ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Banyak Hal Mengambang


__ADS_3

Sudah dua hari Rudi tidak keluar dari dalam kamarnya. Ia tidak bekerja dan juga tidak menemui teman-temannya. Laura berada di rumahnya selama dua hari dan selama itu juga Laura selalu menjenguk Rudi di kamarnya dan menawarkan beberapa makanan dan minuman.


Erlang juga sangat menghawatirkan sahabatnya itu, ia setiap sore setelah bekerja langsung menghampiri Rudi yang ada di kos-kosan dan membawakannya makanan.


Sore itu adalah hari kedua Rudi mengurung dirinya. Erlang baru saja menjenguk Rudi dan sekarang dia sedang duduk berdua dengan Laura.


Mereka masih tidak percaya bahwa Andin telah meninggalkan mereka. Sebuah insiden yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.


"Ra, terus awasi Rudi ya..."


"Iya, dia masih belum mau bicara selama dua hari ini"


"Apa ada yang hal-hal mencurigakan yang dilakukan Rudi?"


"Setahuku tidak ada, Dia hanya bermain gitar, merokok dan tidak pernah keluar kamar sekalipun."


"Aku takut dia akan melakukan hal-hal buruk"


"Aku juga demikian"


Saat tengah asik mengobrolkan Rudi, tiba-tiba mereka melihat Rudi berjalan keluar dengan memakai jaket yang menutupi kepalanya. Laura melihatnya dan menyuruh Erlang untuk mengikutinya.


Erlang mengikuti Rudi dari belakang, jarak antara mereka cukup jauh. Rudi tidak menoleh ke belakang dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti oleh Erlang.


Setelah berjalan cukup jauh, Rudi masuk ke dalam sebuah toko dan Erlang menunggunya diluar. Erlang memutuskan untuk mengajaknya berbicara dan mencoba membujuknya untuk mau bergaul lagi bersama teman-temannya.


"Rud..." Sapa Erlang setelah Rudi keluar dari dalam toko.


"Eh kamu Lang"


Rudi terus berjalan dan Erlang mengikutinya.


"Nasi bungkus yang tadi aku bawakan sudah kamu makan?" Erlang bertanya.


"Iya sudah"


Mereka berjalan bersama hingga sampai dikamar Rudi. Erlang masuk ke dalam kamar Rudi, kamar yang dulunya bersih dan harum kini menjadi sebuah kamar yang kotor dan sangat kumuh. Setelah melihat kamar Rudi, Erlang langsung memahami kesengsaraan Rudi yang berusaha ia simpan sendiri.


Rudi mengeluarkan rokok yang baru saja ia beli, ia menawarkannya kepada Erlang dan sahabatnya itu mengambil satu batang.


"Mau beli minuman?" Tanya Erlang.


"Kamu yang beli"


"Baiklah tunggu sebentar."


Erlang turun dan menemui Laura.


"Ra pinjem motornya"


"Ada di garasi. Mau kemana?"


"Mau beli minuman buat Rudi"


"Alkohol?"


"Iya"

__ADS_1


"Dikulkas ada"


Laura masuk kedalam rumahnya dan keluar dengan dua botol besar yang masih penuh. Ia memberikannya kepada Erlang dan masuk ke dalam lagi.


Erlang masih menunggu Laura diluar hingga Laura keluar dengan membawa beberapa cemilan dan dua gelas kecil.


"Kamu tidak ikut?" Erlang bertanya.


"Tidak perlu, kamu aja"


"Baiklah"


Setelah menerima dua botol minuman dan beberapa cemilan, Erlang kembali menuju kamar Rudi.


"Kok cepat?"


"Hahaha, dikasih Laura"


Erlang duduk didepan Rudi dan membuka satu botol minuman yang langsung ia tuangkan ke dalam dua gelas kecil.


Tidak ada terlalu banyak obrolan antara dua sahabat itu, mereka lebih banyak diam dan menghabiskan waktu dengan hanya minum dan bermain gitar.


Kali ini Erlang yang bermain gitar dan Rudi hanya duduk diam dan memainkan bungkus rokok yang ada didepannya.


"Lang, kalau kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan?"


"Mungkin aku juga akan melakukan seperti apa yang kamu lakukan"


"Aku bingung, sangat bingung"


"Entahlah, seakan yang bisa aku lakukan sekarang hanya diam."


