
Apakah ada yang lebih indah dari bermalam bersama dengan seorang wanita cantik? Jika ada mungkin itu adalah berduaan dengan tuhan.
Rudi sudah berada di terminal, sudah beberapa hari sejak ia berduaan dimalam hari dan tidur se-kasur dengan Andin kekasihnya. Rudi masih mengingat semua momen-momen indah bersama Andin. Seakan kali ini dia benar-benar jatuh hati kepada wanita itu.
Saat Rudi teringat bagaimana indahnya saat Andin berduaan dengan Andin, dia tersenyum. Bahkan senyuman pria itu terlihat sangat manis bagi dirinya sendiri dan terlihat sangat aneh bagi orang lain yang menatapnya.
"Kamu sudah gila ya Rud?" Ucap Erlang sambil memegang kening Rudi.
"Hahaha, aku memang sudah gila"
"Pantesan, keningmu hangat!"
"Hahaha..."
Erlang tidak terlalu menggubris sikap Rudi yang terlihat aneh itu. Ia justru lebih peduli dengan mesin bus yang tidak ingin menyala padahal para penumpang sudah siap untuk berangkat.
Erlang pergi mencari bantuan ke penumpang lain, sedangkan Rudi tiduran di bawah bus dan membenarkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian datang seseorang bersama dengan Erlang. Mereka berdua saling mengobrol dan membahas permasalahan mesin bus.
"Sudah kamu cek busi-nya?"
"Sudah, masih ada listrik" jawab Rudi.
"Bagaimana dengan kabel-kabelnya?"
"Masih baik semua"
Pria yang datang bersama Erlang itu langsung melakukan pengecekan mesin bus. Ia mengotak-atik dan meminta beberapa kunci. Butuh sekitar tiga puluh menitan sebelum mesin benar-benar menyala dan Erlang langsung memulai perjalanannya.
Rudi mulai menarik ongkos para penumpang yang sudah terlihat murung. Sebisa mungkin Rudi berusaha tetap tersenyum dan menghibur para penumpang yang sudah dipenuhi dengan emosi.
"Mas, saya lama banget loh nunggunya. Apa tidak ada diskon?" Ucap seorang ibu-ibu.
"Hehehe, ini kan bus mak. Bukan pasar swalayan..." Jawab Rudi dengan wajah imut.
"Yasudah ini..."
Ibu-ibu mengulurkan beberapa lembar uang dan Rudi memberikan selembar tiket dengan coretan tempat asal dan tempat tujuan.
Bus melaju seperti biasa, tidak ada kendala dari mesin yang tadinya tidak mau menyala. Erlang menyetir bus dengan tenangnya bersama Rudi yang sedang duduk disebelahnya. Mereka berdua mengobrol dengan tenang.
"Kenapa kamu hari terlihat bahagia banget Rud?" Tanya Erlang.
"Hahaha, pengen tahu aja atau pengen tahu banget?"
"Hahaha, mulutmu sudah seperti sales ****** *****"
"Hahaha, aku kangen banget sama Andin. Pengen peluk dia lagi"
__ADS_1
"Nanti setelah kerja kita ke rumah Laura ya..."
"Ngapain?"
"Ada, nanti kita santai-santai disana dulu"
"Baiklah"
Obrolan mereka seakan melipat waktu dalam lipatan-lipatan kecil. Beberapa jam pekerjaan mereka berlalu tanpa merasakan lelah. Hari itu berlalu dengan cepat dan menyenangkan.
...----------------...
"Sepertinya Laura tidak ada di rumah" ucap Erlang setelah sampai didepan gedung kos-kosan.
"Iya, mobilnya tidak ada"
"Hemm, yasudah aku ke kamarmu dulu saja"
"Baiklah ayo.."
Setelah melihat rumah Laura yang terkunci dan mobilnya yang tidak ada, mereka berdua terpaksa untuk bersantai dan menunggu terlebih dahulu.
"Beli kopi tidak?" Rudi bertanya.
"Boleh"
"Es aja! Aku haus banget"
"Oke, aku beli es dulu. Kamu tunggu disini"
Rudi keluar dari dalam kamar dan langsung menuju warung untuk membeli es. Erlang menunggunya di dalam kamar.
Setelah beberapa saat, Erlang memutuskan untuk keluar dan menghirup udara segar. Pria bertato itu berdiri dipagar lantai dua depan kamar Rudi dengan menghisap sebatang rokok.
Tiba-tiba saja wajahnya tampak serius dengan pandangan kosong ke depan. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang ia takutkan. Tidak ada yang tahu apa yang sedang pria itu pikiran. Dia hanya diam dan menghisap rokok beberapa kali sebelum Rudi datang dengan membawa dua kantong plastik tang ia pegang dengan satu tangan.
