
Seperti yang di janjikan oleh Rudi, ia mau membantu mbak Kos untuk pergi ke acara temannya. Mbak Kos juga tidak mengatur Rudi dalam bagaimana dia akan berpenampilan ataupun dia harus harus bersikap bagaiman saat tiba diacara temanya. Semuanya diserahkan kepada Rudi.
Hari Jumat pukul tujuh, Rudi sudah berdandan dengan sedikit istimewa dengan kaos hitam dan kemeja bermotif kotak-kotak, mengenakan celana hitam dan sepatu yang dia bawa dari rumah. Setelah beberapa saat setelah Rudi berdandan mbak Kos menghampiri Rudi yang masih ada di dalam kamar.
"Rudi" panggil mbak Kos pelan.
"Iya, mbak sebentar"
Kemudian Rudi keluar, dan melihat sosok wanita dewasa yang kemungkinan berumur beberapa tahun lebih tua darinya, dengan gaun merah dan tas kecil yang ditenteng ditangan kanannya. Rudi seperti melihat wanita belia, tidak ada keriput sedikitpun. Make up yang lembut dan terlihat natural, bibir merah merona dan anting emas yang memperindah wajah tante-tante pemilik kos itu.
Mbak Kos pun mengajak Rudi yang sedang menatapi dirinya dari tadi itu untuk berangkat. Rudi dan mbak Kos itupun menuruni tangga dan mbak Kos mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata itu sebuah kunci mobil dengan logo kuda berwarna emas. Rudi sedikit kaget melihat itu, sepertinya dia terlalu meremehkan bisnis kos-kosan dari dulu. Sebuah mobil yang terparkir didepan rumahnya menyala sebagai tanda kunci telah terbuka.
"Kamu bisa nyetir mobil?"
"Bbbiisa!" Jawab Rudi dengan gagap.
Mereka berdua menaiki mobil berwarna merah itu, Rudi yang mengemudi dan mbak Kos berada disebelahnya. Mereka berdua berangkat menghadiri acara yang disebut mbak Kos. Rudi mengemudi dengan sangat baik membuat mbak Kos terheran-heran dan tersenyum, dia tidak menyangka salah satu anak kosnya mengerti cara menyetir mobil mahal.
"Kamu dari kapan bisa nyetir mobil seperti ini?" Tanya mbak Kos.
"Emmm, dari kapan ya.. saya lupa"
"Belajar darimana"
"Emmm, saya juga lupa! Hehehe"
"Ahahaha, baiklah jika itu rahasia"
Mbak Kos memandu Rudi, mengarahkan Rudi untuk belok kanan dan kiri. Setelah sekitar 30 menitan mereka sampai di lokasi tempat pesta.
"Panggil saya Laura ya, Jangan mbak!"
"Laura?"
"Iya"
"Saya kira nama mbak itu sedikit ke nama orang desa, ternyata lebih modern dari yang saya kira"
"Ahahaha, bisa aja!" jawab mbak Kos/Laura dengan mengarahkan tangannya dan menggandeng tangan Rudi. Rudi kaget namun spontan ia tidak menolaknya, toh itu semua hanya sandiwara untuk membantu Laura. Apalagi tangan Laura begitu lembut dan kenyal.
Mereka berdua berjalan masuk, pesta yang sangat meriah namun tidak terlalu formal dengan tamu yang penuh dari ujung sampai ujung lainnya, Semua berpakaian sesuka mereka.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa langkah tiba-tiba Laura menarik tangan Rudi menuju sebuah meja yang berdekatan dengan sebuah jendela. Ada tiga orang disana, dua perempuan dengan garis keturunan Cina dan satu lagi seperti keturunan Arab.
"Hayyy", Sapa Laura kepada tiga wanita itu.
"Haayyyyy Ara-Araaa!!"
"Raaraaa!!"
"Unyuuukuu"
Beberapa panggilan dilontarkan kepada Laura dan mereka berempat berpelukan, Rudi masih berdiri diam dengan tangan dilipat dibawah perutnya.
"Ini Rudi, Rudi Ini Seila, Zola dan Ani"
"Hay, Saya Rudi" Rudi mencoba untuk memperkenalkan dirinya kepada tiga wanita itu dengan bersalaman.
"Uhhh, Sepertinya nenek tiri dapat ganti berondong", Cetus seorang wanita Cina dengan gaun hitam yang dipanggil Laura sebagai Seila.
"Ahahaha, Ra kakek ompong gak pernah menghubungi kamu lagi?" Tanya wanita Cina dengan gaun biru mudah yang bernama Zola.
"Ahahaha, dia berani menghubungiku akan ku bunuh" jawaban tegas Laura yang membuat Rudi mengerti mengapa dia dipanggil nenek tiri oleh Seila.
"Rudi, Kamu minum ini?" Tanya gadis berwajah Arab dengan gaun hitam yang sedang menyodorkan segelas air kehidupan berwana kekuningan dengan irisan lemon diatasnya.
Rudi memang sudah terbiasa dengan minuman-minuman seperti itu, selain merokok Rudi juga minum beberapa minuman beralkohol. Namun Rudi adalah lelaki pendiam dan tidak arogan saat ia sedang mabuk. Kedewasaan membantunya tetap dalam pikiran baik saat sedang mabuk maupun sedang marah. Selain mabuk berat.
Mereka berlima melanjutkan obrolan, membahas mantan suami dan beberapa hal yang ada dimasa lalu mereka. Laura juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tentang siapa Rudi dan kenapa dia mengajaknya ke acara pesta itu. Rudi merasa lega, sebelumnya dia berfikir acaranya akan seperti cerita-cerita ditelevisi yang harus berbohong menjadi istri atau pacar seseorang. Atau bahkan lebih parah seperti mabuk berat dan berbuat yang tidak baik didalam kamar.
