
Setelah dua minggu lebih tiga hari dan beberapa, Rudi tidak lagi bertemu Marni. Setiap hari ia berharap Marni akan muncul di terminal lagi dan mengajaknya mengobrol untuk kesekian kalinya.
Suara lembut Marni dan pakaian yang membalut setiap lekuk tubuhnya, membuat Marni semakin menjadi pelangi dan pelita bagi Rudi.
Marni adalah wanita ke-dua setelah Salsa yang berhasil membuat hatinya berdebar dan susah untuk dihilangkan dari ingatannya.
Jika Salsa adalah hujan maka Marni adalah pelangi, dan pelangi tidak selalu datang setelah hujan. Begitulah analogi Rudi untuk ke-dua wanita cantik itu.
Didepan pintu kamarnya, Rudi bersantai setelah pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Rudi menikmati hari itu yang kebetulan juga hari Kamis. Membuatnya mengingat kembali kenangan manis yang pernah datang dihari kamis.
Rudi masih mengingat dengan jelas wajah Marni yang ia tatap dari dekat. Tulisan alamat yang diberikan oleh Marni masih ia simpan. Ia belum memutuskan untuk mendatangi alamat yang diberikan oleh Marni, meski ia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi.
"Rud! Mikirin apa?"
Entah darimana, tiba-tiba saja Laura berada disisinya saat sedang asik memikirkan bidadari yang sedang dan pernah ada didalam hidupnya.
"Sudah lama kamu disini?"
"Hahaha, baru juga datang"
"Sini duduk bareng."
Laura duduk disebelah Rudi dan Rudi mengambil segelas air untuknya.
"Kamu lagi mikirin apa? Mikirin Salsa?"
"Hahaha, sedikit tentang Salsa dan sedikit tentang wanita misterius yang pernah aku ceritakan dulu"
"Ada apa dengan wanita itu?"
"Tidak ada, cuma dua minggu lalu aku bertemu lagi dengannya dan dia memberikan alamatnya"
"Alamat?"
"Iya, mau lihat?"
"Iya, sini aku pengen lihat"
Rudi mengambil kertas yang berisi tulisan Marni itu dan memberikannya kepada Laura. Laura membaca tulisan pada surat itu dengan seksama dan melihat wajah Rudi.
"Kamu yakin ini alamatnya?"
"Iya yakin, kenapa?"
"Ini deket banget sama rumah Zola"
"Serius?"
"Iya serius, nanti aku coba tanyakan ke dia tentang Marni. Barangkali dia kenal"
"He'em coba aja tanyain ke dia, barangkali mereka saling kenal"
__ADS_1
Setelah membahas Marni, mereka berdua melanjutkan untuk membahas Zola dan beberapa teman Laura, ia menceritakan beberapa temannya yang memang sudah satu frekuensi dan beberapa temannya yang hanya memanfaatkan dirinya. Termasuk beberapa teman laki-lakinya yang menganggap bahwa janda adalah wanita yang bisa mereka ajak kesana-kemari.
Rudi juga menceritakan beberapa teman yang akhir-akhir ini sering nongkrong bareng, seperti Andin, Elsa dan beberapa teman Erlang lainnya.
Mereka cukup lama dan cukup larut membahas tentang pertemanan mereka masing-masing, hingga matahari mulai surut dari cahaya terangnya.
"Rud nanti setelah magrib ke rumah ya, bawa gitar."
"Ok"
Laura meninggalkan Rudi dan menuju rumahnya. Sedangkan Rudi masih menghisap sebatang rokok yang baru saja ia nyalakan.
...----------------...
Azan magrib sudah berkumandang, Rudi masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyurkan air ke sekujur tubuhnya dan setelah itu ia mengambil gitar dan pergi ke rumah Laura.
Nampak Laura sudah berada diruang tamu dengan memakai daster dan sebuah botol besar didepannya. Laura duduk di sofa ruang tamunya dan membaca buku, ia tidak menyadari Rudi sudah ada didepan pintu rumahnya hingga Rudi mengetuk pintu.