"Tidak usah nungguin Laura, nanti dia juga pulang sendiri"
"Hahaha, tidak! Aku tidak memikirkan Laura"
"Ini es-mu, aku juga belu beberapa gorengan"
"Teman yang sangat perhatian"
"Hahaha..."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan mulai menikmati es dan gorengan yang masih hangat. Rudi mengambil gitar dan Erlang mengambil galon kosong yang ada dikamar Rudi.
Rudi mulai memainkan gitarnya dan Erlang menabuh galon kosong itu seperti sedang menabuh gendang. Musik yang mereka berdua mainkan seperti sebuah musik koplo yang sangat merdu untuk didengar. Lagu-lagu dengan bahasa jawa ala-ala Banyuwangi mereka nyanyikan. Bahkan lagu Malaysia versi jaman dulu juga mereka nyanyikan dengan sangat lancar.
__ADS_1
Mereka menikmati waktu mereka dengan ceria hingga tidak menyadari bahwa Laura sudah ada di rumahnya.
Laura datang entah dari mana, suara kenalpot mobilnya tidak terlalu keras sehingga Erlang dan Rudi tidak mendengarnya. Diwaktu yang sama justru Laura yang mendengar permainan gitar dan tabuhan galon Rudi dan Erlang.
Laura terlihat mengemasi barang-barang yang ada didalam mobilnya dan langsung menuju ke kamar Rudi.
Wanita itu mengintip dari jendela. Dia melihat dua pria tampan sedang menikmati hal yang indah. Laura tidak langsung menemui mereka, ia justru lebih memilih untuk mengintip dan ikut menikmati alunan musik mereka berdua.
Cukup lama Laura berada di jendela dan Rudi baru menyadari kedatangan Laura. Rudi menepuk paha Erlang dan menunjuk ke arah jendela. Erlang menatap melihat ke arah jendela kemudian langsung berdiri dan menghampiri kekasihnya.
"Baru datang?" Tanya Erlang kepada Laura.
"Hahaha, sudah lama. Ada apa? Tumben banget kesini tanpa memberi kabar."
"Tidak ada apa-apa. Ayo sini masuk."
Erlang menggandeng tangan Laura dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Rudi. Laura pun ikut duduk. Sepasang kekasih itu duduk bersebelahan sedangkan Rudi duduk sendiri di pojokan sambil menatap kedua manusia itu.
"Tabuh galonnya lagi, seru banget"
"Hahaha nanti saja."
"Memangnya ada apa kamu tiba-tiba kesini?"
"Tutup mata kamu"
Tanpa banyak bertanya Laura menutup matanya dan Erlang memastikan bahwa kekasihnya itu benar-benar menutup mata. Rudi yang sedang bermain gitar itu tidak tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan dan hanya memainkan gitarnya terus menerus.
Erlang menggapai tangan kanan Laura. Pria itu kemudian merogoh sesuatu dari kantong celananya.
Erlang mengambil sebuah cincin dan langsung memasangkannya ke jari manis Laura. Laura tersenyum, demikian juga Rudi yang sedang menyaksikan hal indah itu.
"Buka matamu" ucap Erlang.
Laura membuka matanya dan menatap cincin emas yang diberikan oleh Erlang. Wanita itu tersenyum dan langsung memeluk Erlang.
Rudi yang sedang duduk di pojokan itu ikut tersenyum, ia semakin bersemangat memainkan gitarnya. Rudi menyanyikan sebuah lagu romantis yang ia hadiahkan untuk teman dengan kekasihnya itu.
Aura didalam kamar Rudi itu berubah menjadi sebuah suasana haru yang tidak bisa ditangisi. Suasana bahagia yang tidak bisa jika tidak menangis haru. Entah bagaimana menggambarkan sebuah suasana yang berhubungan dengan terjalinnya sebuah hubungan yang lebih serius.
...----------------...
Sementara itu, disisi lain dari kebahagiaan yang terjadi diantara mereka bertiga. Di suatu tempat nan jauh dari kamar Rudi. Ada dua orang wanita yang sedang terjebak dalam obrolan yang serius dan menegangkan.
Dua wanita itu adalah Marni dan Andin yang sedang saling meninggikan suara. Sebuah obrolan saling sanggah dan bantah terjadi diantara kedua Wanita itu.
Tanpa sepengetahuan Rudi dan tanpa ada yang mengetahui. Ke-dua wanita itu cek-cok namun tidak saling menggunakan fisik. Mereka seperti sedang berdebat dan saling mematahkan argumen masing-masing.
Suasana disana sangat berbeda dengan suasana yang terjadi didalam kamar Rudi.
__ADS_1