
Kini tidak ada lagi hal yang perlu dikhawatirkan, Rudi menerima Salsa dengan segenap hati dan perasaan. Hari masih cukup dingin, adzan subuh berkumandang dari berbagai toa masjid.
Rudi masih cukup mengantuk dan lelah, namun dia tidak bisa jika tidak bangun lebih awal dari ayam-ayam tetangganya. Dia menghirup segar angin perkotaan yang masih sejuk di pagi hari. Tidak ada polusi yang mencampuri embun-embun segar pagi itu.
Sebatang rokok seperti biasa, dihisap dengan mata terbuka dan dihembuskan dengan mata tertutup. Seakan semua hati mulai berdamai dengan keadaan.
Laura juga kebetulan bangun pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya. Ia menyapu teras rumah, menjemur pakaian dan menyeduh susu hangat untuk ia minum sendiri.
Rudi memandanginya dari depan kamarnya dan berpikir, "Kenapa Laura tidak menyewa pembantu rumah tangga?". Ia melihat Laura begitu cantik seperti biasa, meskipun lebih tua darinya, namun jika dibandingkan dengan wanita lain seusianya, dialah yang paling mempesona.
Tiba-tiba Rudi teringat dengan Salsa dan memikirkan apakah dia sudah bangun atau sudah sarapan. Rudi merasakan gejolak rindu yang besar, seakan seluruh otak dan hatinya disabotase oleh kenangan-kenangan bersama Salsa.
"Rud, masih cuti?" Tanya Bella tetangganya.
"Iya, mbak masih cuti. Mas Ardi belum bangun?"
"Belum, tuh masih selimutan didalam"
"Hari Jumat masih kerja ya?"
"Iya, dia libur hari Sabtu dan Minggu"
Bella adalah Istri Ardi yang bekerja di kantor dan mengurus administrasi kantornya, sedangkan Bella tidak bekerja, dia hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari masak dan menghibur suaminya. Mereka sudah menikah selama tiga tahun namun masih belum juga diberikan momongan.
Umur Bella dengan Ardi terpaut cukup jauh, Bella yang istri baru berumur 23 tahun, sedangkan Ardi sudah berumur 29 tahun. Mereka adalah perantau dari kota sebelah yang tidak cukup jauh. Selain karena faktor pekerjaan mereka yang memerlukan tempat tinggal yang lebih dekat, mereka juga memutuskan untuk nge-kos karena masalah yang dialami oleh Bella dengan ibu mertuanya.
Mengingat cerita mereka, Rudi tersenyum seakan dia berpikir bahwa tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki masalah, dan semua akan menemukan solusi meskipun itu akan sedikit menyiksa.
Menurut Rudi, suatu hari nanti dia akan berusaha untuk mengembalikan wajah Salsa kembali seperti sediakala. Dia tidak berpikir akan melakukan itu karena dia akan tidak tahan jika melihat wajah Salsa yang sudah tidak bisa dikenali, namun dia merasa sangat kasian dengan Salsa dan ingin menyudahi segala kesengsaraan yang ia derita.
Hari sudah mulai Terang, Rudi masuk ke dalam dan membasuh sekujur badan. Menikmati air dingin dari wadah tembok keramik yang tidak begitu jernih. Ia mengguyurkan air dari atas kepalanya perlahan, mencoba mengalirkan segala permasalahan bersamaan dengan tiap tetes air yang berjatuhan.
__ADS_1
Setelah mandi, dia mengunjungi Laura untuk mengajaknya menjenguk Salsa. Laura nampak sedang bersantai dan telah menyelesaikan semua tugas rumahnya.
Rudi berjalan ke arah Laura yang sedang asik menyeduh susu hangatnya.
"Tumben sudah bangun Ra?" Tanya Rudi yang masih agak jauh dari Laura.
"Iya Rud, lagi pengen bangun pagi-pagi sekali"
Rudi duduk disebelah Laura, ia ditawari minum oleh Laura namun ia tolak dan meminta beberapa cemilan.
