
Berdua bersama Rudi di atas sebuah perahu yang mengambang di atas air laut yang tenang. Arah selatan penuh dengan gemerlap lampu perkotaan dan arah utara yang menyajikan pemandangan terindah, sebuah jembatan yang membentang panjang dengan lampu-lampu gemerlapan.
Salsa terlihat bahagia, memegang erat tangan Rudi yang dingin oleh udara. Rudi terkesima menyebar mata dalam gelam malam dengan gemerlap lampu dan bintang. Bagaimana Rudi mengawasi Salsa dengan mata telanjang, melebur banyak hal termasuk kesengsaraan.
"Sa..." panggil Rudi pelan.
"Ada apa Rud!" jawab Salsa.
"Sepertinya aku jatuh cinta denganmu,"
"Bukankah kita sudah saling jatuh cinta dari dulu."
"Hahaha, aku hanya ingin memastikan satu hal,"
"Apa itu?"
"Apakah kau akan keberatan jika aku mengajakmu berbagi nafas dalam sisa waktu hidupku?"
"Aku milikmu jika itu keinginanmu." jawab Salsa dengan menyandarkan kepalanya dipundak Rudi.
Mereka menyatu dalam keindahan waktu, saling berpegang tangan dan membisu. Menghadap dimana keindahan bertemu. Rudi belum memulai ceritanya, ia menunggu waktu untuk hal rumit seperti itu.
"Rud! Apakah aku cukup baik sebagai wanita?" tanya Salsa pelan.
"Tidak ada yang perlu diragukan dari wanita sepertimu."
"Hahaha, jangan berlebihan. Aku takut ada sebuah penyesalan."
"Jika ada penyesalan terburuk dalam hidupku, mungkin itu adalah aku tidak mengenalmu dari dulu"
"Hahaha, apakah ada penyair yang merasukimu?"
__ADS_1
Sejenak mereka bercanda dan saling mencoba memahami satu sama lain. Pembahasan yang lebih dalam dan menjurus ke-pengutaraan isi hati. Lambat laun Rudi merasa sudah saatnya dia menceritakan yang sebenarnya kepada Salsa.
Rudi membenarkan posisi duduknya. menghadap Salsa dan memegang ke-dua tangannya dan menatap tajam kedua matanya.
"Ada apa Rud?" Tanya Salsa.
"Emm... Berjanjilah kau akan mendengarkan sampai selesai."
"Baiklah"
".... Sebenarnya namaku bukan Rudi, melainkan Doni. Aku adalah anak dari seorang pengusaha ikan yang sering makan di restoran tempatmu bekerja..."
"Hah! Jangan becan..." potong Salsa.
"Dengarlah dulu." ucap Rudi dengan menaruh ibu jarinya dibibir Salsa. Salsa pun mengangguk.
"Aku tidak memiliki rencana apapun selain merantau kemari dan mencari seorang wanita yang akan menemani sisa hidupku. Bahkan datangnya ayahku ke restoran milikmu, itu bukanlah atas dasar sepengetahuan-ku. Aku tidak mengetahui hal itu hingga saat pertama kali kau ceritakan padaku."
"Iya, aku meninggalkan perusahaan yang dulunya aku urus untuk merantau selama tiga bulan. Setelah tiga bulan aku akan memutuskan untuk kembali dan mengurus perusahaan ayahku lagi."
"Aku masih tidak percaya dengan ceritamu, apakah kau benar-benar anak dari pak Salman sang juragan ikan salmon?"
"Iya, aku serius! Tentang semuanya aku sungguh serius"
Salsa hanya diam setelah mendengar cerita Rudi. Seakan tidak percaya dan seakan sedang diajak becanda oleh Rudi. Salsa tidak mengetahui respon apa yang akan ia berikan kepada Rudi atausaat ini dia kenal sebagai Doni.
"Sa! Apakah kau akan marah kepadaku?" Tanya Rudi pelan.
"Tidak! Tidak... Aku hanya bingung, bagaiaman aku memanggilmu? Bagaimana aku harus berbuat kepadamu? Bagaimana aku harus merespon ceritamu? Aku bingung Rud!" Ucap Salsa dengan memegang kepala dan memalingkan pandangannya dari Rudi.
"Panggil aku sesukamu, berbuatlah sesukamu, respon sesukamu. Aku menyukai setiap hal dari dirimu."
__ADS_1
"Antarkan aku pulang, aku butuh waktu untuk berpikir"
"Baiklah..." jawab Rudi spontan.
Tanpa bertanya atau menyuruh Salsa untuk tetap bersamanya, Rudi menuruti permintaan Salsa. Rudi mengantar Salsa pulang hingga depan pintu kamarnya;Salsa masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Rudi juga demikian, dia hanya diam dan perlahan meninggalkan kamar Salsa.
Berjalan pelan menuju kamarnya dan mengambil gitar.
Rudi memainkan senar-senar gitar tak beraturan. Melodi yang dihasilkan penuh dengan gelap yang tak ada habisnya. Tidak ada apapun didalam pikirannya, dia tidak mencoba menerka apa yang akan dikatakan Salsa nanti, dia tidak memikirkan bagaimana kelanjutan semua ini. Dia hanya memainkan gitar dengan pandangan kosong dan sesekali menghisap rokok.
...****************...
...Apakah akan ku temui birunya langit esok hari?...
...Setelah ku tuang begitu banyak tinta di atas sana?...
...Tidak ada sekedip pijar didalam hati ini...
...Penuh pasrah dan harapan yang masih abu-abu...
...Bahkan mungkin jingga sore pun akan enggan bertemu denganku...
...Aku meninggalkan semuanya kepadamu...
...Aku menyerahkan semuanya kepadamu...
...***************...
Malam itu begitu dingin dan sunyi, tidak ada suara dari burung-burung malam yang sedang begadang. Salsa dan Rudi saling menatap atap kamar dengan kebingungan dalam diam hingga saling terlelap dalam gelapnya mata terpejam.
Mereka berdua saling meng-istirahatkan tubuh dan pikiran. Salsa dengan bayang-bayang ketidakpercayaan dan Rudi yang penuh kekosongan. Dia hanya ingin kembali dengan membawa bunga yang ia petik dari ladang kenistaan.
__ADS_1
......................