ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Tiga Pasang Kekasih dengan Satu Janji


__ADS_3

Matahari sudah tenggelam begitu dalam, tidak ada lagi cahaya selain bintang, bulan dan api unggun yang menyala kembali.


Mereka menyiapkan makan malam, bernyanyi dan saling bertukar kata menceritakan beberapa hal lucu yang pernah terjadi didalam hidup mereka. Arga menjadi maskot dengan cerita lucu dan konyol paling banyak.


"Saat itu aku masih kecil, lewat didepan rumahku seorang penjual pentol yang paling ku suka. Saat itu aku masih berumur lima tahun. Tidak ada seorang pun didalam rumah saat penjual pentol itu lewat. Aku sangat kebingungan, aku ingin beli pentol tapi aku tidak punya uang. Parahnya lagi, aku sudah manggil si tukang pentol itu"


Arga berhenti bercerita sejenak dan meminum segelas alkohol yang sudah dituangkan oleh Laura.


"Jadi menurut insting yang aku miliki saat itu, yang harus aku lakukan adalah mencari dimana dompet ibuku disimpan. Aku mencari kesana-kemari dan akhirnya kutemukan dibawah bantal kamar ibuku. Aku langsung berlari menuju tukang pentol itu dan memberikan uang yang sudah aku ambil itu. Penjual pentol itu terlihat keheranan melihatku menyerahkan uang sebesar seratus ribu. Dulu aku masih belum mengetahui nominal uang. Penjual pentol itu bertanya kepadaku 'Mau beli berapa?' Dan ku-jawab 'semua'. Penjual pentol itu kebingungan dan langsung membungkus beberapa bungkus pentol dalam jumlah banyak. Setelah itu dia memberikan pentol yang sudah ia bungkus itu beserta uang kembalian. Saat itu aku kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menerima pentol yang dibungkus dalam beberapa kantong plastik besar. Aku saat itu hanya menganggap penjual pentol itu sedang baik dan memberikanku banyak pentol."


"Hahaha, terus kau makan semua kan, pantes sekarang jadi bodoh!" Elsa menyela.


"Hahaha, jika aku bodoh maka kamu lebih bodoh!"


"Hahaha, iya juga ya."


"Setelah itu pentol-pentol itu aku taruh di atas meja ruang tamu, aku hanya makan beberapa tusuk, dan uang kembaliannya aku taruh kembali didalam dompet ibuku. Setelah orang tuaku pulang, mereka kaget saat melihat begitu banyak pentol yang ada di atas meja. Mereka menanyakan dari mana aku mendapatkannya dan aku jawab 'di kasih sama tukang pentol' orang tuaku percaya dan ikut memakan pentol itu, mereka juga membagikan sisanya untuk anak tetangga. Pada akhirnya mereka mengetahui bahwa aku mengambil uang mereka, mereka marah kepadaku dan aku bilang kepada mereka 'Ibu kan juga ikut makan.' Ibuku malah semakin marah dan mengangkat-ku ke kamar mandi kemudian dia mencelupkan-ku ke dalam bak mandi hingga berkali-kali."


"Hahaha, bodoh!" Ejek Elsa lagi.


Arga kemudian mencoba untuk mencubit Elsa namun Elsa menangkisnya dan mereka kembali bertengkar kecil penuh dengan senyuman.


Satu-persatu mereka bercerita dan tertawa. Api unggun sangat membantu menghangatkan tubuh mereka diantara angin-angin yang mulai dingin dan menusuk tulang.


Cerita mereka semua larut dalam malam penuh kisah lucu itu. Tidak ada beban ataupun hal yang mengganggu kesenangan mereka.


...----------------...


"Mau nambah lagi?" Laura bertanya sambil mengangkat botol minuman ditangannya.


"Berapa botol yang kamu bawa Ra?" Rudi bertanya.


"Hahaha, aku bawa delapan botol."


"Hahaha, gila-gila" Rudi menggelengkan kepalanya.


"Jadi bagaimana? Gas lagi?"


"Hahaha, aku sih yes!"


"Yang lain?"

__ADS_1


"Yes!"


"Yes!"


Laura mengambil empat botol lainnya dari dalam tenda. Masih cukup sore untuk mengantuk, jam tangan Laura masih menunjukkan pukul delapan malam.


Api unggun yang mereka buat untuk malam terakhir ini cukup besar, bahkan lebih besar beberapa kali jika dibandingkan dengan api unggun yang mereka buat pada malam pertama.