Setelah beberapa obrolan, Rudi sedikit penasaran dan mencari-cari sosok yang seharusnya menjadi primata dalam sebuah pesta atau pengada pesta tersebut namun Rudi tidak menemukannya, semua orang berpesta dengan beberapa grub dan beberapa pasangan mereka.
"Kok aneh ya?"
"Aneh kenapa Rud?” Tanya Laura.
"Yang punya pesta dimana?"
"Pfttt..." Zola yang sedang minum dibuat ngakak oleh Rudi.
"Ahahaha, iya juga ya! Yang punya pesta dimana ya?" Lanjut Ani dengan nada sedikit mengejek.
"Ahahaha, Maaf-maaf Rud, dari tadi aku belum memberitahumu, yang punya pesta ini adalah Zola"
__ADS_1
"Hah?!!" Rudi kaget dan melihat Zola yang masih tertawa.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak setelah itu, termasuk Rudi sebagai dalang sekaligus orang yang mereka tertawakan.
Mereka menikmati pesta yang diadakan Zola, gemerlapan lampu pesta dengan musik yang membuat kepala pendengarnya geleng-geleng. Pesta berjalan dengan meriah tidak ada seorangpun yang membuat pesta kisruh.
Rudi sempat menanyakan apa tujuan pesta tersebut kepada Zola saat Laura pergi. Pesta tersebut dibuat untuk hiburan semata dan sudah berjalan tiga tahun secara konsisten. Pesta yang digelar tanpa undangan, Namun yang datang bukan sembarang orang, semua dari teman-teman Zola yang membawa teman-teman mereka. Rudi yang mendengar itu semua terpikirkan "Bagaimana acara ini setelah sepuluh tahun?" Mungkin akan ada lebih banyak lagi teman yang membawa teman yang membawa teman dan teman yang membawa teman. Rudi juga menanyakan perihal apakah Laura pernah datang kemari dengan mantan suaminya dan ternyata benar dia pernah kemari dengan mantan suaminya.
Pesta meriah itu berjalan tiga jam tanpa berhenti dan tiga jam itu pula Rudi saling akrab dengan teman-teman Laura. Setelah itu Laura mengajak Rudi pulang. Rudi masih tersadar setelah meminum beberapa gelas dan Laura Sudah terlihat lelah dan ngantuk. Mereka berdua berjalan meninggalkan pesta setelah berpamitan dan masuk kedalam mobil. Laura sudah tumbang dan Rudi membenarkan kursi mobil agar Laura bisa terlentang tidur dengan nyaman.
Mereka berjalan pulang dengan mobil yang nyaman itu. Di tengah perjalanan Rudi tengah asik menyetir dari tadi melihat gaun Laura tersingkap dan tiba-tiba saja Rudi merasakan hawa panas yang menyulut dari ujung kepala hingga ujung kaki, Sebuah paha yang mulus putih bersih terlihat jelas didepan matanya. Rudi terpanah dan mengarah kan tangannya dan sedikit membuka lebih jauh gaun Laura dan setelah beberapa detik menunggu Rudi mengulurkan tangannya hingga hampir menyentuh paha putih laura, Rudi dalam kemelut haus yang luar biasa, Rudi berhasrat, Rudi menginginkannya, Rudi memiliki kesempatan dan bahkan sebuah kesempatan satu kali dalam seumur hidup. Seorang wanita kaya nan cantik dan badan yang seksi putih bersih, Rudi mengamati paha mulus milik Laura, perlahan menjulurkan tangannya, semakin dekat semakin berhasrat Rudi dibuatnya. Dan...
TTTTIIIIIINNNNNNNNNNNNNN!!!!
Rudi membanting setir ke kiri, hampir saja dia beradu kepala dengan tronton besar diarah berlawanan. Rudi tersadar dari birahi sesatnya, Rudi menyebut nama tuhannya mengucapkan permohonan maaf dan rasa terimakasih dengan bersungguh-sungguh. Seolah-olah tuhan tidak mengiyakan apa yang akan dilakukan Rudi kepada Laura.
"Emmm,,.. ada apa Rud" tanya Laura dengan setengah sadar.
"Emm.. gak apa-apa Mbak"
"Masih jauh?"
"Hampir sampai Mbak"
Rudi oh Rudi apakah kau akan membuang jati dirimu yang sudah kau bangun dari dulu? Begitulah hati Rudi berkata. Dia melanjutkan perjalanan dan sampai depan teras rumah Mbak Kos. Rudi membangunkannya dengan pelan dan laura beranjak keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah setelah berterimakasih dengan Rudi. Rudi pergi meninggalkan Rumah Laura setelah menutup pagarnya. Dia berjalan menuju kamarnya dengan mengelus dada. Seperti merasa bersalah dan merasa tuhan masih mencintainya. Rudi masih tidak terima dengan apa yang barusan dia akan lakukan kepada Laura. Rudi masuk ke kamar mandi membasuh mukanya dan memandangi dirinya didepan kaca, menggeleng-gelengkan kepalanya seolah masih tidak percaya dan kemudian pergi keluar kamar mandi dan menjatuhkan badannya ke kasur. Ahhhhhhhh!!!
...****************...
...ik**ut campur tuhan adalah kegelapan yang lebih terang dari cahaya...
...himpunan dan susunan takdir tak kasat mata...
...siapa yang akan menebaknya...
...tuhan tidak seperti ciptaannya...
...tuhan tidak dilahirkan maupun melahirkan...
...kuasanya mengayomi keangkuhan hambanya...
...kasih sayangnya mengabaikan keegoisan hambanya...
__ADS_1
...****************...