ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Jujur


__ADS_3

Rudi menceritakan semua yang terjadi kemarin malam, alasan mengapa Laura mengajaknya, siapa saja yang ditemui Rudi dan juga kejadian yang membuat Rudi hampir beradu dengan truck tronton.


Salsa mendengarkan semuanya tanpa menyela, dia menatap serius Rudi. Nampak sekali penyesalan dimatanya dan Salsa memegang kedua tangan Rudi yang hampir menangis. Mereka saling menatap, mendekatkan kepala dan kemudian Salsa memeluk Rudi dengan erat dan menenangkannya.


Perlahan suasana berubah Rudi menjadi lebih tenang dan kembali tersenyum.


"Rud, aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu"


"Apa itu?"


"Sebuah cerita masa laluku yang selalu membuatku merasa takut"


"Tidak perlu kau ceritakan jika itu akan membuatmu sedih"


"Tidak! Ini adalah satu rahasiaku yang tidak pernah aku ceritakan kepadamu"


"Baiklah ceritakan"


Salsa memandang kosong lautan yang berisik dengan berisiknya ombak menabrak karang, Salsa mengambil nafas dalam-dalam dan memulai cerita.


"Saat itu aku masih kecil, Lahir sebagai orang tidak punya. Tepat saat malam hari pada tanggal 15 Juli 1998-an, Tepat saat aku dan kedua orang tuaku terlelap di atas ranjang kayu buatan ayahku. Malam itu begitu sunyi tidak ada suara apapun selain pohon-pohon bambu yang berada di belakang rumahku. Tiba-tiba saja sebuah api besar yang tidak diketahui oleh ayah dan ibuku membakar rumahku yang serba terbuat dari kayu dan anyaman bambu...".


Salsa menghentikan ceritanya, matanya sembab dan mulai meneteskan air mata. Rudi melihat wajah Salsa pun tidak tega dan menyuruhnya untuk berhenti.


"Tidak Rudi, Cerita ini selalu saja menghantuiku. Aku tidak bisa terus-terusan memendamnya", Ucap Salsa terbata-bata sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.

__ADS_1


"Ayah dan ibuku baru menyadari api itu saat rumah sudah dikelilingi oleh api, angin dan bambu membuat api lebih cepat membakar rumahku, ayah ibuku panik dan mencoba mencari jalan keluar, namun mereka tidak bisa menemukan apapun untuk keluar beberapa menit berlalu mereka terus panik hingga menemukan akal untuk hanya menyelamatkanku mereka mengambil selimut dan beberapa pakaian, mencelupkannya kedalam air yang ada disebuah ember kecil tang biasa kita gunakan untuk mandi, tidak ada saluran air, kita harus menimba untuk disumur yang berada diluar rumah dan jaraknya lumayan jauh. Setelah baju-baju basah, mereka memakaikannya kepadaku juga selimut yang tidak tebal dan beberapa helai kebaya. Aku hanya duduk dan menangis saat mereka mencoba menolongku, tangan dan tubuh mereka penuh luka bakar, wajah ibuku bahkan tidak bisa ku kenali lagi. Mereka menutup mataku dan memelukku yang sudah terbuntal oleh kain dan selimut aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan mereka. Hingga beberapa saat terdengar suara ramai dari luar, aku masih terdiam didalam selimut dengan beban yang mulai meringan, seperti ada beban yang menghilang. Saat itu aku tidak ingin memikirkan apa yang terjadi dengan kedua irang tuaku yang sedang memelukku. Hangat mulai terasa menjalar dari punggungku aku tidak bisa apa-apa, aku hanya diam dan menangis dan tak lama setelah itu aku ambruk dan pingsan". Salsa meminum es dan menyeka kembali air matanya.


Rudi masih menatap Salsa, seperti tidak percaya dengan kisah yang barusan ia dengar. Bak film-film yang biasa ia tonton, kejadian antara hidup dan mati. Sebuah malapetaka yang memisahkan anak dengan orang tuanya, sebuah pengorbanan nyata seorang ayah dan ibu untuk anaknya. Rudi bahkan meneteskan air mata, membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi padanya. Tak lama setelah Salsa mulai tenang dari sesenggukan dan nafas yang mulai susah. Salsa melanjutkan ceritanya.


"Entah berapa jam aku pingsan, hari sudah terang dengan matahari yang sudah melambai dari barat. Aku beranjak dari tempat tidur yang ku gunakan untuk tidur, aku tidak tahu rumah siapa itu dan aku tidak peduli. Aku hanya berlari keluar rumah dan menghampiri rumahku yang sudah tidak tersisa apapun, hanya tumpukan arang yang masih mengeluarkan asap, aku hendak berlari ke tumpukan arang itu aku ingin mencari ayah ibuku namun beberapa orang mencegahku dan memelukku aku mendengar seseorang mengatakan 'Tidak ada yang tersisa, mereka sudah mati, hanya anaknya yang selamat' Semakin menjadi tangisku"


Salsa berhenti bercerita dan menatap Rudi yang sedang melihatnya dengan serius dan wajahnya sembab oleh air mata yang ia seka setiap kali kali menetes.


