ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Sebuah Pesta dan Pertemuan


__ADS_3

Sore dengan senja yang disukai banyak orang, bukan karena keindahannya melainkan karena ada banyak orang yang sudah mulai berkemas dan istirahat dari pekerjaan mereka.


Termasuk Rudi yang sudah dalam perjalanan pulang setelah bekerja seharian. Dalam perjalanan pulang ia memutuskan untuk membeli sebungkus makanan dan satu bungkus rokok kesukaannya.


Setelah tiba di kos-kosan ia langsung makan dan bersantai di emperan kamarnya.


Rudi duduk bersila dan menyalakan sebatang rokok setelah makan dan minum. Badannya terasa lebih ringan setelah menceritakan masalahnya kepada Erlang. Ia sangat menantikan pesta yang akan ia hadiri bersama sahabatnya itu.


Rudi berdiri dan bersandar dipagar lantai dua kamarnya, ia melihat beberapa tetangga kamarnya baru pulang kerja. Sesekali ia menyapa beberapa tetangga yang ia kenal. Dari kejauhan ia juga melihat Laura yang baru datang entah dari mana.


"Ra! Darimana?"


"Sini Rud, ke rumah"


Laura melambaikan tangannya kirinya untuk mengajak Rudi ke rumahnya dan tangan kanannya terlihat sedang menenteng sebuah plastik berwarna merah dengan ukuran yang lumayan besar.


Tanpa berpikir panjang, Rudi menghampiri Laura dan berjalan bersama menuju rumah Laura.


"Itu apaan Ra?" Tanya Rudi.


"Ini plastik warna merah" jawab Laura dengan bercanda.


"Itu warna hitam bukan merah" balas Rudi.


"Ohh, hitam ya! Ku kira hijau"


"Hahaha, apaan isinya"


"Nanti aja di dalam rumah"


Mereka berjalan menuju pintu rumah Laura dan masuk ke dalam.


Rudi dan Laura nampak sangat akrab dan sangat berbeda dengan hubungan Laura dengan beberapa penghuni kos lainnya. Hubungan mereka berdua lebih terlihat seperti seorang teman dibandingkan dengan hubungan antar pemilik kos dan penyewa.


Setelah berada di dalam rumah, Laura menaruh plastik merah itu di atas meja dan pergi menuju dapur.


Rudi penasaran dengan apa isi dari plastik merah yang misterius itu, ia membuka tali plastik itu dan membukanya. Ternyata didalamnya hanya berisi beberapa pakaian rias untuk pengantin, semua pakaian berwarna putih dengan motif putih yang lebih cerah dari warna dasarnya. Rudi mengerutkan wajahnya dan mencoba mengira-ngira untuk apa pakaian pengantin itu.


"Ra, kamu mau nikah lagi?" Teriak Rudi.


"Hah! Apa katamu Rud?"


"Kamu mau nikah lagi ya? Kok ada baju pengantin?"


Laura keluar dari dapur dengan membawa segelas kopi hitam dan susu hangat. Kemudian dia duduk dan Rudi juga ikut duduk di sampingnya.


"Bukan! Ini punya temenku, tadi disuruh ngambil. Besok katanya mau di ambil"

__ADS_1


"Ohh... Kirain kamu mau nikah lagi"


"Hahaha, apaan itu nikah."


"Cieee... Masih trauma ya?"


"Hahaha, aku? Trauma? Tidak semudah itu"


"Hahaha, kamu dari mana tadi?"


"Dari Rumah Zola, dia butuh pencerahan dengan hubungannya"


"Emang ada masalah apa?"


"Kepo!"


"Hahaha, Rudi juga manusia"


"Dia mau nikah secepatnya tapi pacarnya belum juga siap"


"Ohh, cuma begitu doang?"


"Iya"


"Kamu pantes jadi psikiater hubungan dalam"


"Hahaha, apaan tuh hubungan dalam"


...----------------...


Beberapa saat setelah Rudi bersiap, Erlang datang dan langsung menuju kamarnya. Rudi tidak butuh waktu lama untuk bersiap dan segera berangkat bersama Erlang yang sudah ada di depan kamarnya.


Lokasi pesta yang dimaksud oleh Erlang ternyata tidak terlalu jauh dari kos-kosannya, hanya butuh waktu sekitar lima belas menitan dan mereka sudah sampai di lokasi.


