
Hari ini Andin berangkat, bersama teman-temannya dan satu sopir yang merupakan salah satu sopir ayah dari teman Andin.
Sebelum berangkat, Andin menyempatkan diri untuk menelpon kekasihnya dan berpamitan. Andin berpamitan dengan sedikit candaan yang menghibur Rudi.
"Sayang, aku berangkat ya?"
"Iya, hati-hati."
"Kamu mau oleh-oleh?"
"Boleh"
"Mau oleh-oleh apa?"
"Terserah kamu"
"Mau meteor?"
"Hahaha"
Jam dua belas siang Andin berangkat. Wanita itu berpamitan saat Rudi masih dalam perjalanan menuju terminal tujuan.
Setelah mendapat telepon dari Andin, Rudi terlihat sangat bahagia dengan senyum lebar diwajahnya. Di dalam bus itu Rudi menatap ke-depan seakan sedang membayangkan suatu hal yang indah hingga ia tidak menyadari bahwa Erlang sedari tadi memanggilnya.
"Rud...!!" Erlang memanggil Rudi dengan suara yang lebih keras.
"Ehh... Apa?"
"Telepon Jamal"
"Ok"
Setelah itu Rudi menelpon seseorang yang bernama Jamal. Jamal adalah nama kernet dari bus lain yang sudah melaju duluan.
Mereka membutuhkan informasi jalanan yang akan mereka lalui karena akhir-akhir ini sering terjadi kemacetan yang menyebabkan bus harus menunggu lama hingga kemacetan terurai.
Dan saat mereka mendapatkan informasi terjadi atau tidaknya kemacetan mereka bisa mengambil jalur lain untuk menghindarinya.
Setelah bus sampai ditempat tujuan, Rudi dan semua penumpang mulai turun satu-persatu. Erlang juga ikut turun setelah mematikan mesin dan mulai membantu Rudi yang sedang menurunkan beberapa barang milik penumpang.
"Ayo ngopi" ajak Erlang
"Gass..."
"Oh iya, kamu sudah tahu Andin sekarang sedang jalan-jalan?"
"Iya, tadi dia berpamitan"
"Aku dengar-dengar salah satu temannya ada yang super kaya dan hari ini adalah ulang tahunnya."
"Oh pantesan dia bilang kalau dianterin sopir"
"Iya, mobilnya juga bukan mobil mainan"
__ADS_1
"Hahaha, iya tidak salah juga omongan-mu"
"Hahaha"
Obrolan itu menemani perjalanan mereka hingga warung. Mereka memesan dan melanjutkan beberapa obrolan.
Suasana warung yang tidak terlalu ramai dan posisinya yang berada dekat dengan jalan raya membuat warung itu memiliki sebuah nuansa yang berbeda.
Beberapa truk besar yang lewat sering mengakibatkan goncangan ringan, hal itulah yang membuat nuansa meminum kopi menjadi sangat berbeda.
...----------------...
Bus sudah terisi penuh dan Erlang mulai menyalakan mesin bus. Dari dalam bus Erlang mengawasi Rudi yang sedang menelepon kesana-kemari. Setelah beberapa saat Rudi memberikan sinyal dengan mengangkat jari jempolnya ke arah Erlang dan masuk ke dalam bus.
"Beres semua Rud?"
"Iya sudah"
Bus memulai perjalanan terakhirnya. Rudi mulai menagih ongkos setiap penumpang.
Tidak ada tanda-tanda akan terjadi hal buruk, justru hari itu banyak penumpang wanita yang berani menggoda Rudi. Wanita-wanita itu sepertinya terpanah melihat ketampanan Rudi dan kelihatannya mereka baru pertama kali ini menaiki bus milik Rudi.
Bus itu melaju dengan kencang melewati beberapa kendaraan lainnya. Menyalip satu-persatu mobil dan truk yang ada didepannya. Jalur bus itu terlihat sangat ramai sedangkan jalur sebaliknya terlihat sangat senggang dan sepi.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil hitam terlihat seperti mini bus melaju dengan kencang. Mobil hitam itu terlihat sangat ugal-ugalan. Menyalip kanan dan langsung menyalip bagian kiri. Hingga saat mobil hitam itu hendak menyalip sebuah truk besar dengan kecepatan penuh, tiba-tiba saja disisi lain truk yang hendak disalip itu ada sebuah truk lain yang sedang mengurangi kecepatannya.
Dalam sekejap mobil hitam itu penyok dan terperosok ke dalam bagian bawah truk.