"Gimana? Cerita hidupku keren kan?", Ucap Salsa dengan senyum dan berusaha menjadi wanita ceria kembali.


Rudi yang melihat Salsa memaksakan dirinya agar tidak terlihat sedih itupun mencubit Salsa dan memeluknya dengan erat dan lebih erat. Di balik keceriaan yang selalu membuat Rudi merasa senang itu terdapat cerita yang mengerikan dan selalu menghantuinya, tidak terbayangkan bagaimana dia bertahan hingga sekarang. Rudi tidak ingin menanyakan apapun lagi. Dia hanya ingin memeluk Salsa lebih lama, sesekali dia mengelus lembut rambut Salsa yang terkuncir seperti ekor kuda itu.


Mereka berpelukan cukup lama dan sangat lama. Warung sudah hampir sepi mereka melihat sekitar, nampaknya ada beberapa orang yang melihat mereka, mereka saling melepaskan pelukan dan membersihkan sisa-sisa air mata. Rudi mengajak Salsa pulang dan Salsa mengangguk. Rudi membayar semua pesanan dan mengajak Salsa pulang.


Mereka berjalan ditepian pantai, Saling diam dan bergandengan tangan. Tidak mengucapkan sepatah katapun. Hingga Salsa mencoba mencairkan suasana dengan menabok pantat Rudi dan berlari. Rudi mengejarnya dengan senyuman yang mengatakan "Salsa ingin bermain dan melupakan semuanya, baiklah".


Rudi menggendong Salsa cukup lama hingga Salsa tertidur pulas di punggungnya. Berjalan dengan santai menyusuri jalan dan melihat lampu-lampu yang menyala terang, angin yang tenang dan aroma parfum Salsa yang kalem membuat Rudi tidak merasa kelelahan. Rudi berjalan dengan tenang dan sesekali memikirkan "Apakah Salsa bekerja di restoran untuk menghilangkan ketakutan?", "Apakah aku harus cepat-cepat memiliki hubungan dengannya?", "Apakah Salsa akan marah jika mengetahui asal usul ku?". Rudi terpikirkan banyak hal, mempertanyakan banyak hal hingga dia merasa lelah dan mencari tukang becak.


Setelah menemukan tukang becak yang sepertinya masih mengejar target dari istrinya, Rudi meletakkan Salsa dengan pelan, duduk disebelahnya dan meletakkan kepala Salsa dipundaknya.


"Pak, jalan pelan-pelan aja ya", ucap Rudi kepada tukang becak.


Tukang becak itupun mengangguk dan memulai mengayuh becaknya dengan pelan.


...****************...

__ADS_1


...Masih adakah insan yang percaya akan cinta?...


...Sosok cinta yang membutakan semua indra perlahan mulai redup cahayanya...


...Cinta menjadi ajang lomba mencari yang paling berpunya...


...Cinta kehilangan ketulusan dan keindahan...


...Cinta kehilangan warna dan bunga-bunganya...


...Masih adakah yang percaya cinta akan datang dan membutakan semua panca?...


...Ataukah sudah tiada lagi yang peduli saling mencintai dan memilih pergi bersama yang paling bermateri?...


...***************...


Cukup lama tukang becak mengayuh dan akhirnya sampai didepan kamar Salsa, Rudi menyodorkan uang yang sangat lebih dan berucap terimakasih. Nampak bahagia tukang becak itu melihat uang yang diberikan oleh Rudi.


Rudi membangunkan Salsa dan mengantarkannya ke depan pintu kamarnya. Salsa merogoh tasnya mengambil kunci dan membuka pintu.


Setelah hendak masuk Salsa kembali keluar dan mendekati Rudi.


"Rud, merem?"


Rudi menutup kedua matanya dan kemudian "CIUUUPPPSSS". Terdengar seperti kentut, namun itu tadi adalah bibir mungil salsa yang mendarat di pipi Rudi.

__ADS_1


Rudi membuka matanya dan memegang bekas bibir Salsa sedangkan Salsa tanpa sepatah kata masuk kembali kedalam kamarnya. Rudi juga pergi meninggalkan kamar Salsa, pergi ke kamar dan merebahkan badan tanpa memikirkan apapun. "Hanya keindahan hari ini", begitulah isi hati Rudi.


__ADS_2