Sebuah tempat yang terlihat seperti ruko, Erlang mengajak Rudi menuju belakang ruko. Sebuah pintu terbuka di bagian belakang dan terlihat sangat ramai dan penuh dengan lampu yang gemerlapan.


Rudi masuk ke dalam ruko itu, terdapat dua orang laki-laki empat termasuk Rudi dan Erlang dan dua orang wanita yang terlihat masih muda berumur belasan.


Tidak seperti yang dibayangkan oleh Rudi, di dalam sana mereka hanya main catur dan gitar. Tidak ada minuman keras seperti sebuah pesta anak muda pada umumnya. Sebuah lampu yang sepertinya dibuat sendiri agar menyerupai lampu-lampu pesta dan sebuah monitor yang menayangkan sebuah kartun anak-anak tanpa ada yang menontonnya.


Rudi bersalaman dengan beberapa teman Erlang dan mereka semua sangat ramah dan menerima Rudi.


"Uhh... Ganteng banget abang ini" ucap salah satu teman perempuan Erlang.


"Hahaha, bisa aja"


"Sini duduk sini mas" ajak teman laki-laki Erlang yang sedang bermain gitar.

__ADS_1


"Kamu bisa main gitar mas?" Tambahnya setelah Rudi duduk di sebelahnya.


"Bisa, tapi masih pemula"


"Hahaha, kamu yang gitar ya mas, biar aku yang main gendang"


"Oke"


Rudi masih tidak percaya dengan yang disebut oleh Erlang sebagai pesta ternyata hanya sebuah tongkrongan seperti pada umumnya. Sebelumnya dia mengira akan ada minuman dan musik yang keras, namun setelah tiba disana semua ekspetasinya buyar tak tersisa.


Rudi bermain gitar dan diiringi dengan gendang dan suara wanita disampingnya yang cukup merdu.


Sedangkan Erlang, teman laki-lakinya dan perempuan satunya tengah asik bermain catur. Rudi mengamati wanita yang sedang asik bermain catur, wanita itu cukup pintar hingga Erlang dan temannya dibuat babak belur olehnya.


Di tengah keasikan mereka tiba-tiba datang dua orang perempuan lagi dengan membawa kantong plastik hitam.


Setelah mereka masuk, mereka membuka kantong plastik itu, empat botol minuman keras yang sepertinya harganya cukup mahal.


Namun bukan minuman itu yang membuat Rudi kagum, seorang wanita yang anggun tiba-tiba saja membuat Rudi tidak bisa bicara. Sekali lagi tuhan mendatangkan dihadapan Rudi, seorang wanita yang dengan keanggunan dan kecantikan yang luar biasa.


Celana pendek dan kaos putih ketat yang dibalut dengan jaket oversize, menambahkan sebuah pandangan yang lebih indah.


Rambutnya pendek dan mengembang, lehernya penuh lekukan halus dan putih, matanya sedikit lebar dan giginya gingsul. Rudi menatapi wanita itu sekilas dan mencoba menyadarkan dirinya agar tetap bersikap biasa aja.


Wanita itu dan temannya mengajak Rudi berkenalan.


"Andin"


"Elsa"


"Saya Rudi"


"Temannya Erlang?"


"He'em"


Rudi masih sedikit kikuk saat Andin menatapnya. Tak lama setelah itu Andin mengambil meja kecil dan menaruh Empat botol Alkohol yang baru saja ia beli.


Ia mengeluarkan enam gelas berukuran sedang dan mulai menuangkan sedikit demi sedikit dan kemudian membagikannya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


Gelas berisi alkohol itu terus diisi saat habis. Rasa yang tidak begitu manis dan cukup segar saat memasuki tenggorokan Rudi.


Salah satu teman Erlang meminta Rudi untuk bermain gitar dan Rudi mengiyakannya dan mulai bermain gitar. Salah satu teman Erlang yang bernama Arga duduk di samping Rudi dengan membawa sebuah gendang kecil dan mengimbangi permainan gitar Rudi.


Beberapa orang yang mengerti melodi yang dimainkan Rudi mulai ikut bernyanyi termasuk Andin. Rudi yang mendengar Andin bernyanyi kembali dibuat kagum oleh wanita cantik itu. Suaranya tidak kalah merdu dibandingkan dengan Laura. Cukup halus dengan nafas yang kuat dan ketukan yang tepat.


Rudi tersenyum sebentar dan kembali fokus bermain gitar.

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2