ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Cinta Adalah Rasa Sakit


__ADS_3

Rudi merebahkan badannya di atas pasir yang putih dan bersih. Dia menatap langit dan bintang-bintang yang bertaburan.


Setelah mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Andin, Rudi menjadi sedikit gelisah. Andin masih bermain dengan bara yang ada di depannya. Ia tidak memandang Rudi, dia juga tidak mengajak Rudi bicara lagi. Andin seperti sedang berada dalam sebuah labirin dengan dua jalan menuju kesengsaraan. Dia diam dan menampakkan sebuah kelelahan yang panjang.


"Kenapa kamu ingin jatuh cinta lagi?" Rudi bertanya.


"Hati yang telah usang menginginkan sebuah lentera yang terang."


"Lampu-lampu jalanan juga sebuah penerangan"


"Lampu jalanan tidak bisa diajak pulang"


"Bisa, tinggal dipotong dan bawa pulang"


Andin menoleh ke arah Rudi yang sedang rebahan. Dia menatap Rudi dengan wajah kesal dan memukulnya dengan batang yang ia gunakan untuk bermain bara. Batang itu masih menyala dengan bekas api bara. Rudi kesakitan dan mengelus bekas kulitnya yang masih panas.


"Sakit!"


"Rasakan!"


Andin kemudian membuang batang kayu yang ia gunakan untuk memukul Rudi jauh-jauh. Kemudian dia ikut merebahkan badan di samping Rudi dan mengambil tangan gagah milik Rudi untuk dijadikan bantal.


Mereka berdua saling menatap bintang di bawah langit yang hitam. Gula-gula kecil penghias langit itu seakan memandang mereka balik. Rudi diam dan menikmati langit dan aroma parfum Andin yang unik.


Andin juga demikian dia masih menahan beberapa pertanyaan didalam hatinya. Seperti dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.


"An, terakhir kali kamu patah hati kapan?"


"Yang ku ceritakan dulu, itu adalah yang terakhir"


"Jadi sudah sangat lama kamu sendiri?"


"Iya"


"Sesakit apa?"


"Bagaimana aku menggambarkan ikan tanpa sirip namun tetap berusaha untuk berenang melawan arus deras?"

__ADS_1


"Itu lebih menyakitkan dari sebuah kematian"


"Hahaha, jika kamu? Kapan terakhir kau patah hati?"


"Saat berpisah dengan Salsa"


"Selain itu, sebuah patah hati akibat ditinggalkan seorang? Kapan kau merasakannya?"


"Sudah cukup lama, saat aku hendak melanjutkan kuliah."


"Ceritakan"


Rudi menceritakan patah hati masa mudanya kepada Andin. Ia bercerita tentang seorang wanita yang sudah ia cintai sejak kelas 1 sekolah menengah atas dan baru bisa memiliki wanita itu setelah kelas 3 SMA. Seorang wanita yang menjadi bunga sekolah berhasil ia dapatkan hanya dengan mengajaknya belajar bersama.


Rudi menceritakan betapa konyolnya masa-masa itu. Seperti Rudi yang ingin memiliki sebelas anak untuk satu klub bola dan beberapa impian-impian konyol cinta monyet pada umumnya.


Hingga suatu saat dimana kelulusan sekolah menengah atas menghadapi mereka. Rudi yang sedang berfoto dengan keluarganya tiba-tiba saja dihampiri oleh seorang wanita lain dan kebetulan saat itu kekasihnya mendapati dirinya.


Kekasih Rudi marah melihat kejadian itu dan memutuskan untuk kuliah ditempat lain. Rudi mengetahui kekasihnya yang ingin kuliah ditempat berbeda dengannya pun khawatir dan panik. Ia mencoba mengajaknya mengobrol dan meminta alasan kenapa ia ingin kuliah ditempat lain.


Rudi kehilangan wanita itu hanya karena sebuah kesalahpahaman. Seharusnya dia akan berada dalam satu universitas dan menikah saat lulus.


Rencana mereka begitu matang dan mereka juga saling berkomitmen untuk tetap bersama dari awal mereka menjalin cinta.


Andin masih mendengarkan cerita Rudi hingga selesai. Ia tersenyum mendengar cerita konyol Rudi, apalagi cara Rudi menceritakannya seperti sedang kikuk dan salah tingkah.


Ia menikmati kebersamaannya dengan Rudi kemudian ia memeluk Rudi yang sedang menatap langit dan bercerita. Rudi hanya diam dan melanjutkan ceritanya hingga selesai.


Setelah cerita Rudi selesai, Andin kembali duduk dan menuangkan minuman yang masih tersisa. Satu gelas untuk Rudi dan satu gelas untuk dirinya sendiri. Rudi kemudian duduk dan menyalakan sebatang rokok.


"Kamu gak merokok?" Tanya Rudi.


"Tidak"


"Baiklah"


"Tapi pengen nyoba"

__ADS_1


"Hahaha, jangan. Nanti kamu batuk"


"Hahaha ayolah!"


Rudi kemudian memberikan sebatang rokok tang sudah ia nyalakan kepada Andin. Andin mencoba menghisap rokok yang diberikan oleh Rudi.


Ia menghisap pelan dan tidak lama setelah itu ia batuk-batuk. Rudi tertawa melihat tingkah Andin dan mengambilkannya sebotol air untuk diminum.


"Rud, kamu tahu cara merokok yang menyenangkan?"


"Bagaimana?"


"Hisap rokokmu terus tutup matamu"


"Terus setelah itu?"


"Nanti aku kasih tahu."


"Baiklah"


Sebelum melakukan apa yang diminta oleh Andin, Rudi menuangkan minuman terakhir. Satu gelas penuh dengan alkohol. Mereka berdua saling bersulang dan meminumnya.


Setelah itu Rudi menghisap rokoknya dalam-dalam dan memejamkan mata seperti apa yang Andin minta.


Mereka berdua sudah mencapai puncak halusinasi efek dari alkohol. Rudi menutup matanya dan tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Andin.


Setelah beberapa saat, Rudi merasakan sebuah nafas lain yang berada tepat didepannya. Dalam sekejap sebuah bibir lembut dan basah menyentuh bibirnya.


Mereka kelam dalam remang-remang malam yang menyenangkan. Lembut bibir Andin menyatu dengan asap yang keluar dari sela-sela sentuhan bibir mereka.


Mereka berdua berdiri, memeluk erat satu sama lain. Rudi masih menutup mata. Ia merangkul pinggul Andin, Andin hanya diam dan tetap menaruh bibirnya didepan bibir Rudi.


Malam itu, dua merpati menyatu dalam hening dan sunyi-nya malam kelabu. Biru-biru langit menjadi saksi tanggap kemesraan mereka.


Tidak ada gangguan dalam bintang-bintang mawar mereka. Suara ombak menjadi musik yang menghibur telinga bisu mereka.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2