
Mereka berdua sampai di rumah sakit yang ditunjukan oleh penyaji makanan itu. Sebuah rumah sakit yang sangat mengerikan bagi Rudi. Seakan terbayangkan hal mengerikan yang akan ia temui saat masuk ke dalam rumah sakit itu.
Laura mengajak Rudi untuk segera masuk dan mencari kamar dimana Salsa dirawat inap. Laura menghampiri resepsionis rumah sakit itu dan menanyakan kamar Salsa. Salsa berada di kamar no. 57, lantai tiga.
Laura dan Rudi langsung menuju kamar Salsa dan masuk ke dalamnya.
...****************...
...Jiwa-jiwa malang bersembunyi dan bersemayam dalam senyum yang menawan...
...Kata hati ingin meluapkan namun keadaan tidak akan menyukainya...
...Apa yang mereka gunakan untuk melampiaskan adalah sepertiga malam...
...Dan yang mereka gunakan untuk menghilangkan kemalangan...
...Adalah ambang-ambang hitam sebuah harapan...
...****************...
Wajah yang dibalut dengan perban, tangan yang penuh dengan luka bakar dan tubuh yang tergeletak diam. Itulah pemandangan yang ditemui Rudi dan Laura saat pertama kali membuka pintu kamar Salsa.
Tidak ada seorang pun yang menemaninya, hanya! sebuah layar besar dan beberapa makanan yang ada di atas laci sebelah kiri ranjang tempat Salsa merebahkan dirinya.
Salsa mengetahui ada yang membuka pintu dan menoleh, ia melihat Rudi dan Laura yang terdiam mematung setelah melihat keadaannya. Salsa menangis dan menatap atap kamarnya.
Rudi dan Laura langsung menghampiri Salsa dan memeluknya. Tidak ada kata yang mereka ucapkan, sesenggukan tangis dan air mata mewakili setiap kesedihan yang ada didalam hati mereka.
__ADS_1
Laura mengelus kepala Salsa yang terbalut padat oleh perban dan Rudi hanya memegang tangannya dan sesekali mengusap air matanya.
"Sa, kamu pasti baik-baik saja" ucap Laura dengan sesenggukan.
Salsa hanya mengangguk, mulut dan seluruh wajahnya diperban, hanya tersisa mulut dan mata bulat dengan beberapa bercak luka disekitarnya.
"Kamu sudah makan Sa?" Tanya Laura lagi.
Salsa mengangguk kembali. Rudi masih diam dan tidak mengatakan sepatah katapun hingga ada seorang perawat yang akan membersihkan tubuh Salsa.
"Maaf, saatnya pasien menerima perawatan"
Laura berdiri dan menghampiri perawat itu. Rudi tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Laura dan perawat itu. Mereka berdua seperti sedang membicarakan sebuah hal yang sangat serius dalam beberapa menit.
Setelah Laura selesai dengan perawat itu, dia langsung mengajak Rudi untuk keluar agar perawat itu dapat segera memulai perawatan. Rudi memegang tangan Salsa dan kemudian menciumnya dan mengatakan akan segera kembali untuk menemani Salsa.
Rudi dan Laura keluar dan langsung pulang. Di tengah perjalanan tiba-tiba saja Rudi berteriak dengan sangat keras dan membuat beberapa pengguna jalan meliriknya. Laura menghiraukan tingkah Rudi itu, dia juga merasakan dan mengerti bagaimana perasaan Rudi saat itu. Kesal dan tidak terima dengan takdir yang menimpa Salsa. Seperti tuhan terlalu memberi banyak ujian terhadap satu hambanya yang masih belum benar-benar pulih dari trauma masa lalunya.
Setelah sampai di rumah, Laura mengajak Rudi untuk duduk dan menenangkan diri terlebih dahulu di rumahnya. Mereka masuk ke dalam rumah, Laura membuatkan sebuah minuman yang akan membantu Rudi menenangkan diri.
Rudi meminumnya dan Laura kembali menuangkan minuman itu. Empat gelas sudah Rudi minum dan Laura belum menghabiskan satu gelas miliknya.
"Ra, apa yang kamu bicarakan dengan perawat tadi?" Tanya Rudi tiba-tiba.
"Aku tadi bertanya, seberapa parah luka yang dialami oleh Salsa dan beberapa pertanyaan lainnya tentang kondisinya"
"Ceritakan padaku." Ucap Rudi yang kemudian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Luka yang dialami Salsa tidak akan bisa pulih lagi, namun tidak mengancam nyawanya. Bahkan operasi plastik tidak akan bisa karena lukanya cukup dalam hingga merusak jaringan inti kulit wajahnya..."
"Separah itu?"
Laura hanya mengangguk dan menuangkan kembali minuman yang sudah berkurang setengah dalam beberapa menit obrolan mereka.
Nampak Rudi sangat bingung dengan apa yang terjadi ditambah lagi luka Salsa yang tidak bisa dipulihkan lagi. Rudi tidak berpikiran untuk meninggalkan Salsa, yang lebih mengganggu pikirannya adalah kenapa harus Salsa yang mengalami semua ini. Keluarganya dan rumahnya yang hancur dilahap api dan kini dia mengalami kecelakaan yang merusak segala kehidupannya, itu adalah hal yang paling Rudi sesalkan. Seperti tuhan hanya punya satu hamba yang patut diuji. Seperti tuhan sedang menampakkan keangkuhannya.
Rudi mulai merasakan kebencian yang membara atas perlakuan Tuhannya terhadap kekasihnya. Kemarahan yang akan menghilangkan segala kepercayaan dan kepatuhannya terhadap pemilik segala kuasa.
Laura menatap Rudi yang mulai termakan oleh amarah, terlihat dari tatapan tajam mata Rudi dan kepalan tangannya. Laura menarik bahu Rudi dan menyandarkannya di pundaknya.
"Tenangkan pikiranmu, semua akan baik-baik saja"
"Tidak Ra! Semuanya tidak akan baik-baik saja!"
"Baiklah, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Tidak ada, aku akan tetap bersama Salsa"
Keteguhan hati Rudi membuat Laura sangat iri, kenapa pria seperti dia tidak datang didalam hidupku? Begitulah yang Laura pikirkan saat mendengarkan perkataan Rudi.
"Besok kita ke sana lagi?"
"Iya, jika kamu sibuk tidak apa, aku akan kesana sendiri"
"Emm... Tidak! Tidak ada kesibukan untuk beberapa hari ke-depan, aku akan menemanimu." Ucap Laura.
__ADS_1
Rudi oh Rudi, begitu malang nasibmu namun sangat tangguh keteguhanmu. Bertahan dengan seorang wanita sudah tidak bisa kau nikmati keanggunan wajahnya, kau adalah satu dari satu banding sejuta laki-kaki paling setia di dunia.
...****************...