
Dua wanita itu mengobrol sangat lama hingga penyaji makanan datang membawa pesanan mereka. Marni berpamitan dengan Andin dan dia mengajak salaman Rudi juga. Iya hanya tersenyum kepada Rudi dan kemudian menutup kembali cadarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Rudi tidak memikirkan apapun selain apa tujuan Marni menemuinya yang sedang asik berduaan dengan Andin. Dia dan Andin kemudian melanjutkan makan dan mengobrol kembali.
"Asik juga ya wanita itu" ucap Andin sambil makan.
Rudi hanya mengangguk dan melahap seafood yang dia pesan. Rudi tidak mengatakan bahwa dirinya sudah mengenal Marni sebelumnya. Menurutnya akan semakin rumit jika Andin mengetahui bahwa dirinya sudah mengenal Marni.
"Rud, menurutmu cantikan mana, aku atau Marni?"
"Hah? Apa?"
"Cantikan aku apa Marni?"
"Cantik Marni"
Terlihat wajah Andin yang langsung berubah saat mendengar Rudi lebih membela Marni daripada dirinya.
"Hahaha, becanda"
"Caramu mengucapkannya seakan sangat serius."
"Bagaimana caramu mengetahui itu?"
"Hanya insting"
"Hahaha, akan selalu ada yang lebih cantik, akan selalu ada yang lebih baik."
"Boleh nanya sesuatu?"
"Nanti saja kita habisin dulu makannya"
Andin mengangguk tanda dia setuju. Rudi masih memikirkan bagaimana agar Andin tidak tersinggung dengan perkataannya dan tidak membuat Andin mengetahui kebenarannya.
Andin dan Rudi makan dengan sangat nikmat dan tak jarang mereka saling suap dan mengelap mulut satu sama lain dengan tisu yang ada di meja mereka.
Rudi mencoba mengintip kembali tiga wanita bercadar yang salah satunya adalah Marni. Mereka juga tengah asik makan dan minum, Marni tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Seakan dia tidak peduli dengan Rudi.
Setelah makanan mereka habis, Andin memanggil seorang penyaji makanan untuk membereskan piring mereka.
"Kamu suka gak wanita yang pake cadar dan serba tertutup seperti Marni?"
"Suka, ada apa?"
"Jadi kamu mau aku juga bercadar dan tertutup seperti itu?"
"Tidak, aku juga menyukai wanita yang terbuka"
"Hahaha, bilang aja kamu suka semua"
"Tidak juga, hahaha..."
__ADS_1
"Terus?"
"Aku tidak suka wanita bodoh, pikirannya sempit dan kotor. Meskipun dia cantik."
"Aku bodoh tidak?"
"Bodoh"
"Hah? Aku bodoh?"
"Hanya wanita bodoh yang mau mencintaiku apa adanya"
"Pfftttt..."
Andin tersenyum dan tertawa mendengar bagaimana Rudi memujinya. Dia terlihat sangat senang dan bahagia bersama Rudi malam itu.
Mereka melanjutkan obrolannya hingga tiba saat pulang.
Rudi mengantarkan Andin sampai tempat tinggalnya. Setelah sampai di rumah Andin, Rudi kembali ke kosnya dengan naik ojek. Andin menyuruhnya untuk membawa motor miliknya, namun Rudi menolaknya.
Setelah sampai didepan kamarnya, ia melihat seorang wanita sedang berdiri didepan pintu kamarnya. Wanita itu sepertinya adalah Laura, ia sudah menunggu Rudi cukup lama.
"Ada apa Ra?"
"Tidak ada, hanya butuh teman untuk cerita"
"Yasudah aku tidur dulu jika begitu."
Mereka berdua berdiri dipagar tembok lantai dua itu dengan menatap ke depan dan tidak menoleh sama sekali.
Rudi masih menunggu Laura untuk memulai ceritanya. Namun Laura tidak juga memulainya.
"Baiklah, baiklah! Mau cerita apa?" Tanya Rudi.
