ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Sebuah Berita Buruk


__ADS_3

Akhirnya semua kembali seperti semula. Rudi sekarang sudah berangkat kerja bersama Salsa lagi, namun kini hubungan mereka bukan lagi sekedar teman, tentunya Rudi menjadi lebih mesra dengan Salsa dan begitu pula sebaliknya.


Mulai hari itu juga Salsa mulai membawakan bekal makan untuk Rudi. Rudi seperti sedang menjadi seorang anak sekolah yang dipaksa oleh ibunya untuk membawa bekal yang dibungkus dengan wadah berbentuk kartun.


Erlang yang mengetahui Rudi membawa sebuah bekal yang dibungkus plastik pun tidak segan-segan untuk mengoloknya dan begitu pula Pak Darto sang supir bus. Rudi hanya ikut tersenyum melihat teman-temannya mengoloknya.


"Rud, bekalnya jangan lupa dihabisin ya. Nanti ayamnya kejang-kejang!" Ejek Erlang.


"Iya kakak, kakak kalau lapar bilang juga ya! Ini ada nasi se-baskom"


"Hahaha... Nasi doang se-baskom! Ikannya gak ada!"


"Hahaha..."


Erlang dan Rudi kembali bekerja setelah saling mengolok satu sama lain. Rudi menaruh bekalnya di dasbor depan kaca bus yang ada sebuah laci yang cukup lebar untuk menampung bekalnya yang cukup besar. Sebenarnya Rudi tidak biasanya membawa bekal karena dia jarang makan siang saat sedang bekerja, namun Salsa sudah membuatkan sebuah bekal dan Rudi menghargainya.


Rudi dan Erlang kembali ke bus dan memulai perjalanan pertama. Rudi menagih ongkos penumpang untuk kali ini. Sedangkan Erlang menjaga pintu bagian belakang.


Erlang cukup senang melihat Rudi hari ini yang kembali ceria dan bahkan lebih ceria dari hari biasanya. Dia merasa memang begitulah seharusnya temannya itu, bukan seorang pendiam yang suka ling-lung dan bingung.


Hari ini cukup terik dan panas. Bahkan bus yang melaju dengan kencang dengan jendela yang dibuka lebar pun masih tidak bisa membuat seisi dalam bus lebih sejuk. Rudi berdiri diamping-amping pintu bus dan mengeluarkan kepalanya yang penuh dengan keringat agar lebih merasakan angin.

__ADS_1


Namun saat dia menatap keluar jendela, dia melihat sosok wanita yang pernah dia sapa sebelumnya. Sosok wanita yang pernah membuatnya penasaran. Dia adalah Marni, namun saat itu Rudi masih belum mengetahui jika Marni adalah wanita yang pernah dia temui di bus saat itu.


Rudi seakan ingin menghampiri wanita itu, namun bus melaju sangat kencang dan tidak tidak ada tempat untuk menepi. Dia hanya menatap Marni dari kejauhan dan semakin jauh oleh kecepatan bus yang sangat kencang. Hanya butuh beberapa detik dan Marni hilang dari pandangannya. Pada detik-detik terakhir, Marni sempat menatap Rudi yang sedang mengeluarkan kepalanya, dan Marni nampaknya tersenyum kepada Rudi.


Entah kenapa dia merasakan sebuah sensasi yang berbeda saat dia melihat marni, tidak seperti saat dia melihat Salsa yang senyumnya membahagiakan, senyuman Marni lebih ke sebuah perasaan dingin dan hangat dalam satu ruangan. Sebuah penasaran dan perasaan yang beraduk dalam satu nampan.


Rudi menyelesaikan lamunannya tentang Marni dan kembali menatap ke depan.


"Rud telpon Sarno" perintah Pak Darto.


"Ok!"


...****************...


...Bagaimana seorang pujangga memainkan kata...


...Itu adalah rahasia...


...Kata-kata indah yang mereka ungkapkan...


...Berasal dari sakit hati yang terpendam dalam...

__ADS_1


...Disampaikan dengan rasa sakit...


...Dijelaskan dengan hati yang masih sakit...


...****************...


Bus sudah berada di pangkalan terminal, Rudi dan Erlang melakukan aktivitas seperti biasa, menuju warung dan memesan kopi kesukaan mereka. Erlang melihat Rudi makan dengan lahap dan tiba-tiba suara dari perutnya terdengar oleh Rudi. Rudi menawarkan makanannya kepada Erlang namun dia menolaknya dan memesan makanannya sendiri. Sebuah sayur lodeh dengan tempe goreng dan sambal pecel yang masih hangat tersaji di atas piring putih dengan segelas air putih.


Mereka berdua makan bersampingan, saling bertukar lauk dan saling menyuapi dengan becandaan menyuap seperti pesawat terbang.


Pekerjaan sudah melambaikan tangan. Mereka menghabiskan makanan dan kembali bekerja.


Tidak ada hal sepesial hari selain sebungkus nasi yang dibawakan oleh Salsa. Penumpang juga tidak ada yang memberikan kesan yang berbeda. Hanya satu dua dari mereka yang cukup cakap untuk memberikan obrolan yang menyenangkan bagi mereka.


Sudah pukul 16:30-an Rudi sudah selesai bekerja dan mulai berangkat pulang. Saat perjalanan pulang, angkot yang dinaiki oleh Rudi menyerempet sebuah truk sampah yang mengakibatkan cek-cok antara supir angkot dan supir truk. Meskipun tidak terlalu lama mereka cek-cok, namun keadaan saat itu cukup ramai dan membuat beberapa orang mengerumuni mereka.


Semua masalah berhasil diselesaikan dengan kekeluargaan dan tidak ada kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.


Rudi turun dari angkot setelah angkot sampai didepan gedung kos-kosan. Rudi melihat ada sebuah keramaian didepan kamar Salsa. Rudi merasakan hal buruk sedang terjadi. Rudi menghampiri kamar Salsa dengan perasaan cemas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2