"Lakukan apa yang membuatmu senang Rud"


"Andai waktu itu aku melarang Andin untuk ikut jalan-jalan, mungkin Andin tidak akan mengalami hal itu"


"Jangan menyalahkan dirimu"


Erlang mengulurkan segelas minuman lagi dan Rudi meminumnya. Dua botol yang diberikan oleh Laura tersisa setengah botol. Kepala mereka sudah tebang tinggi dan perlahan Rudi mulai membuka pikirannya.


Rudi mulai mengatakan segala hal yang mengganggu pikiran dan hatinya kepada sahabatnya tanpa ada yang ia tutupi.


Erlang menanggapi semuanya dengan kedewasaan tanpa menyinggung ataupun berusaha menggurui Rudi.


Obrolan yang awalnya penuh dengan keseriusan dan pelampiasan perlahan mulai berubah menjadi sebuah obrolan penuh dengan candaan dan hiburan.


Hati Rudi mulai melunak dan otaknya mulai mendapatkan cahaya lagi. Waktu yang mereka habiskan untuk saling mengerti itu hampir lima lima jam. Dari jam lima sore hingga jam sembilan malam.


Erlang mulai membereskan bungkus-bungkus yang berserakan di dalam kamar Rudi dan pamit pulang setelah kamar Rudi terlihat lebih bersih.


"Lang terimakasih ya..." Ucap Rudi setelah Erlang berpamitan dengannya.


"Iya, kalau sudah lebih baik jangan lupa masuk kerja ya"


"Iya"


"Kerja bareng Anton seperti kerja dengan perawan"

__ADS_1


"Hahaha, Anton yang menggantikan aku?"


"Iya, tahu sendiri kan orang itu tidak mau kotor"


"Hahaha, pasti bawa sisir juga"


"Ohh... Justru itu barang wajib yang harus ia bawa"


"Hahaha..."


"Sudah ya, aku pulang dulu"


"Iya, hati-hati"


Erlang turun dan ia langsung menuju rumah Laura untuk berpamitan.


...----------------...


Setelah Erlang pergi, Rudi kembali dengan wajah sedih dan kusutnya. Entah apa yang ia pikirkan hingga berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan temannya itu.


Rudi mengambil rokoknya dan masuk kedalam kamar mandi. Duduk di atas toilet sambil menghisap rokok dengan sepenuh hati.


Rudi menghayati setiap hisapan asap yang masuk dari dalam mulut hingga paru-parunya. Asap itu mengepul didalam kamar mandi. Rudi mengepalkan tangannya dan meninju dinding kamar mandi dengan sekuat tenaga seakan sedang melampiaskan rasa kesalnya.


Beberapa kali ia meninju dinding kamar mandi hingga beberapa darah keluar dari tangannya dan menempel di dinding.


Kegelapan yang ada didalam hatinya seakan sedang merenggut akal sehatnya. Didalam pengaruh alkohol yang baru saja ia minum, Rudi tidak merasakan rasa sakit meski tangannya sudah berdarah.


Rudi menatap dinding yang masih ada bercak darahnya, ia mengusap darah itu dengan tangan kirinya yang sedang memegang rokok. Setelah dinding itu bersih dari darah, Rudi memukul dinding itu sekali lagi dengan sekuat tenaga. Dinding yang baru saja ia bersihkan itu bersimbah darah lagi. Darah yang cukup banyak, bahkan lebih banyak dari darah yang baru saja ia bersihkan.


...----------------...


...Purnama itu bagai kejora...


...Keindahannya patut disamakan dengan mata indahnya...


...Saatnya mengenang yang telah tiada...


...Mengingat kembali betapa indah dirinya...


...Merenung kembali seperti apa bentuk bibirnya...


...Kini ia telah layu dan mati bersama cahaya...


...Segala keindahannya telah lenyap bersama kenangannya...


...Kini cacing-cacing tanah akan berpesta...


...Menguliti dan menggerayangi tiap bagian tubuhnya...


...Malaikat pun akan jatuh cinta...


...----------------...


Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Rudi melepas seluruh pakaiannya, menutup rapat pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dia tidur tengkurap tanpa busana, dalam gelap kamarnya Rudi terlelap tanpa menghiraukan tangannya yang masih berdarah. Rasa perih dan gatal ditangannya tidak ia rasakan, seakan luka ditangannya tidak lebih sakit dari luka hati yang ua derita.

__ADS_1


__ADS_2