
Hari itu benar-benar hari yang sangat menakutkan bagi Rudi. Ia tidak tahu harus berkata apa pada dirinya sendiri, ia tidak tahu harus bagaimana dengan segala hal buruk yang terjadi pada hubungannya. Seakan dirinya tidak diizinkan untuk memiliki seorang wanita yang dia cintai.
Baru saja hatinya ia teguhkan untuk mencintai Andin dan sekarang ia harus berusaha menyingkirkan segala kenangan dan perasaannya terhadap wanita yang ia cintai.
Setelah Laura memberi tahu Rudi, wanita itu langsung mengajak Rudi menuju rumah sakit tempat Andin dan beberapa temannya akan di otopsi.
Laura mendengar kabar tentang Andin dari Erlang. Erlang juga mengatakan kepada Laura bahwa Andin dan teman-temannya menggunakan mobil berwarna hitam dan kecelakaannya cukup parah. Mobil yang ditumpangi Andin dan teman-temannya adalah mobil yang hitam yang menabrak truk dari belakang hingga meledak.
Erlang menyuruh Laura agar tidak memberitahukan hal itu kepada Rudi agar tidak membuat kekasih Andin itu semakin tertekan.
Saat Rudi sudah sampai di rumah sakit, ia berusaha untuk memasuki kamar dimana Andin akan diotopsi, namun ia dicegah oleh beberapa penjaga.
Tidak ada yang memberi tahu Rudi tentang seperti apa kecelakaan yang dialami oleh Andin. Semua orang yang berhubungan dengan kejadian itu sudah sepakat untuk tidak memberitahukannya.
Laura hanya diam menatap Rudi yang masih berusaha untuk masuk kedalam ruang otopsi. Laura tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Rudi.
...----------------...
Beberapa saat kemudian Erlang datang ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Laura bahwa ia sudah membawa Rudi kesana.
Erlang datang bersama beberapa orang yang tidak Rudi kenal. Beberapa dari mereka ada yang menangis sejadi-jadinya.
Erlang langsung menghampiri sahabatnya dan merangkulnya dengan erat.
"Sabar Rud! Sabar"
Erlang mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan mengelus-elus punggungnya sambil tetap memeluknya.
Setelah Rudi terlihat lebih tenang, Erlang mengajaknya untuk duduk berdua dan menjauh dari keramaian orang-orang yang sedang menangis dan berteriak histeris.
Rudi duduk di samping Erlang dengan sesenggukan dan sesekali ia mengelap air matanya dengan kaosnya. Ia tidak mengatakan apapun. Erlang sangat mengerti dengan keadaan Rudi saat itu, ia tidak mengajak Rudi berbicara melainkan hanya mengelus punggungnya.
"Lang, Andin benar-benar sudah tiada ya?" Ucap Rudi.
Erlang tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk.
"Jadi dia tidak akan hidup lagi?"
__ADS_1
Sekali lagi pertanyaan Rudi sangat sulit untuk dijawab oleh Erlang dan dia hanya mengangguk lagi.
"Kamu tahu bagaimana kejadiannya?"
Erlang mengangguk sekali lagi dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Andin dan teman-temannya.
Rudi menunggu Erlang menceritakannya, tatapan matanya kepada Erlang terlihat sangat serius dan menakutkan.
"Kamu ingat dengan kecelakaan mobil hitam yang saat kita dalam perjalanan tadi siang?"
Seketika mata Rudi langsung terbelalak kaget, kemudian Rudi memalingkan pandangannya dari Erlang dan menghadap ke depan. Wajah Rudi terlihat sangat serius dan seperti sedang memikirkan apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu serius Lang?"
"Iya"
"Hahaha" Rudi tertawa pelan.
Rudi melebarkan kedua telapak tangannya kemudian ia pukul wajahnya dengan keras. Setelah itu ia menyandarkan punggungnya ke tembok yang ada didepannya.
"Aku pulang dulu Lang"
"Tidak perlu"
"Kamu yakin? Kamu baik-baik saja kan?"
"Iya aku baik-baik saja"
Kemudian Rudi beranjak dan pergi dari rumah sakit. Erlang hanya mengamatinya dari belakang hingga Rudi keluar dan masuk ke dalam sebuah angkot.
Erlang berdiri didepan sebuah jendela kaca besar yang ada dilantai dua rumah sakit. Ia percaya Rudi akan baik-baik saja.
"Rudi kemana Lang?" Laura bertanya.
"Dia bilang lau pulang"
"Kenapa tidak kamu antar dia?"
__ADS_1
"Rudi menolaknya"
Laura yang tiba-tiba ada dibelakang Erlang itu berjalan maju dan berdiri disampingnya.
"Apakah Rudi akan baik-baik saja?"
"Iya, dia pasti akan baik-baik saja. Rudi hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya"
"Aku sangat kasihan dengan Rudi"
"Aku juga demikian"
"Cerita FTV yang ia inginkan seakan menikamnya dari belakang"
"Entah ini bencana atau jawaban dari keinginannya"
Laura mendekati Erlang dan menggenggam tangannya.
"Kamu jaga diri ya"
"Iya"
...----------------...
Di dalam rumah sakit itu, tepatnya di depan kamar tempat Andin dan teman-temannya dalam peristirahatan. Beberapa orang yang tadinya sesenggukan mulai mereda dan tenang.
Beberapa keluarga dari teman-teman Andin mulai berdatangan kecuali keluarga Andin. Tidak ada yang tahu kenapa keluarga Andin belum juga datang. Hanya Erlang dan Laura mengurus segala administrasi.
Hari kelam itu sudah mulai gelap dan adzan isya'telah berkumandang. Laura dan Erlang keluar rumah sakit dan mencari udara segar.
Sepasang kekasih itu duduk dibawah pohon yang ada disamping parkiran mobil.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Rudi?" Kata Laura
"Entahlah aku masih belum tahu apa yang sebaiknya kita lakukan"
"Kita tunggu saja besok, aku takut jika Rudi akan melakukan hal yang tidak-tidak."
__ADS_1
...----------------...