
Setelah sampai di kos-kosan setelah bekerja seharian, Rudi bersantai dengan penghuni kos lainnya yang juga pulang sore hari seperti dirinya.
Rudi mengambil gitarnya dan bermain musik bersama teman lainnya. Sudah ada yang membuat sebuah kendang yang terbuat dari pipa paralon dan icik-icik yang terbuat dari tutup botol saos.
Mereka bernyanyi bak anak rantau dengan lagu-lagu yang menceritakan keadaan susah mereka dan tidak enaknya jauh jauh dari keluarga.
Beberapa orang itu sudah ada yang menikah dan ada juga yang masih lajang seperti Rudi.
Sore pukul empat, Hari itu cukup banyak orang. Mereka kebetulan pulang sore setelah bekerja dari jam tujuh pagi.
Anak pabrikan, anak kantoran, anak terminal dan beberapa pekerja lainnya. Tua muda bahkan ada yang baru lulus sekolah menengah atas. Mereka berbaur didepan kamar Rudi.
Hanya para lelaki yang ikut berkumpul sedangkan beberapa wanita terlihat malu untuk ikut berkumpul kecuali tetangga Rudi yang merupakan sepasang suami istri. Istrinya cukup asik untuk berkumpul dengan para lelaki dan suaminya juga tidak terlalu over protective. Mereka yang ikut berkumpul di depan kamar Rudi saling menghormati satu sama lain. Keakuran mereka ada sebuah lingkaran yang sangat menyenangkan bagi Rudi.
Sore berlalu dengan cepat. Bersama lagu dan tawa, senja datang menyapa dan menyuruh mereka mandi dan bubar.
Adzan magrib berkumandang dan mereka lekas-lekas kembali ke kamar masing-masing. Rudi masih disana membersihkan beberapa bungkus jajan dan putung rokok yang berserakan bersama beberapa orang lainnya. Setelah terlihat bersih, Rudi masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Ia menaruh gitarnya dan membereskan tempat tidurnya.
Terdengar suara nada dering dari handphone kecil miliknya, tanda ada sebuah pesan masuk. Rudi mengambil handphone-nya dan membaca pesan yang datang. Ternyata itu adalah pesan dari Andin yang akan datang ke kos-nya dan mengajaknya makan malam dan jalan-jalan.
Rudi mengiyakan ajakan Andin dan bersiap untuk mandi dan berdandan. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menyiramkan air dari kepalanya.
Sesaat ia teringat kembali dengan sosok wanita yang ada di terminal. Wanita itu masih membuat Rudi penasaran. Ia takut bahwa wanita itu benar-benar Salsa yang mencoba untuk menemuinya. Tidak lama setelah itu Rudi tertawa, ia merasa jalan ceeita kehidupannya sudah mulai seperti FTV yang penuh dengan misteri dan hal-hal yang seakan sudah dirancangoleh sang sutradara.
...----------------...
"Rud, sudah siap?" Tanya Andin dari luar kamarnya.
"Sebentar"
Rudi keluar dari dalam kamarnya sesaat setelah menjawab Andin.
Mereka kemudian berangkat dengan motor milik Andin. Rudi yang mengemudi dan Andin memeluknya dari belakang.
"Mau kemana kita?" Tanya Rudi diatas motor yang melaju kencang.
"Hah?"
"Ukuran bra kamu berapa?" Tanya Rudi lagi.
"Apa? Gak kedengaran."
__ADS_1
Rudi kemudian memelankan laju motornya dan kembali bertanya.
"Mau kemana kita?"
"Terserah kamu"
"Baiklah kita jalan-jalan dulu ya"
"Baiklah sayang"
Rudi kembali menaikkan laju motornya dan menyusuri jalan-jalan yang penuh dengan kendaraan dan lampu-lampu jalanan.
Mereka menyusuri jalan menembus angin malam yang cukup kencang. Andin memeluk Rudi dengan kencang, Menaruh dagunya diatas pundak Rudi. Sesekali Rudi menyingkirkan dagu lancip Andin yang menyakiti pundaknya saat melewati jalanan yang tidak rata.
"Eh ayo ke tugu masuk kota yuk" ajak Andin.
"Sekarang?"
"Iyalah"
"Jauh"
"Baiklah tuan putri"
Andin mencubit paha Rudi yang memanggilnya tuan putri. Mereka kemudian melaju dengan kencang menuju tugu perbatasan kota yang baru saja selesai dibangun beberapa bulan lalu.
Perbatasan kota memang terletak agak jauh dari tempat tinggal mereka. Butuh satu jam lebih untuk sampai disana. Malam masih panjang, mereka melaju kencang hingga sampai di perbatasan kota.
Dari jauh terlihat betapa megahnya tugu yang baru selesai dibangun itu. Sebuah tugu besar yang berdiri di atas jalan raya dengan lampu warna-warni dan ukiran khas jaman dulu membuat tugu itu menjadi sebuah destinasi yang sering dijadikan tempat singgah oleh beberapa orang.
Mereka berdua kemudian memarkir motor mereka dan mencari tempat untuk berdua.
"Beli pentol yuk" ajak Andin setelah melihat penjual pentol yang sedang berhenti didepan mereka.
Mereka berdua kemudian menghampiri penjual pentol itu dan memesan dua bungkus pentol lila ribuan.
"Pedes semua?" Tanya si penjual pentol.
"Iya saya pedes." Jawab Andin.
"Kamu pedes juga Rud?" Tanya Andin kepada Rudi.
__ADS_1
"Iya"
Setelah mereka menerima dua bungkus pentol dan membayarnya, mereka duduk dikursi yang berada di bawah tugu besar itu. Ada tiga kursi dengan dua kursi yang sudah diduduki oleh dua pasang manusia yang sedang bermanja.
Mereka duduk dan memakan pentol sambil menatap kendaraan yang lalu lalang.
"Rud, kamu pernah tidur bareng cewek?"
"Pernah!"
Andin menatap kaget ke arah Rudi, seakan dia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh kekasihnya.
"Aku serius" kata Andin.
"Sama aku juga"
"Kapan? Dengan siapa?"
"Dulu, sama Salsa. Tapi kita tidak melakukan apapun, hanya tidur bersama di kamarku"
"Tidak mungkin tidak melakukan apapun saat cowok dan cewek tidur dalam satu tempat. Apalagi kalian sudah berpacaran."
"Belum, saat itu aku belum berpacaran dengannya..."
Rudi menceritakan apa yang terjadi hari itu saat Salsa tiba-tiba ingin tidur sekamar dengan Rudi. Ia menceritakan semuanya kepada Andin dengan sangat detail dan jujur.
Andin mendengarkan Rudi dengan seksama. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
"Kalau kamu?" Tanya Rudi.
"Tidak pernah. Tapi sangat sering aku diajak oleh para buaya itu saat aku mabuk."
"Beneran tidak pernah?"
"Iya, aku memang pemabuk dan nakal, tapi aku tetap memiliki sebuah harga tinggi."
Rudi tersenyum mendengar betapa tegasnya perkataan Andin. Rudi mulai merasa bahwa Andin adalah wanita yang patut untuk dikagumi.
Mulai saat itu Rudi memantapkan dirinya untuk mencoba menerima Andin dengan spenuh hati. Ia akan mencoba lebih menerima Andin dan melupakan wanita lain yang ada didalam pikirannya saat itu. Baik Marni maupun Salsa. Rudi akan mencoba untuk mulai melupakan mereka semua dan mulai menata benih cinta untuk Andin.
...----------------...
__ADS_1