ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Kembali Pulang


__ADS_3

Hari kedua Rudi berada ditempat Marni. Wanita cukup pintar memasak, Rudi seakan menjadi anak asuhnya. Marni memberinya makan, rokok, bahkan membelikannya beberapa pakaian ganti. Rudi disana hanya membantu beberapa hal seperti menyapu dan membenarkan beberapa bagian rumah yang memang tidak bisa dilakukan oleh perempuan.


Siang itu cukup panas, Rudi sedang asik menonton televisi sedangkan Marni sedang bekerja. Beberapa makanan dan satu batang rokok ganja sudah disiapkan oleh Marni.


Meskipun Rudi terlihat riang dan gembira menonton televisi, namun didalam hatinya masih ada sesuatu yang menjanggal. Dia mulai merasa tidak enak dan sungkan dengan Marni.


Rudi masuk ke dalam kamar mandi, ia berinisiatif untuk mencuci pakaian yang masih menumpuk didalam kamar mandi.


Didalam bak mandi berukuran besar itu tertumpuk beberapa pakaian Marni dan sepasang pakaian Rudi.


Rudi mulai menyiramkan air ke dalam bak mandi itu. Kemudian ia mengaduk-aduk semua pakaian yang sudah basah.


Saat dia tengah asik mengaduk dan hendak menuangkan deterjen, Rudi mengambil sebuah pakaian dari dalam bak itu. Sebuah ****** ***** yang pastinya milik Marni. Berwarna putih dengan corak bunga berwarna ungu dan biru.


Seketika Rudi terpikirkan sesuatu, sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya bergetar. Rudi terangsang dan dia keluar dari dalam kamar mandi dan mengambil satu batang cimeng yang sudah disiapkan oleh Marni. Rudi menghisap cimeng itu didalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya. Iapun mengambil ****** ***** milik Marni.


......................


Marni pulang, ia melihat beberapa jemuran sudah tertata rapih didepan rumah. Dia tersenyum dan masuk ke dalam rumah.


"Kamu yang nyuci baju Rud?"


"Bukan, tadi ada tetangga yang tiba-tiba mau nyuciin baju"


"Hahaha, baiklah"


Marni masuk ke dalam kamarnya, membuka jilbab dan mengganti bajunya. Rudi hanya duduk diam didepan televisi dan tidak berani mengintip Marni tang sedang mengganti bajunya meski terbesit didalam otaknya untuk melakukannya.


Setelah itu Marni keluar dari dalam kamarnya. Ia mengenakan celana pendek yang membuat paha putihnya terlihat dengan jelas. Wanita itu kemudian duduk di sofa dengan duduk bersila. Sedangkan Rudi duduk dibawah tanpa menatap Marni sedikitpun.


"Kamu mau melakukan rehabilitasi?"


"Memangnya itu harus ya?"


"Seharusnya tidak perlu, tapi itu untuk kebaikan dirimu"


"Kita tunda dulu ya, aku juga sudah mulai bisa mengontrolnya sendiri"


"Baiklah"


Rudi mengambil sebatang rokok dan dia menghisapnya. Dia bertanya kepada Marni apakah tindakannya akan mengganggunya dan Marni menjawabnya dengan 'tidak'.


Mereka berdua menonton televisi bersama, Rudi memberikan remote televisi kepada Marni agar wanita itu bisa memilih channel televisi yang dia sukai.


"Apakah kamu tahu cerita yang aku alami akhir-akhir ini?" Tanya Rudi.


"Iya"


"Semua?"


"Iya"


"Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu."

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu tanyakan?"


"Sepertinya itu belum perlu"


"Hahaha, kamu bisa tinggal disini sampai kapanpun"


"Aku takut teman-temanku akan Rindu"


"Rindu mereka tidak akan lebih besar dari Rinduku"


Rudi menatap Marni. Sepertinya wanita itu mengatakannya dengan serius. Tidak ada satu kerutan di wajah Marni yang memperlihatkan bahwa dirinya sedang bercanda.


"Besok aku akan ke kos-kosan"


"Baiklah"


"Kamu tidak bertanya apa yang akan aku lakukan?"


"Tidak perlu"


Terkadang Rudi berpikir bahwa Marni adalah tipe wanita yang sangat bodo amat dan cuek. Namun disisi lain wanita selalu menunjukkan perhatiannya, sebuah perhatian yang tidak pernah ditampakkan oleh teman Rudi lainnya.


"Kamu butuh rokok itu lagi? Marni bertanya.


"Tidak, satu batang sudah cukup"


"Marni sebenarnya kamu itu siapa?"


"Siapa bagaimana?"


"Hahaha, suatu hari nanti semua pertanyaanmu akan terjawab"


"Hahaha, apapun itu. Aku hanya ingin mengatakan terimakasih."


"Hahaha, sama-sama dan jangan dipikirkan."


