
Pagi hari setelah secangkir kopi, Rudi berangkat bekerja tanpa menengok ke kamar Salsa. Menurut Rudi akan lebih baik begitu, tidak bertemu untuk sementara waktu mungkin akan menyembuhkan hari-hari tanpa percakapan Salsa.
Rudi hanya berjalan menatap tanah tempat tempat ia melangkah, sesekali ia menyapa beberapa tetangga dan Laura yang sedang menyapu halaman rumah. Laura seperti keheranan dengan sikap dingin Rudi yang tidak seperti biasanya.
Sampai di terminal Rudi mulai bekerja, dia tidak memulai percakapan dengan seorang pun, bahkan Erlang. Sikap Erlang juga menunjukan seakan dia mengetahui Rudi sedang dalam masalah dan memutuskan untuk ikut diam dan menunggu Rudi mengajaknya bicara.
Sementara Rudi diam dia juga memikirkan apakah perlu dia ceritakan kisahnya kepada seseorang selain Salsa atau cukup Salsa saja yang mengetahui asal dan usulnya.
Rudi seakan ling-lung oleh apa yang harus ia lakukan untuk saat ini.
"Rud... Aku yang nagih ongkos." ucap Erlang.
Rudi hanya mengangguk dan Erlang mulai menagih ongkos para penumpang . Semua berjalan seperti biasa, hanya beberapa obrolan yang hilang dari Rudi dan orang sekitar. Rudi menatap ke depan, melihat orang-orang saling berebut jalan dan saling salip di permukaan aspal hitam. Bus melaju menyusuri sisi-sisi kosong jalan, klakson dan deru suara mesin saling bertabrakan hingga bus sampai di terminal tujuan. Para penumpang mulai turun berurutan.
"Heeh! Dek ngelamun aja!" ucap seorang ibu-ibu.
"Ahhh! Haa! Hahaha gak apa-apa buk"
Ibu-ibu itu berlalu setelah merusak lamunan Rudi. Pak sopir membenarkan beberapa hal dari tempat duduknya. Erlang menghampiri Rudi dan mengajaknya meminum secangkir kopi.
"Ayo ngopi Rud" ajak Erlang pelan.
"Ayo"
Mereka berdua berjalan, Rudi berjalan di belakang Erlang dan Erlang mendahului. Tiba di warung tempat biasa mereka ngopi, Erlang memesankan Rudi kopi hitam tanpa gula dan duduk bersampingan tanpa ada percakapan.
"Lang, Salsa ngambek"
"Hahaha, kenapa ngambek?" jawab Erlang yang mendengar Rudi mulai ingin bicara dengannya.
"Mungkin karena PMS"
"Hahaha, butuh seblak mungkin"
"Hahaha, seblak rasa es krim"
"Hahaha, dari tadi kamu diam terus cuma gara-gara itu?"
"Hahaha, iya"
"Lemah!"
Nampaknya napsu bicara Rudi sudah kembali lagi, dia mulai mengajak Erlang bicara meski tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Rudi masih memikirkan bagaimana baiknya dia menceritakan semuanya kepada teman satu bus-nya itu.
__ADS_1
Rudi mulai merasa lebih tenang setelah sedikit becanda dengan Erlang. Dia mulai kembali seperti semula dan mulai bekerja seperti biasa.
Hari sudah mulai petang, tanda sudah saatnya pulang. Rudi berjalan pulang seperti biasa dan perasaannya tidak seperti saat dia berangkat bekerja.
Setelah sampai di depan bangunan tempatnya tinggal. Rudi berpapasan dengan Salsa, Namun Salsa masih diam dan mengabaikan Rudi. Rudi tidak mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya. Salsa berjalan cepat mendahului Rudi dan masuk ke dalam kamarnya. Rudi juga hanya berlalu melewati kamar Salsa, melangkah menaiki tangga dan menuju kamarnya.
"Rud! Nanti ke rumah ya," ucap Laura dari depan pagar rumahnya.
Rudi menoleh dan menjawab, "Iya!"
Sepertinya Laura tidak bisa menahan rasa penasarannya. Rudi masuk ke dalam kamar, membersihkan badannya dan mulai memainkan teman gitarnya. Kembali lagi dalam semu-semu melodi kekosongan. Meratapi bagaimana dia akan bertindak selanjutnya, apakah perlu dia menceritakan semuanya kepada selain Salsa.
Adzan magrib sudah berkumandang, Rudi berganti baju dan menemui Laura yang sudah menunggu di depan rumahnya dengan kopi dan susu hangat. Rudi menghampirinya dan duduk di kursi kayu yang sepertinya baru dibeli oleh Laura.
