rudi.
Setelah semuanya selesai, Rudi berpamitan dengan dokter itu dan langsung pergi menemui Marni.
"Sudah selesai?" Tanya Marni.
"Sudah, tapi besok harus kesini lagi dan harus menginap selama dua minggu"
"Hahaha, enak dong bisa berhemat"
"Aku takut" wajah Rudi terlihat serius.
"Takut?" Demikian dengan wajah Marni.
"Iya"
"Takut apa?"
"Takut bakal Rindu kamu"
__ADS_1
"Buaya!" Marni mencubit pinggang Rudi sekuat tenaga.
"Hahaha, ampun... Ampunnn!"