Mereka berdua melanjutkan menonton televisi dan menghentikan semua obrolan mereka. Didalam hati, Rudi merasakan sebuah kebahagiaan kecil yang terlihat seperti sebuah cahaya kecil. Tanpa ia sadari dirinya telah melupakan segala hal yang pernah membuatnya susah tidur.


Marni begitu cantik, Kulit putih dan tubuh yang sangat indah. Sebuah keindahan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal Rudi.


Wanita yang dulu ia anggap sebagai wanita yang sangat taat agama ternyata memiliki sebuah sisi yang sangat dia sukai. Namun rasa sungkan Rudi tetap menghentikan semua hal yang ingin ia lakukan kepada Marni, termasuk mendekatinya.


Sore itu semua hal terasa tenang dan hening. Gejolak rasa sakit yang telah lama mengganggu hati Rudi perlahan mulai terobati dengan senyuman indah milik Marni yang sudah dua hari ini ia konsumsi.


......................


Keesokan harinya, Rudi bersiap untuk kembali ke tempat asalnya. Pagi itu Marni juga sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya.


"Yakin balik sekarang?" Tanya Marni.


"Iya"


"Yasudah hati-hati. Kapan-kapan kesini lagi"

__ADS_1


"Siap"


Rudi dan Marni keluar dari dalam rumah. Marni mengunci pintu rumahnya dan mereka berdua berjalan bersama hingga jalan raya.


"Oh iya, bukannya alamat yang kamu berikan kepadaku dulu itu bukan disini?"


"Ini milik salah satu bibiku"


"Terus alamatmu yang dulu?"


"Alamat Palsu"


Rudi tertawa mendengar jawaban terakhir Marni.


Sebuah angkot berhenti didepan mereka setelah Marni melambaikan tangannya. Marni masuk ke dalam angkot itu dan meninggalkan Rudi yang masih berdiri disana. Angkot itu melaju kencang hingga hilang dari pandangan Rudi.


Setelah menunggu cukup lama, angkot yang Rudi tunggu tiba dan ia langsung berangkat menuju kos-kosan-nya.


......................


Rudi sampai didepan gedung kos-kosan, seperti sudah sangat lama ia meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang berubah kecuali pemandangan yang biasa ia lihat setiap pagi. Rudi tidak melihat Laura yang biasanya menyapu latar depan rumahnya setiap pagi.


Rudi berjalan menuju kamarnya, menaiki tangga dan berhenti didepan pintu kamarnya. Ia merogoh saku jaketnya mencoba mencari kunci kamarnya.


Rudi tidak menemukan apapun didalam sakunya. Kunci dan telepon genggamnya sepertinya masih tertinggal di kantor polisi. Rudi pun tertawa, dia benar-benar melupakan banyak hal setelah tiga hari bersama dengan Marni.


Karena dia tidak bisa masuk ke dalam kamarnya, Rudi harus mencari Laura terlebih dahulu dan meminta kunci cadangan.


Rudi menghampiri rumah Laura, berharap dia ada didalam rumah. Rudi mengetuk pintu rumah Laura beberapa kali. Laura tidak kunjung keluar dan Rudi hanya bisa menunggunya sementara waktu.


Rudi memutuskan untuk kembali ke depan kamarnya, namun saat ia hampir keluar dari pagar rumah Laura, ia mendengar suara seseorang membuka kunci pintu. Ternyata itu adalah Laura, Rudi membalikkan badannya dan dia melihat Laura yang hanya memakai kain putih untuk menutupi sekujur tubuhnya.


Laura nampak sangat terkejut melihat Rudi yang sedang berjalan ke arahnya.


"Darimana saja kamu Rud?"


"Hehehe, nanti aku jelaskan"


"Terus?"


"Aku mau minta kunci cadangan"


"Sebentar"


Laura menutup kembali pintu rumahnya seakan tidak membiarkan Rudi masuk ke dalam.


Setelah beberapa saat, Laura keluar dan memberikan kunci cadangan yang Rudi minta.


Rudi tidak menanyakan apapun meskipun ia sedang curiga dengan tingkah aneh Laura yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


Rudi kembali menuju kamarnya, ia membuka pintu kamarnya perlahan.


Ternyata banyak yang berubah didalam kamarnya. Beberapa barangnya porak poranda seakan ada yang berusaha menggeledah seisi kamarnya. Rudi juga menyadari bahwa tas hitam yang penuh dengan ganja yang ia simpan didalam lemari sudah hilang.

__ADS_1


Rudi tersenyum dan mulai membereskan kamarnya yang terlihat seperti kandang sapi. Kotor oleh beberapa bungkus cemilan, botol dan putung rokok. Seluruh bajunya terurai memenuhi kamarnya.


"Sepertinya tersangka utama sudah tertangkap." Ucap Rudi dengan bahagianya.


__ADS_2