"Emmm sebotol besar berdua, matilah aku!"
"Eh, sudah datang Rud! Sini masuk"
"Udah disiapin gini ya? Jadi sungkan." Rudi bertingkah seakan dia bukan teman dekat Laura.
"Hahaha, kamu? Sungkan? Bohong!"
"Hahaha, darimana minuman segede ini?" Ucap Rudi dengan membolak-balik botol besar itu.
"Hahaha, langsung tuang gak nih?"
"Gas! Hahaha"
Laura menuangkan minuman untuk Rudi dan dirinya, setengah gelas berukuran sedang dan sedikit es batu.
Laura meminta gitar yang dibawa oleh Rudi dan memanaskan jari-jarinya dengan petikan halus dari tangannya yang mulus.
Rudi menyalakan sebatang rokok dan disusul oleh alkohol yang sudah ada dihadapannya. Ia tidak langsung mengimbangi petikan gitar Laura dan lebih memilih untuk menikmati melodi-melodi yang disajikan Laura.
"Rud, mau lagu apa?"
"Yang happy-happy aja"
"Judulnya?"
"Emmm apa ya? 'Yang Penting Happy' gimana?"
"Hahaha, seleramu jadul banget!"
"Hahaha"
Laura mulai memainkan lagu yang diinginkan oleh Rudi. Sebuah lagu yang mengundang suasana asik dan menyenangkan.
__ADS_1
Rudi mulai ikut bernyanyi dan Laura memainkan gitar dengan sangat indah seperti biasa. Laura memandangi Rudi yang tengah asik bernyanyi dan mulai ikut bernyanyi bersama.
...----------------...
Lagu-lagu yang tercipta dari rasa sakit memang begitu dalam maknanya
Lirik-lirik luka dan nada-nada air mata seakan menjadi pelopor irama yang indah
Pujangga tak akan selalu bersedih semasa hidupnya
Pujangga juga akan menciptakan lagu penuh bunga
Lagu tentang nuansa bersama yang indah
Dengan lirik-lirik penuh cita dan nada-nada penuh cinta
...----------------...
Lagu demi lagu mereka nyanyikan, sesekali Rudi menggantikan Laura bermain gitar. Botol gelas yang besar itu tersisa setengah dan malam semakin larut.
Mereka begitu asik menyuarakan kesenangan hingga lupa bahwa malam juga butuh ketenangan. Mereka menyudahi sesi bermusik dan menggantinya dengan sesi bercerita.
"Rud, kamu tidak rindu Salsa?"
"Sepertinya tidak, tapi sepertinya iya"
Laura terheran-heran dengan jawaban Rudi tang tidak pasti itu. Ia menatap Rudi dan mengamati gerak-geriknya, nampaknya Rudi menyembunyikan perasaan yang terpaksa harus dipendam dalam.
"Bagaimana jika kita cari Salsa saja?"
"Tidak perlu, dia sudah mengatakan untuk tidak ingin dicari lagi, aku akan menghormati keputusan yang dia pilih"
"Bagaimana jika suatu hari kamu bertemu dengannya?"
"Mungkin akan ku ajak dia pulang dan menikah"
"Hahaha, aku kagum kepadamu"
"Hahaha, kagum tentang apa?"
"Kenapa kamu tetap mencintai Salsa meskipun dia sudah sangat berbeda dengan Salsa yang dulu?"
"Kehidupan terlalu biasa jika tidak melawan arus, semakin deras arus yang kita lawan maka semakin mengasikkan kehidupan kita"
"Hahaha, Kamu orang baik Rud!"
Pujian terakhir yang diucapkan oleh Laura membuat Rudi mengingat masa dimana dia ingin memegang paha mulus milik Laura. Rudi tiba-tiba saja tersenyum dan menatap Laura.
"Ha? Ada apa?" Tanya Laura.
"Hahaha, tidak ada?"
__ADS_1
Rudi menuangkan minuman untuk Laura dan mereka menyelesaikan pembahasan tentang Salsa dan menghabiskan sisa minuman yang ada di depan mereka.