
Hari-hari yang dijalani Rudi di dalam tempat rehabilitasi berlangsung begitu cepat. Setiap hari Marni selalu membawakan Rudi bekal dan beberapa makanan kesukaan Rudi. Tidak ada yang menakutkan di dalam tempat rehabilitasi itu, Rudi diperlakukan sangat baik bahkan kini ia memiliki lebih banyak teman sesama pengguna Narkotika.
Pagi itu adalah hari terakhir Rudi di tempat rehabilitasi. Marni sudah ada di depan berjalan sendirian menghampiri resepsionis.
"Saya Marni hendak menjemput teman saya yang bernama Rudi." Ucap Marni kepada resepsionis.
"Oh mas Rudi, silahkan masuk kak." resepsionis itu memberikan beberapa lembar kertas fan menyuruh Marni untuk masuk ke dalam pintu yang ada di sebelahnya.
Marni pun masuk ke dalam seperti biasa saat dia mengunjungi Rudi. terlihat seperti biasa suasana di dalam tempat rehabilitasi itu. Rudi terlihat sedang berkumpul bersama teman-temannya dan Marni langsung menemuinya tanpa merasakan canggung ataupun malu dengan teman Rudi.
"Ehh... Ehh... Ada yang dapet kunjungan spesial" ucap salah satu teman Rudi.
"Hahaha jangan iri ya..." ejek Marni.
"Hahaha hiya hiya hiya..."
Rudi berpamitan dengan teman-temannya, tiba-tiba suasana haru menyelimuti perkumpulan manusia itu. Salah satu teman Rudi ada yang menangis tersedu-sedu sambil berjabat tangan dengan Rudi.
"Nanti kalo aku keluar juga kita ngopi bareng ya Rud, nanti bawain barangnya lagi. huhuhu...."
"Hahaha gundulmu!" Celetuk Marni yang tidak terima.
__ADS_1
Setelah perpisahan itu selesai Rudi dan Marni pun keluar dari tempat rehabilitasi bersama-sama. Rudi membuka pintu kaca tempat rehabilitasi itu dan berhenti sesaat di depan pintu. Ia menatap langit dan mengambil nafas dalam-dalam menikmati udara segar setelah sangat lama di dalam tempat rehabilitasi yang penuh dengan aroma obat-obatan.
"Mau makan atau langsung pulang Rud?" Marni bertanya.
"Kamu masak di rumah?"
"Iya tapi..." Belum selesai Marni mengatakannya.
"Baiklah kita langsung pulang saja."
Rudi menarik tangan Marni dan langsung pulang menuju rumahnya. Suasana hati Rudi sudah sangat berubah dari sebelumnya. Kini hatinya di penuhi oleh perasaan segar dan tenang. Berbagai macam rencana sudah ia siapkan, baik rencana yang akan ia lakukan bersama Marni maupun apa yang akan ia lakukan besok.
Rudi berencana untuk menghabiskan hari pertamanya itu untuk berduaan bersama Marni dan akan menemui teman-temannya kemudian hari.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Marni bertanya.
"Kamu terlihat cantik seperti biasa"
"Aku kira sikap buayamu itu sudah hilang setelah rehabilitasi cukup lama Rud."
"Hahaha tidak akan"
__ADS_1
Mereka sampai di depan rumah Marni. Tidak ada yang berbeda dari rumah wanita cantik yang suka memakai cadar itu. Rumah itu masih terlihat sangat nyaman untuk di huni. Marni pun membuka pintu rumahnya dan mengajak Rudi masuk ke dalam.
"Mandi dulu, biar aku siapkan makanan."
"Siap ratu!"
Tanpa basa-basi Rudi membuka bajunya di sana di depan Marni. Marni terlihat kaget sesaat namun ia kemudian tertawa saat melihat Rudi berlari menuju kamar mandi hanya dengan mengenakan kolor atau ****** ***** saja.
Sementara Rudi sedang mandi Marni mulai menyalakan kompor dan menyiapkan makanan untuk Rudi. Beberapa telur ia aduk bersama dengan berbagai macam bumbu kemudian ia memotong beberapa tempe menjadi bagian-bagian kecil dan menggorengnya bersama dengan telur yang sudah ia aduk rata bersama bumbunya.
Di atas kompor itu Marni terus mengaduk masakannya hingga aroma dari masakan yang sudah setengah matang itu memenuhi seisi ruangan hingga tercium oleh Rudi.
"Ahhh... Uhhh... Hmmm... Nikmat sekali" ucap Rudi dari dalam kamar mandi.
"Heh..." Bentak Marni.
"Hahaha laper bangett..."
"Hahaha..."
"Marni hayuk kita nikah!" Ucap Rudi.
__ADS_1
Marni hanya tersenyum sambil terus mengorek masakannya yang sudah siap untuk disantap.