
Bunga-bunga bermekaran, air selokan mulai surut. Surat-surat kuasa tuhan mulai tersebar ke seluruh rongga-rongga manusia yang mulai meragukannya. Indahnya takdir dan segala ujiannya adalah seni dari kehidupan yang tidak bisa dilewatkan.
Sudah beberapa hari Rudi tidak bekerja dan selalu menjenguk Salsa. Kini ia memutuskan untuk bekerja lagi agar tidak kehilangan kesempatan untuk menerima gajian lebih akhir bulan. Dia sudah menghubungi Erlang bahwa dirinya akan masuk kerja mulai sekarang.
Rudi berangkat dengan membawa sebungkus buah-buahan segar. Ia memutuskan akan datang dua kali dalam sehari untuk menjenguk Salsa di rumah sakit. Pagi saat ia berangkat dan sore hari saat ia pulang kerja. Pekerjaan yang cukup fleksibel membantunya tercegah dari telat masuk kerja.
Setelah menemui dan memberikan bekal yang ia bawa untuk Salsa dan kemudian langsung menuju ke tempat kerja.
...----------------...
Di terminal, Erlang sudah mulai bekerja kemudian Rudi menyusulnya.
"Lang, sorry telat ya"
"Anak baru"
"Hahaha, baru mulai kan?"
"Iya baru mulai, bagaimana kabar Salsa?"
"Sudah lebih baik"
Rudi melempar buah apel yang ia sisakan untuk Erlang dan dia memakannya sambil bekerja mencari penumpang yang bingung hendak naik bus yang mana.
Erlang adalah teman yang tidak pernah mempermasalahkan dan iri kepada teman se-pekerjaanya, ia berprinsip bahwa dirinya akan tetap tekun bekerja meskipun teman-temannya sedang bermalas-malasan. Ia berpikir bahwa semua itu untuk membiasakan dirinya dan demi dirinya sendiri.
Hanya butuh waktu 30-menitan dan semua kursi penumpang sudah hampir terisi penuh. Pak Darto juga sudah datang dan memanaskan mesin bus-nya.
Bus mulai berangkat, Erlang mulai menagih ongkos para penumpang. Dimulai dari kursi paling belakang , Erlang menagih satu persatu dan sesekali menggoda beberapa penumpang wanita.
Rudi hanya berdiri didepan dan menatap lurus ke depan. Ia tidak memikirkan hal apapun, hanya asik memandangi ke depan dan beberapa kali menelpon.
Waktu berlalu cukup cepat, perjalanan bus lancar tanpa hambatan hingga sampai di terminal tujuan.
"Rud, ayo ngopi dulu." Ajak Erlang.
"Ayo, aku yang bayar"
"Wokee!"
__ADS_1
Mereka berangkat menuju warung seperti biasanya. Suasana yang cukup berbeda, warung yang dulunya berwarna hijau kini sudah berubah warna menjadi serba biru tua. Rudi dan Erlang duduk dan memesan kopi hitam mereka.
"Rud, kemarin si Marni naik bus lagi, terus nyariin kamu"
"Marni?"
"Iya, Marni yang dulu"
"Terus dia bilang apa?"
"Gak ada, cuma nyariin kamu. Aku juga malu mau mengajaknya ngobrol"
"Hahaha, laki-laki lemah!"
"Malu njiirr..."
"Hahaha"
Kemabli lagi Rudi diingatkan dengan sosok Marni itu, siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa dia mengenal Rudi? Rudi sangat penasaran dan ingin sekali melihat wanita itu.
"Oh iya Rud, jadi setiap hari kamu mengunjungi Salsa?"
"Iya"
"Yang aku dengar sih dia jatuh sendiri"
"Salsa gak bilang apa-apa?"
"Dia belum bicara apapun sampai sekarang"
"Kata dokter gimana?"
"Apanya?"
"Dia masih bisa bicara tidak?"
"Masih kayaknya, dokter hanya bilang jaringan kulitnya saja yang terluka, mata dan yang lain aman"
"Ohh... Syukurlah, semoga cepat sembuh"
__ADS_1
"Iya"
Percakapan mereka menjadi sangat serius setelah membahas Salsa. Rudi juga tiba-tiba saja menceritakan latar belakangnya yang sesungguhnya. Ia berpikir semuanya akan lebih mudah saat teman-teman dekatnya mengetahui siapa sebenarnya dirinya.
Waktu istirahat sudah usai, mereka berdua kembali menuju pangkalan bus yang sudah mulai terisi oleh beberapa penumpang yang sudah biasa menaiki bus mereka. Rudi dan Erlang mulai mencari penumpang dan membantu mereka menaikkan barang bawaan mereka ke bagasi.
Setelah semua kursi penuh dan Pak Darto belum juga datang, Erlang menyuruh Rudi untuk menelponnya.
Beberapa menit setelah itu Pak Darto datang dan bus mulai berangkat. Rudi Menagih ongkos penumpang untuk kali ini.
"Kamu ganteng banget, mau ibu ambil mantu tidak?" Tanya seorang ibu-ibu.
"Hahaha, emang ibu ini punya anak perempuan?"
"Ada, banyak! Ada 3 semua cantik-cantik tinggal pilih"
"Hahaha, kok malah kayak sedang jualan"
"Hahaha, ini yang paling bungsu" ucap wanita itu sambil mengelus kepala seorang wanita disebelahnya.
"Waduh, gimana ini saya jadi gak bisa nolak!" Rudi becanda.
"Hehehe, jadi bagaimana langsung nikah besok ya?"
Ibu-ibu begitu suka ceplas-ceplos, wanita yang ada disebelahnya yang merupakan anaknya itu hanya terdiam malu dan menatap keluar kaca bus.
"Hahaha, anaknya sampai tuh buk"
"Hehehe, dia emang agak pemalu. Din hadap sini, ada calon untukmu tuh!"
Sekilas anak ibu itu memalingkan wajahnya ke arah Rudi sebentar. Seorang wanita mudah dengan wajah putih berseri, matanya bening penuh dengan kehangatan. Sekilas Rudi melihatnya dan teringat oleh tatapan tajam dari mata mungil milik Salsa. Dan tiba-tiba saja Rudi merasakan kesedihan sesaat. Dia teringat kembali atas apa yang terjadi kepada Salsa.
"Hehehe, maaf ya buk! Saya sudah ada"
"Walah... Sudah ada pawangnya to"
"Nduuk! bukan rejekimu nduk." Tambah wanita itu.
Anak ibu-ibu itu kelihatan sangat tertekan dengan tingkah ibunya yang suka ceplas-ceplos.
__ADS_1
Rudi pun meninggalkan mereka dan melanjutkan menagih beberapa ongkos penumpang lainnya yang tersisa.
...****************...