ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Benar-benar Berita yang Buruk


__ADS_3

Perasaan cemas Rudi semakin menjadi-jadi saat dia mencoba untuk menyelinap didalam kerumunan orang-orang dengan baju yang mirip dengan seragam Salsa itu. Rudi menyelinap dan melihat beberapa barang Salsa diangkut menggunakan sebuah motor pickup hitam.


"Ada apa ini?" Tanya Rudi kepada salah seorang yang mengenakan seragam seperti milik Salsa.


"Mas yang namanya Rudi?"


"Iya saya Rudi, ada apa ini?"


"Maaf mas tapi kami tidak bisa memberitahukannya"


"Lah? Kenapa? Apa yang terjadi dengan Salsa?


"Dia hanya meninggalkan sebuah surat dan mengatakan agar tidak menceritakan apapun kepada Rudi"


"Dimana surat itu?"


Orang itu memanggil seorang temannya dan meminta sebuah surat yang dia katakan tadi dan kemudian memberikannya kepada Rudi. Rudi meninggalkan kerumunan itu dan menuju kamarnya.


Rudi membuka surat itu, membacanya dan kemudian dia kebingungan dengan maksud dari isi surat yang diberikan oleh Salsa itu.


...----------------...


Hai Sayang...


Maaf ya... Tiba-tiba aku memberikan surat ini


Kita mungkin tidak akan bertemu lagi setelah ini


Lupakan aku dan hapus setiap kenanganmu dengaku


Tidak perlu mencariku, meskipun kau menemukanku


Kau tidak akan mengenaliku


Hehehe maaf ya...


...----------------...

__ADS_1


Rudi kebingungan, sangat kebingungan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, mencarinya dimana dan menanyakan kepada siapa. Rudi diam dan termenung cukup lama setelah membaca surat itu. Kemana dia harus mencari Salsa yang bahkan menanyakannya kepada teman-temannya pun percuma? Rudi beranjak dan keluar dari kamarnya. Dia berniat untuk menemui Laura namun Laura sedang tidak ada di rumahnya.


Rudi berpikir untuk mengunjungi tempat kerja Salsa, namun dia tidak mengetahui dimana Salsa bekerja. Yang dia bisa lakukan untuk saat ini hanya mengikuti kemana barang-barang salsa diangkut.


Rudi meminjam sepeda motor tetangganya dan mengikuti pickup yang membawa barang-barang Salsa.


Mobil itu melaju dengan sedang, Rudi mengikutinya pelan-pelan. Keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah gang, kemudian berhenti disebuah perumahan. Rudi berhenti cukup jauh dari mobil itu dan menunggu semua barang itu selesai diturunkan.


"Mas, barang-barang itu buat apa?" Tanya Rudi kepada seorang pemuda yang lewat didepannya.


"Wah, kurang paham saya mas. Tapi itu adalah kos-kosan, mungkin mereka baru membeli perabotan untuk kos-kosan mereka"


"Yang ngekos disana itu kerja di restoran ya?"


"Iya"


"Mas tahu dimana tempat kerja mereka?"


"Iya saya tahu, mereka kerja di salah satu restoran yang ada di sebelah toko bangunan didepan sana mas." Ucap pria itu sambil menunjukkan arah kepada Rudi.


"Oh, terima kasih mas"


Pria itu kemudian pergi meninggalkan Rudi. Tidak berpikir lama, Rudi langsung mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh pria tadi.


Rudi sampai ditempat itu dan mendapati bahwa restoran tempat Salsa bekerja sudah tutup, dia mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada disekitar restoran itu. Tidak ada informasi yang berguna, semua orang hanya mengatakan bahwa restoran itu tutup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang mengetahui apa alasan restoran itu tutup lebih cepat. Rudi memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan menenangkan pikirannya.


Rudi berusaha untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh. Rudi mandi dan menenangkan pikirannya, dia mencoba membaca kembali surat yang diberikan Salsa.


"Sa, apa yang terjadi? Apa maksut suratmu ini?"


Lama Rudi mengamati surat itu, menyalakan satu batang rokoknya dan duduk diam terpaku.


Hari sudah mulai gelap, angin berhembus dengan kencang dan udara mulai dingin. Rudi kehilangan sedikit dari kesabarannya, dia mencoba melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul tembok kamarnya berulang kali. Dia masih tidak ingin berpikiran macam-macam tentang apa yang terjadi kepada Salsa.


Deru suara mobil yang terdengar seperti suara mobil milik Laura melenyapkan rasa kesal Rudi. Tanpa berpikir panjang ia langsung menghampiri Laura.


"Laura, kau tahu apa yang terjadi dengan Salsa?" Tanya Rudi dengan sedikit gemetaran.

__ADS_1


"Ada apa Rud? Aku baru pulang"


"Salsa pergi Ra, semua barangnya sudah diangkut dan dia hanya meninggalkan sebuah surat."


"Ayo masuk ke dalam rumah" ajak Laura yang kebingungan dengan sikap Rudi.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah Laura. Laura mengganti bajunya dan menyiapkan dua gelas minuman untuk Rudi dan kemudian duduk bersebelahan dengan Laura.


"Sekarang ceritakan semuanya pelan-pelan" kata Laura.


Rudi menceritakan semuanya, dimulai dari saat dia baru pulang kerja dan melihat keramaian didepan kamar Salsa hingga saat dia mendatangi tempat kerjanya.


"Dimana suratnya sekarang?"


Rudi menyerahkan surat dari Salsa dan menunggu bagaimana pendapat Laura. Rudi sangat berharap Laura dapat membantunya lagi kali.


Laura membaca surat itu dan kemudian diam untuk sejenak dan menatap Rudi dengan iba. Mata Laura seakan mengatakan bahwa Rudi kali ini benar-benar harus melupakan Salsa. Rudi masih tetap diam dan menunggu Laura mulai bicara.


"Rud, besok jangan cari Salsa dulu. Tunggu beberapa hari kemudian"


"Hah? Kenapa Ra?"


"Menurutku akan sia-sia jika mencarinya lagi ditempat kerjanya besok"


"Apa yang harus ku lakukan Ra?"


"Tenangkan dirimu dulu, jangan berpikiran macam-macam. Aku juga akan membantumu mencari informasi tentang tempat Salsa bekerja."


"Baiklah Ra"


Mereka melanjutkan perbincangan, terasa sangat canggung. Laura seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang dia pahami dari surat Salsa dan apa yang terjadi denganya di tempat kerja, namun Laura tidak mengatakannya kepada Rudi.


Menurut Laura, akan lebih baik menunggu Rudi sedikit tenang terlebih dahulu agar dia tidak terlalu tertekan saat mengetahui kejadian sesungguhnya. Laura merasa sangat kasihan dan khawatir dengan keadaan Rudi kali ini.


Rudi memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menenangkan diri sesuai dengan arahan Laura. Dia duduk didepan kamarnya dan menyalakan rokok. Rudi menahan agar dirinya tetap tenang dengan menghisap rokok terus menerus.


Angin malam seakan tidak menghiraukan perasaan rudi dan terus berhembus dengan kencang. Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Rudi masuk ke dalam kamarnya dan berusaha melelapkan dirinya di atas kasur dan berharap berita baik akan mendatangi dirinya esok hari.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2