
Rudi melepas jabatan wanita itu dan kembali bermain gitar. Rudi tidak menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh teman laki-laki Erlang yang ada disebelahnya. Teman Erlang itu nampaknya menyadari bahwa Rudi tertarik dengan Andin, ia tersenyum kecil dan melanjutkan untuk mengimbangi permainan gitar Rudi.
Andin melepas jaketnya dan menaruh empat botol yang ia bawa di atas meja kecil. Kemudian ia mengeluarkan gelas dan menghitung jumlah orang yang ada di dalam sana.
Empat orang perempuan dan empat laki-laki, seperti sudah ada yang mempersiapkan jumlah mereka.
Delapan gelas berukuran sedang dangan tinggi sekitar lima sentimeter mulai diisi oleh Andin.
Erlang yang dari tadi sibuk memikirkan cara untuk mengalahkan lawan catur-nya berdiri dan menyuruh semua yang ada didalam ruangan itu untuk diam. Setelah semuanya diam Erlang tiba-tiba menyuruh berdoa dan semua orang didalam sana berdoa, hanya Rudi yang masih bingung dengan apa yang mereka lakukan.
"Bukankah ini perilaku buruk? Tapi kenapa mereka berdoa dulu?" Begitulah hati Rudi yang kaget dengan apa yang Erlang dan teman-temannya lakukan. Ia hanya diam dan kemudian tersenyum melihat tingkah konyol mereka. Rudi merasa seperti sedang dalam dunia yang sedang terbalik, ia juga mulai mengerti kenapa Erlang begitu asik dan menyenangkan.
Gelas masih terus diisi oleh Andin, satu-persatu botol mulai kosong, tersisa satu botol terakhir. Kepala Rudi sudah mulai berat begitu juga dengan Erlang dan yang lain.
Rudi memegang gitar kembali dan memainkan melodi drama dari siasat hati yang belum sempat tersampaikan kepada para peri. Ia menghayati setiap petikan, seakan bersama melodi yang terdengar rasa sakit ikut tersampaikan.
Erlang menyadari apa yang sedang dilakukan Rudi dan mencoba untuk menemaninya, tepukan tangan yang berirama, membantu Rudi lebih mendalami cerita.
Elsa juga tidak kalah peka oleh Erlang juga ikut memberikan sumbangan petikan dari jari-jarinya seperti sedang memberi petikan untuk ayam.
Tiga orang lainya juga ikut nimbrung dan membuat sebuah lingkaran. Ada yang ikut bernyanyi dan ada juga yang hanya bergumam tidak jelas dari mulut tertutup mereka. Setiap detik mereka terisi oleh sebuah kesedihan yang tidak perlu diceritakan.
Mengalir seperti air sungai dengan beberapa cerita kelam yang ikut hanyut. Andin mengambil botol terakhirnya dan meminum sedikit dari botol langsung dan memberikannya kepada yang lain. Botol itu memutar kemudian membuat mereka semua memudar hingga tersisa sedikit dan Andin menyelesaikan dan menaruh botol itu.
__ADS_1
Andin tiba-tiba saja berdiri dan memberi isyarat kepada Rudi yang sedang bermain gitar dan bernyanyi agar mengikuti apa yang akan disampaikan oleh Andin.
Andin mengikat rambut lurusnya dan mulai berbicara tentang sebuah kenangan kelam tang akan dia sampaikan.
"Sampai kapan patah hati akan tersembuhkan itu bukanlah urusan kita, kita hanya jatuh cinta dan mempersiapkan diri untuk menerima berita buruk yang biasanya akan datang setelah mawar percintaan. Aku pernah mencintai seseorang sangat dalam dan jatuhnya sangat sakit, ku kira aku yang bodoh! Ternyata cinta-lah penyebab dari setiap rasa sakit. Kini setiap pintu hati tertutup rapat dan terjaga setiap malam. mencoba menunggu satria berkuda dengan jubah merah darahnya datang dan membuka pintu yang mulai berkarat dan retak. Mungkin saja itu adalah pintu terakhir sebelum pintu abadi menutup semua jalur cinta. Apapun yang terjadi jangan sampai kita mati, larutkan diri dalam kesedihan dan kemudian bangkit lagi. Ini adalah kisah dariku, hendaklah para tuan dan puan menyambungnya dengan cerita yang lebih kelam. Demi kesenangan dan kebahagiaan mendatang."
Andin duduk kembali, ia menutup wajahnya dengan jaket seperti sedang menyembunyikan air mata yang baru saja mengalir.
Teman Erlang yang berada di samping Rudi mulai berdiri, dan bersiap melanjutkan pentas drama singkat yang dimulai oleh Andin.
Dia adalah Arga. Cerita cintanya cukup bisa dibilang biasa saja, namun cerita perjuangan karirnya cukup menginspirasi. Dimulai dari dia adalah seorang anak petani yang sering membantu orang tuanya mengurus sawah hingga mulai merintis bisnis makanan ringan dan minuman kekinian. Jatuh bangun ditipu hingga menjadi korban bentrokan yang menghancurkan gerobak dorong pertamanya.
Kini Arga memiliki lusinan cabang dan ratusan pegawai.
Singkat cerita Rudi mendapatkan gilirannya.
"Ayo Rud! Giliranmu" ucap Andin.
Rudi berdiri dan Andin memberikannya segelas alkohol dan Rudi meminumnya. Dia menarik nafas, tersenyum dan mulai bercerita. Bahkan ia memulai ceritanya dari asal-usul dirinya dan apa tujuannya merantau ke sana.
Dia hanya menutupi beberapa kisahnya dengan Laura, selebihnya ia ceritakan semuanya. Semua orang mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang menyela.
Erlang hanya menunduk diam dan tidak menatap Rudi, Elsa sudah mulai meneteskan air mata dan Andin mengejeknya.
__ADS_1
Rudi menutup kisahnya dan semua orang memberi tepuk tangan yang meriah, termasuk Erlang. Ia menghampiri Rudi dan memeluknya.
Andin menyimak segalanya namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja dan tetap cengingisan.
Elsa mengusap air matanya, ia memiliki hati yang lembut dan sangat mudah terbawa suasana.
Setelah mereka semua selesai dengan drama yang dibuat oleh Andin, mereka semua kembali duduk. Rudi masih bermain gitar dan Arga bermain gendang disampingnya.
Andin tiba-tiba saja berdiri dan menghampiri Rudi, ia mengulurkan tangannya kepada Rudi.
"Andin Putri"
"Doni Adi Bukhori"
Mereka memperkenalkan nama lengkap mereka dan saling bersalaman cukup lama. Rudi menatap mata Andin dan begitu juga dengan Andin.
"Eheemm..." Erlang mengejek mereka berdua.
"Eheemm, ciee! Eheemm!" Tambah beberapa orang yang ada disana.
Setelah mereka Rudi dan Andin, mereka semua tertawa dan disusul oleh Andin yang ikut tertawa juga.
Rudi tidak begitu mengerti apa yang mereka lakukan dan ikut tertawa dan melanjutkan bermain gitar dengan perlahan.
__ADS_1