Rudi beranjak setelah Laura selesai mengambil sisa minumannya, ia mengambil gitar dan mengajak teman-temannya bernyanyi bersama.


Lagu-lagu kemesraan dan melodi-melodi ketentraman menyengat kesedihan yang ada didalam hati setiap insang.


Bunga-bunga mawar memenuhi hati yang gersang. Minuman yang dibawa oleh Laura cukup klasik dengan rasa yang sangat unik. Menemani cerita dan irama, membuat mereka semakin tinggi melayang di angkasa.


Malam semakin gelap, kepala mereka sudah terisi halusinasi yang menyenangkan akibat empat botol minuman yang dikeluarkan oleh Laura.


Tiba-tiba saja Arga berdiri dan menyuruh teman-temannya untuk diam sebentar dan mendengarkan apa yang akan ia katakan.


"Aku ingin menjadikan Elsa sebagai kekasihku." Dia berkata dengan lantang.


"Hueeekkkss..!!" Elsa tiba-tiba saja muntah.


Setelah beberapa saat, Elsa menjadi lebih segar dan kemudian ia meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Andin.


"Ok, lanjut" ucap Elsa.


"Lanjut apa? Emang sudah baikan?" Andin bertanya.


"Iya sudah, kasian Argaku sayang"


"Hahaha sempat-sempatnya bercanda."


"Ok Arga. Lanjutkan hahaha" teriak Erlang.


"Tidak jadi, sudah tidak bersemangat lagi" jawab Arga.


"Oh... Jadi hanya segitu perjuanganmu untukku" kata Elsa.


Mereka semua tertawa mendengar celetukan Elsa yang sedang mengejek Arga. Mereka berdua adalah pasangan paling imut dan paling manis diantara ke-tiga pasangan disitu.


Arga kemudian berdiri lagi dan mengatakan apa yang tadi ia katakan kembali. Setelah itu ia duduk dan menyerahkan sebuah cincin yang ia buat dari lumut lembek yang entah ia dapat darimana.

__ADS_1


Elsa dan yang lainnya cengingisan hingga menahan nafas. Mereka memegang perut sambil tertawa terbahak-bahak.


Elsa mengiyakan permintaan Arga dan mereka resmi menjadi sepasang kekasih mulai detik itu juga.


"Ok lanjut sekarang giliran Rudi yang sepertinya sudah sudah sangat mesra dari tadi pagi." Ucap Erlang.


"Aku? Hueeekkkss!" Kata Rudi dengan berpura-pura muntah.


Belum juga Erlang melanjutkan perkataannya, Andin tiba-tiba saja memberikan Rudi sebuah ciuman dan memeluknya dengan erat.


Erlang hanya mengangguk seakan sudah mengerti maksud Andin yang ingin mengatakan bahwa mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih.


Arga, Elsa, Rudi dan Andin menatap Erlang dan Laura dan memberi isyarat agar Erlang mengajak Laura berpacaran. Erlang hanya menggelengkan kepalanya dan tidak berani menatap ke arah Laura.


Laura menatap lurus ke arah Erlang dengan tersenyum sumringah bak matahari didalam mata buaya.


"Sepertinya akan sangat sulit bagi seorang kernet untuk menjadi pacar janda mewah" ucap Erlang pelan.


Laura tetap duduk dan memandangi Erlang dengan tersenyum. Ia sangat menikmati kikuk Erlang yang semakin ia tatap maka semakin kaku tubuh Erlang.


Di tengah teman-temannya yang sedang asik menertawakan Erlang, Laura berdiri dan merangkul Erlang dari belakang.


Erlang kaget dan menjadi sangat kikuk, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara Laura memeluknya dari belakang, teman-temannya mulai memberi tepuk tangan dan siulan.


Erlang melepaskan pelukan Laura dan berbalik menghadapnya. Ia kemudian mengangkat alisnya seakan menanyakan sesuatu dan kemudian Laura membalasnya dengan mengangguk. Sepasang janda dan duda itu kemudian berpelukan.


...----------------...


...Bintang di angkasa mengakui gemerlapnya cinta...


...Mereka tunduk dengan seksama...


...Menyaksikan kisah yang ditulis manusia...


...Dengan tinta yang menawan dan kertas yang penuh dengan kesucian...


...Cinta begitu menyilaukan bintang-bintang...


...Rembulan...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2