ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Pemandangan Yang Indah


__ADS_3

Malam minggu ini akan sangat menyenangkan. Rudi pulang dari terminal dan Andin sudah menunggunya di rumah Laura dan sedang tertawa terbahak-bahak entah apa yang sedang mereka berdua tertawakan.


Rudi langsung menghampiri mereka berdua. Laura menawari Rudi minuman dan Rudi meminta air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang sudah sangat kering.


"Sudah lama kamu An?" Rudi bertanya.


"Baru saja datang."


Laura keluar dari dalam kamarnya dengan membawa satu botol besar air dingin yang diminta Rudi. Laura kemudian duduk menanyakan keberadaan Erlang kepada Rudi. Rudi menjawab bahwa Erlang akan ke rumah temannya yang sedang sakit.


"Ra kamu mau ikut kita nanti?" Tanya Andin.


"Kemana?"


"Kencan, hahaha."


"Tidak, tidak usah. Mending tidur daripada mengganggu kalian."


"Hahaha"


"Coba telepon Erlang, ajak dia kencan juga" ucap Rudi.


"Tidak perlu, dia mungkin sedang menemani temannya yang sedang sakit. Memangnya kalian mau berangkat jam berapa?"


"Nanti setelah Maghrib"


"Masih lama. Disini aja dulu, temenin aku"


Mereka kemudian mengobrol kesana-kemari, mulai dari obrolan serius hingga obrolan tentang mengapa ikan suka berenang melawan arus.

__ADS_1


"Menurutku ikan-ikan itu butuh tantangan. Mungkin juga hidup mereka terlalu membosankan" ucap Andin.


"Tidak, tidak, tidak! Ikan suka berenang melawan arus itu dikarenakan temannya ada yang kentut. Jadi mereka berusaha kabur meskipun harus melawan arus." Ucap Laura.


"Hahaha, ikan kalau kentut bunyi tidak?" Kata Rudi.


"Hahaha, bunyinya mungkin akan sama dengan saat kita kentut didalam air."


"Bluukk... bluk... blukbluk..." ucap Laura dengan mulut manyun berusaha menirukan suara kentut ikan.


Obrolan absurd mereka berlanjut hingga cahaya matahari menguning dan mulai hilang. Rudi kemudian berpamitan hendak mandi terlebih dahulu. Sedangkan Andin masih melanjutkan obrolannya dengan Laura.


Rudi berjalan keluar melewati pagar rumah Laura dan langsung menuju kamarnya. Rudi membuka pintu kamarnya dan melepas kaosnya. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mengguyurkan air ke sekujur tubuhnya.


Setelah selesai memakai sabun, sampo dan menyikat giginya, Rudi keluar dari sana dengan handuk yang menutupi setengah tubuhnya. Dari pusar hingga lutut.


"Apa?" Tanya Rudi


"Buka" Jawab Andin


"Yakin?"


"Hahaha, jangan. Aku ingin mandi disini."


"Yasudah sana mandi. Nanti kita langsung berangkat."


"Aku mau pake handukmu" ucap Andin dengan manjanya.


"Buat apa?"

__ADS_1


"Biar ada yang bisa kamu peluk pas aku tidak disini"


"Meluk handuk?"


"Iya, sambil bayangin itu aku. Hahaha"


"Hahaha, iya iya aku paham. Sekarang cepat masuk ke kamar mandi. Aku mau pakai baju"


Andin melepas baju lengan panjangnya dan langsung masuk ke kamar mandi.


Rudi juga langsung memakai bajunya dan memberikan handuknya kepada Andin. Rudi kemudian keluar kamar dan menyalakan sebatang rokok. Ia tiba-tiba saja menatap kosong ke depan dan membayangkan beberapa hal yang ia bisa lakukan saat ini. Ia tersenyum, pikirannya melayang dan membayangkan bagaimana jika saat keluar kamar mandi dan langsung melepas handuk dihadapannya.


Pikiran yang cukup kotor namun membuatnya senyum-senyum sendiri di depan kamarnya. Sebenarnya ia bisa saja meminta hal itu kepada kekasihnya, namun dia masih memiliki harga diri dan hanya membiarkan pikiran kotornya tetap dalam lingkaran otaknya.


"Rud, punya deodorant?" Tanya Andin dari dalam kamar.


Rudi membalikkan badannya dan mentapa sebuah keindahan yang jarang ia lihat. Sebuah susunan daging dengan kulit putih mulus yang baru saja tersiram oleh air. Rambut lurus dan basah yang melekat pada kulit-kulit putih dan yang paling indah dan menjadi titik inti tatapan Rudi adalah belahan dari dada Andin yang cukup besar dan indah.


Handuk yang ia ikat tepat dibelahan itu, membuat sebuah gambaran keindahan tertentu. Andin membuat Rudi terpaku sekaligus terpukau. Pria mematung menatapi kekasihnya cukup lama.


"Rud! Punya tidak!?”


"Ahh... Punya, punya. Ada di laci lemari paling bawah."


Andin kemudian mencari barang yang ia cari. Sedangkan Rudi membalikkan badannya dan kembali menatap halaman kos-kosan. Ia menghirup dalam-dalam udara dan menghembuskan-nya sekaligus.


Ia sadar bahwa tindakannya itu akan membuat Andin curiga dan berpikiran macam-macam tentang dirinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2