Mereka berdua seperti saudara adin dan kakak, Rudi yang merupakan anak tunggal dan Laura yang sudah cukup lama hidup sendiri memang sangat cocok untuk memiliki hubungan sebagai saudara.
Mereka mengobrol kanan dan kiri, atas dana bawah. Tidak sedikitpun mereka membahas Salsa. Hanya obrolan-obrolan ringan yang membuat suasana pagi menjadi lebih menyegarkan.
Rudi juga mulai tidak menghawatirkan Salsa, ia sudah memutuskan segalanya. Yang perlu ia lakukan untuk saat ini adalah menemani Salsa hingga sembuh total.
"Oh ya Ra, kamu kenapa gak nyari pembantu saja?"
"Nyusahin kenapa memangnya?"
"Aku kan bukan tip orang yang suka nyuruh-nyuruh, ditambah lagi sering banget aku risih jika saat sedang nyantai terus ada yang manggil gitu, rasanya itu malah jadi gak enak semua"
"Ciee... Introvert"
"Hahaha... Introvert belalang kupu-kupu"
"Aku juga tipe yang seperti itu, kalo lagi asik santai paling gak suka kalau ada yang manggil atau bahkan nyuruh-nyuruh"
"Iya kan! Risih jadinya"
Mereka melanjutkan obrolan hingga beberapa jam. Sampai Laura melihat jam dinding rumahnya yang sudah menunjukan pukul delapan. Laura mengajak Rudi untuk segera menjenguk Salsa.
__ADS_1
Laura menyuruh Rudi untuk menunggunya mandi terlebih dahulu. Laura mandi cukup lama hingga Rudi menghabiskan beberapa batang Rokok.
Setelah Laura selesai mandi dan berdandan ia langsung berangkat bersama Rudi. Kali ini mereka menggunakan mobil. Laura yang menyetir.
Sebelum mereka menuju rumah sakit, mereka menuju pasar terlebih dahulu untuk belanja beberapa buah-buahan dan roti.
Rudi tidak mengetahui apa makanan kesukaan Salsa, selama ini Salsa tidak mengatakan apapun tentang apa yang paling ia sukai. Dia tidak pernah pilih-pilih dengan apa yang akan dia makan.
Setelah cukup lama mereka berbelanja, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
Jarak antara rumah hingga rumah sakit tidak begitu jauh, namun perjalanan menggunakan mobil cukup memakan banyak waktu. Laura mengendarai mobil dengan cukup pelan dan hati-hati. Keadaan jalan yang kurang baik dan beberapa pengendara arogan sangat menggangu laju mobil mereka.
Hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di tujuan dan langsung menuju kamar Salsa.
Mereka masuk ke dalam kamar Salsa. Rudi langsung menghampiri kekasihnya itu dan mengelus kepalanya.
"Sa, sudah makan?"
Salsa hanya mengangguk. Kemudian Rudi menawarkan buah-buahan yang ia beli dan Salsa mengangguk lagi, tanda ia mengiyakan permintaan Rudi.
Rudi menyuapi Salsa dengan perlahan, potongan demi potongan kecil ia masukkan ke dalam mulut Salsa yang masih sedikit terluka.
Rudi cukup sabar menunggu Salsa mengunyah dengan perlahan. Ia mengelus-elus kepala Salsa dengan sangat lembut. Rudi masih tidak menanyakan apapun tentang apa yang terjadi. Dia hanya ingin memperhatikan Salsa lebih lama lagi.
Laura hanya berdiri dan memandangi sepasang merpati itu. Seringkali Laura tersenyum dan terharu dengan pasangan itu.
Rudi masih mengelus dan memberikan beberapa potong apel yang masih tersisa, kemudian ia mendekatkan mulutnya ke telinga Salsa.
"Semuanya akan baik-baik saja"
Seketika mata Salsa yang masih penuh dengan luka itu sembab basah. Ia merasakan getaran ketulusan dari secuil kata yang Rudi ucapakan. sangat dalam.
__ADS_1