Seluruh atap mobil hitam itu rata terlibas bagian belakang truk. Suasana di jalan itu tiba-tiba langsung berubah menjadi sebuah malapetaka yang terjadi dalam sekejap mata.
"Gila Lang! Langsung hancur" ucap Rudi
"Bahaya banget cara mengemudinya"
"Iya, sepertinya sedang terburu-buru"
"Tidak menengok haluan, langsung mau nyalip dengan kecepatan penuh"
"Hahaha, eman truknya lecet"
"Hahaha"
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba terdengar suara ledakan besar dan sepertinya suara itu dari mobil hitam tadi. Rudi melihat ke belakang lagi dan terlihat kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit.
Rudi menggelengkan kepalanya seakan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Mobil yang baru saja menabrak truk itu langsung meledak.y
Rudi memikirkan orang-orang yang berada didalam mobil hitam itu. Bagaimana keadaannya? Apakah akan ada yang selamat?.
"Rud menurutmu masih ada yang selamat tidak?" Tanya Erlang.
"Sepertinya tidak"
"Atap mobilnya aja sudah ringsek depan belakang, dari situ aja sudah pasti tidak ada yang selamat"
__ADS_1
"Iya tidak tahu juga, kita doakan yang terbaik"
"Iya, semoga saja"
Bus yang dikendarai oleh Erlang itu melanjutkan perjalanan dengan suasana didalam bus yang sudah berubah. Para penumpang mulai membicarakan apa yang baru saja mereka lihat, argumen demi argumen mereka terbangkan. Berbagai spekulasi dan opini mereka ucapkan. Saling sanggah dan bantah. Rudi tidak menghiraukan para penumpang dan mengajak Erlang mengobrol hingga mereka sampai di terminal asal.
Setelah pekerjaan mereka selesai Rudi dan Erlang langsung pulang ke tempat mereka masing-masing.
Rudi juga langsung menuju kos-kosan-nya tanpa mampir kesana-kemari lagi. Setelah ia sampai dikos-nya ia langsung menuju kamarnya, membersihkan tubuhnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Ahhh... Hari ini mengerikan sekali" ucap Rudi.
Rudi yang sedang merebahkan badan itu mengambil teleponnya dan mencoba menghubungi Andin. Tiga kali ia menelpon Andin dan tidak mendapatkan jawaban. Rudi tidak berpikiran macam-macam, menurutnya Andin mungkin sedang sibuk dan meninggalkan teleponnya di suatu tempat.
Rudi menatap gitar yang ada didepannya, ia memainkan senar-senar gitar sambil rebahan. Tidak ada melodi indah dan hanya sekedar genjrengan gitar biasa yang tidak berirama.
Rudi larut dalam petikan gitarnya dan mulai terlelap perlahan. Pria itu memejamkan mata tanpa ia sadari, ia mengambang dalam sebuah kegelapan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rudi tertidur seketika di atas kasur empuknya. Pintunya masih terbuka lebar. Ia menyadari hal itu namun sudah sangat malas untuk menutupnya.
...----------------...
...Hari itu adalah sebuah gejala dari sebuah gempa yang luar biasa...
...Dunia mulai berputar tidak semestinya...
...Cinta yang tertanam akan mulai mengambang kedinginan...
...Di atas air laut yang meluap dan di bawah langit yang mulai menguap...
...Gunung-gunung meluapkan rasa kesal...
...Bunga-bunga mulai ketakutan...
...Burung-burung lelah terbang...
...Hati yang mulai terisi kenyamanan mulai merasakan kegelisahan mendalam...
...Tanpa obat, tanpa ampunan...
...----------------...
Laura berteriak-teriak dari luar kamar Rudi. Wanita itu memanggil-manggil nama Rudi dengan suara keras dan nadanya terdengar seperti sedang ketakutan.
Laura masuk ke dalam kamar Rudi dan membangunkannya. Ia menggoyangkan tubuh Rudi hingga terbangun.
"Ada apa Ra? Aku masih mengantuk!"
Laura menyeret tangan Rudi hingga Rudi duduk. Laura mengambilkannya segelas air dan menyuruh Rudi untuk meminumnya.
"Ada apa?" Ucap Rudi
"Andin Rud! Andin kecelakaan!"
__ADS_1
Gelap, hanya kegelapan yang ada dimata Rudi. Telinganya tiba-tiba tuli, mulutnya bisu, tubuhnya layu dan matanya sembab oleh air mata.