ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Menggigil di Penjara


__ADS_3

Pagi itu Rudi duduk dengan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh polisi. Rudi menjawab semuanya pertanyaan dengan jujur termasuk menyebut nama Dimas sebagai orang yang merupakan penyuplai dari semua barang yang ia pakai dan jual.


Polisi berjanji akan segera menangkap Dimas juga. Rudi masih belum bisa bebas, beberapa pertanyaan lain terus ditanyakan oleh polisi. Sebuah keberuntungan bagi Rudi, tidak ada polisi yang menginterogasinya dengan menggunakan kekerasan seperti halnya yang sering ia dengar.


Rudi tidak boleh menghubungi atau dihubungi oleh siapapun. Bahkan telepon yang ia bawa harus di sita terlebih dahulu, akibatnya ia tidak bisa mengabari Erlang dan Laura.


Di kantor polisi itu Rudi hanya pasrah, wajahnya benar-benar pasrah dan terlihat seakan tidak mengharapkan seseorang untuk membantunya.


Karena Rudi mengatakan bahwa dirinya baru beberapa hari menjadi pengedar, polisi memutuskan untuk menindaklanjuti tersangka yang bernama Dimas. Namun kendati demikian Rudi tetap harus menjali kurungan hingga ucapannya terbukti.


Setelah beberapa saat kemudian, dua polisi yang menangkap Rudi membawanya menuju sebuah bui yang terlihat kosong. Ada empat sel penjara dan tiga diantaranya sudah terisi.


Penjara yang tempat Rudi terlihat kering dan bersih, namun memiliki sebuah aroma yang sangat tidak enak. Aroma dari keringat para tahanan terdahulu yang masih melekat diantara dinding-dinding dan lantai. Aroma itu menyengat hingga sempat membuat Rudi mual.


Dua polisi yang mengantarkannya itu pergi meninggalkan Rudi setelah mengunci pintu masuk penjara. Jarak antara penjara dan tempat Rudi diinterogasi cukup jauh. Kantor polisi yang terlihat kecil bagian depan itu ternyata sangat luas. Ada satu polisi yang menjaga penjara tempat Rudi. Polisi itu terlihat sangat garang meskipun badannya tidak segarang wajahnya.


"Pak boleh saya bertanya" ucap Rudi.


Beberapa tahanan lainnya menatap Rudi heran. Polisi itu hanya menatap Rudi dan menunggunya untuk mengatakan apa yang akan dia tanyakan.


"Hei cepat katakan pertanyaanmu itu bodoh!" Ucap salah satu tahanan yang sedari tadi menatapnya.


Rudi tidak gentar dengan gertakan tahanan itu, justru dia menatap tajam tahanan itu sebagai isyarat bahwa dirinya tidak takut.


"Apakah saya bisa mendapatkan jaminan pak?"


"Siapa yang akan menjamin dirimu bodoh!" Gertak tahanan itu lagi.


"Kamu diam!" Ucap polisi itu sambil mengacungkan tongkatnya.

__ADS_1


Polisi itu berdiri dan menghampiri Rudi.


"Kamu masih belum bisa bebas, masih akan diadakan sidang dan setelah itu baru kamu bisa bertanya lagi. Sekarang diam dan jangan banyak bertanya." Tegas polisi itu dan langsung memutar badan untuk kembali duduk ditempatnya.


Kemudian Rudi mundur dan duduk sambil menyandarkan punggungnya didinding. Rudi menatap langit-langit penjara sembari menghela nafas dalam.


Aroma keringat dan bau ketiak memenuhi hidungnya. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika keadaan didalam penjara akan seperti itu. Tidak bisa menghubungi siapapun dan tidak bisa meminta bantuan pada siapapun. Rudi hanya pasrah dengan kesialan yang menimpa dirinya.


Waktu berjalan begitu cepat, sore telah datang dan Rudi mulai merasa ada sesuatu yang terasa berat didalam kepalanya.


Semakin lama, beban yang ada di kepalanya mulai terasa semakin berat dan dia mulai kehilangan keseimbangan duduknya. Rudi tersungkur dilantai yang penuh dengan aroma keringat itu.