Kemudian Laura menatap Rudi dan tersenyum sumringah. Rudi menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya bahwa dirinya yang harus memulai percakapan. Wanita memang sangat susah dipahami.
"Jadi tadi aku bertemu dengan mantan suamiku. Dia menghampiriku saat aku sedang asik mengobrol dengan teman-temanku. Dia mengajakku untuk mengobrol empat mata, aku menurutinya dan mengikutinya menjauh dari teman-temanku."
Laura membalik badannya dan menghela nafas panjang dan menghembuskan-nya.
"Dia mengajakku untuk rujuk, dia berjanji akan berubah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia juga berjanji tidak akan mengulangi kembali semua kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Bagaimana menurutmu Rud?"
"Apa jawaban yang kamu berikan?"
"Aku belum menjawab apapun, aku hanya bilang kepadanya aku sudah punya pengganti dirinya, namun dia tetap kukuh meminta rujuk denganku"
"Akan selalu ada dua pilihan dalam setiap masalah, namun solusi terbaik adalah tetap maju dan menghadapi masalah yang baru dari pada mundur dan menghadapi masalah yang sama"
"Terus?"
"Dia berjanji akan menjadi lebih baik, tapi dia juga bisa mengingkari janjinya. Bertahan dengan Erlang juga akan menghadapi masalah yang sama, dia bisa saja meninggalkanmu. Tapi yang paling penting saat kamu bersama dengan Erlang adalah kamu tidak akan terikat dengan masa lalu"
__ADS_1
"Jadi aku harus menolaknya?"
"Menurutku begitu."
"Baiklah"
"Tapi tetap saja, semua itu tergantung pada keputusanmu sendiri"
"Baiklah, aku akan memberikan jawabanku kepadanya secepatnya."
"Kenapa kamu tidak cerita ke Erlang saja?"
"Dia masih belum kesini lagi, baru dua tiga kali dia kesini setelah kita liburan"
"Mungkin dia sibuk dan kelelahan"
"Mungkin saja."
"Aku juga punya cerita"
"Cerita apa?"
Rudi menceritakan kisah yang terjadi kepada dirinya tadi. Dia menceritakan semuanya mulai dari bagaimana tiba-tiba Marni datang kepadanya hingga Marni tidak melihatnya lagi.
Laura mendengarkan dengan sedikit cengingisan, Laura menyadari satu hal bahwa Marni adalah wanita pejuang yang sangat pintar.
Dia berani masuk ke dalam rumah musuh dan menjadikan musuhnya sebagai teman. Laura juga tidak menyangka bahwa Marni si cantik yang diceritakan Rudi adalah seorang wanita bermental bar-bar.
Cadar dan balutan kain yang menutupi sekujur tubuhnya. Semua orang akan mengira bahwa dia adalah wanita pendiam, pemalu dan tidak akan berani berbuat senekat itu.
"Hahaha, padahal aku mengira Marni adalah tipe wanita yang pemalu"
"Sama aku juga, sumpah! Aku sampai bingung saat wanita bercadar yang menghampiriku itu adalah Marni"
"Jadi Andin masih belum mengetahui bahwa kamu sudah mengenal Marni?"
"Belum"
"Sebenarnya siapa yang kamu cintai Rud? Marni atau Andin?"
"Entahlah, Meskipun aku sudah berpacaran dengan Andin namun saat aku melihat Marni, hatiku seperti sedang terjajah oleh sesuatu. Sesuatu yang membuat hati berdebar kencang."
"Hahaha, pilih satu dan jangan serakah"
"Hahaha, Meskipun aku mengagumi Marni, tapi dia dan aku hanyalah seorang yang hanya mengetahui nama masing-masing."
"Hahaha, semakin kesini cerita hidupmu semakin menarik ya"
"Hahaha, benar juga. Mungkin ada plot yang akan lebih rumit"
"Hahaha iya, misalnya kita saling jatuh cinta"
__ADS_1
Rudi menatap Laura, seakan Rudi sedang berharap apa yang dikatakan oleh Laura hanyalah sebuah lelucon.