"Ada masalah apa Rud?" tanya Laura tanpa basa-basi.
"Gak ada apa-apa Ra,"
"Salsa lagi ngambek ya?"
"Iya"
"Kenapa?"
"Gak ngerti"
Laura meminum susu hangat miliknya.
"Ra, kalau misalnya aku bilang, aku adalah anak orang kaya kamu percaya?"
"Percaya!"
"Kenapa?"
"Hmm, mungkin karena kamu bisa nyetir mobil mahal, bahkan lebih lihai dari aku."
"Hahaha, sebenarnya aku benar-benar anak orang kaya, aku kesini untuk mencari pasangan"
"Hahaha, seperti drama FTV gitu?"
"Hahaha, iya..."
Rudi spontan menceritakan semuanya, termasuk asal-usulnya dan apa yang sedang terjadi antara dia dan Salsa. Laura mendengarkan dengan seksama tanpa menyerah, tak jarang ia tertawa mendengar bagaimana Rudi ingin merasakan sebuah kisa cinta layaknya film yang sering dia tonton. Sebuah hasrat yang jarang Laura temukan, Rudi tidak mencari seorang wanita yang sederhana, berhati baik dan lain-lain. Rudi tidak menentukan apapun dari perjalanannya mencari seorang pendamping hidup. Dia hanya ingin mengalir dan menunggu tuhan mendatangkan seorang wanita yang akan menemaninya.
__ADS_1
Rudi bercerita cukup lama, bahkan sampai pada hal-hal yang tidak ia ceritakan kepada Salsa. Cerita tentang masa lalu dan percintaan yang pernah Rudi rasakan. Laura juga mulai mengalir dalam alur yang disusun oleh Rudi dari kisah yang dia buat rumit sendiri.
"Hahaha bukankah lebih muda mencari wanita dari kolega-kolega ayahmu?"
"Hahaha, tidak akan seru jika hanya kisah lurus-lurusan seperti itu. Hahaha..."
"Hahaha, iya juga sih. Orang goblok sepertimu butuh kisah yang lebih rumit"
"Hahaha kalo bisa dibikin rumit kenapa tidak!"
"Ahahaha, Seperti hubunganku. Kalo bisa cerai ngapain bertahan,"
"Pfftt... Janda-janda keladi, makin janda makin jadi"
"Hahahaha..."
Obrolan itu seketika menjadi ajang roasting, mereka saling menghina beberapa hal menyedihkan yang saling mereka ceritakan. Alur kekosongan didalam hati Rudi mulai terisi oleh kebahagiaan dan tiba-tiba dia merasa akan mulai mengajak bicara Salsa. Sepertinya Rudi memutuskan untuk memulai dengan Salsa untuk menentukan bagaimana selanjutnya. Rudi mulai merasa kesepian yang selama ini ia rasakan adalah karena hilangnya percakapan dengan sahabat wanita sekaligus bunga hatinya.
Cukup lama Rudi dan Laura mengobrol asik di depan rumah. Laura mulai lelah tertawa dan Rudi juga merasa sudah kehabisan cerita. Mereka berdua memutuskan untuk menyudahi ajang srimulat itu dan memutuskan untuk kembali dan beristirahat.
Rudi berjalan menuju kamarnya. Menaiki tangga dengan perasaan yang lebih bahagia. Namun saat ia membalikkan badan menghadap kamar tidurnya, ia melihat sosok wanita berpakaian serba putih dengan motif kartun berwarna biru. Sepertinya itu adalah Salsa.
"Malam ini aku ingin tidur bersamamu," ucap Salsa.
Rudi hanya mengangguk dan membukakan pintu kamarnya.
Salsa masuk ke dalam kamar Rudi dan Rudi mengunci pintunya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya mengikuti apa yang diminta Salsa.
Rudi menyiapkan tempat tidurnya, mereka berdua saling merebahkan badan di atas kasur yang sama. Rudi membagi bantalnya untuk Salsa, namun Salsa menarik tangan kiri Rudi dan menjadikannya sebagai tumpuan kepala.
"Jangan aneh-aneh," ucap Salsa pelan.
Rudi hanya mengangguk dan mulai menutup matanya. Salsa juga demikian, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya lagi dan mulai menutup matanya.
...****************...
...Banyak hal baik terjadi tanpa direncanakan...
...Kelabu mulai menepi...
...Pelangi mulai bersemi...
...Demikian tuhan mengatur segala hal tentang hambanya...
__ADS_1
...Tidak ada satu halpun darinya selain kebaikan untuk hambanya...
...****************...