Seluruh tubuhnya menggigil dan dia mulai memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya.


Tidak ada yang menghiraukannya, beberapa narapidana menatapnya dengan tatapan biasa tanpa belas kasih sedikitpun. Rudi kala itu sangat berharap ada seseorang yang membantunya namun tidak ada. Seorangpun tidak ada yang memperdulikan dirinya.


......................


Semakin gelap dan semakin gelap, kemudian dia mendengar seseorang membuka jeruji besi itu dan membawanya keluar. Rudi tidak bisa melihat apapun, dia hanya bisa merasakan tubuhnya sedang diangkat oleh beberapa orang yang kemudian ia dinaikkan ke atas sebuah tandu dan tandu itu mulai berjalan melewati lorong-lorong yang penuh lampu.


Rudi dimasukkan ke dalam sebuah ruangan dengan warnah serba putih. Sesaat setelahnya dia merasakan seseorang sedang mengelus bahunya dengan sesuatu yang terasa dingin kemudian menyuntikkan sesuatu. Setelah itu Rudi tidak bisa merasakan apapun dan tidak mengetahui apapun yang sudah terjadi malam itu.


Sebuah kegelapan memenuhi pandangannya, Rudi membuka matanya dan dia melihat beberapa perawat sedang merawat beberapa orang dibalik sebuah gorden putih. Rudi masih tidak bisa bergerak, pria itu melihat sekelilingnya. Dari jendela dia melihat cahaya matahari yang sangat terang masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian Rudi melihat jam dinding yang ada di atas pintu. Sudah pukul dua dan sudah ada matahari. Tidak terasa ia sudah berada disana selama semalaman.


Tubuhnya sudah mulai pulih, sakit kepalanya sudah mulai redah. Rudi mencoba untuk bangun dan duduk. Ia melihat sekitarnya, tidak ada perawat yang menghampiri dirinya.


Rudi mulai merasa lapar dan dia hanya mengelus perutnya. Tidak ada makanan disampingnya seperti beberapa pasien lain. Rudi hanya diam dan mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Rudi mulai memikirkan Erlang dan Laura, mereka berdua pasti sedang memikirkannya dan mencari dirinya. Dia juga teringat dengan Dimas, ia sangat berharap dimas bisa segera ditangkap dan Rudi bisa mulai untuk mengurus segalanya dan segera pulang.

__ADS_1


Dari luar pintu, masuk seorang polisi dan mengahmpiri dirinya.


"Bagaimana keadaanmu?" Polisi itu bertanya.


"Sudah baikan pak"


"Baiklah langsung ke-intinya, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan lagi"


"Silahkan pak, saya akan bekerja sama"


"Siapa yang memberi anda rekomendasi agar menemui Dimas dan bisakah anda memberi ciri-cirinya?"


Rudi mulai menceritakan siapa yang memberinya rekomendasi agar menemui Dimas. Rudi juga menyebutkan semua ciri-cirinya. Semua ia ceritakan secara rinci.


"Apakah ada informasi lain yang bisa anda berikan?"


Rudi mengangguk dan mulai menceritakan apapun yang ia ketahui. Polisi itu mencatat beberapa informasi yang dianggapnya penting dan bisa melancarkan investigasi.


Polisi itu cukup tenang dan kalem, tidak arogan dan sangat ramah. Rudi tidak merasa terusik, justru ia sangat menghormati polisi itu.


Rudi dan polisi itu mengobrol hingga dua jam. Rudi menceritakan semua meski banyak hal yang tidak dicatat oleh polisi itu. Setelah polisi itu merasa puas dan cukup dengan segala informasi yang diberikan oleh Rudi, polisi itu menutup buku catatannya dan berdiri.


"Kamu sudah mendapatkan jatah makan?"


"Belum pak"


"Baiklah tunggu sebentar, saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya."


"Baik pak, terimakasih"

__ADS_1


Rudi menatap polisi yang sedang berjalan keluar dari ruangan itu. Rudi tersenyum, ternyata tidak semua hal yang ada dipenjara adalah buruk.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang wanita yang mengenakan baju putih datang menghampirinya dengan membawakan makanan dan satu botol sedang air putih.


__ADS_2