
Rudi berniat untuk menemui Marni, sore itu sepulang kerja ia langsung menuju tempat tinggal Marni. Rudi membawanya beberapa makanan ringan sebagai oleh-oleh.
Setelah sampai didepan rumah Marni, ia langsung masuk ke dalam rumahnya dan memanggil Marni. Aroma dari sebuah masakan yang masih dalam proses pematangan tercium oleh Rudi.
"Eh kamu Rud" ucap Marni sambil mengorek masakannya.
"Lagi masak apa?"
"Cuma tempe goreng manis. Kamu sudah makan?"
"Iya sudah, ini bawakan sedikit cemilan"
"Hehehe terimakasih, taruh di sana dulu Rud. Aku hampir selesai."
"Baiklah"
Rudi kembali ke ruang tamu, dia menyalakan televisi dan duduk disofa. Sambil menunggu Marni yang hampir selesai memasak, Rudi menyalakan datu batang rokok miliknya. Hari itu dia belum mendapatkan jatah ganja lagi sehingga dia tidak bisa melakukan ritualnya seperti biasa.
Cukup lama Rudi menunggu, Marni keluar dari dalam dapur dengan membawa sepiring nasi putih dan satu piring penuh berisi tempe goreng yang terlihat sangat lezat dengan campuran kecap manis dan beberapa irisan bawang merah, cabai dan benda coklat lembut yang terlihat seperti bawang putih lembut yang sudah digiling.
"Kamu serius sudah makan?" Tanya Marni.
"Iya sudah, kamu makan dulu aja"
"Padahal aku mau suap-suapan sama kamu"
"Hahaha, maaf aku bukan koruptor. Tidak menerima suap."
"Hahaha, pinter banget"
Marni duduk disampingnya dengan bersila. Sepiring nasi putih ia taruh dipangkuan dan tempe gorengnya ia taruh diatas meja. Rudi tengah asik menonton televisi sambil memakan tempe goreng milik Marni.
Marni begitu rupawan, cara makannya terlihat sangat menawan. Tidak ada suara dari mulutnya. Begitu lembut dia mengunyah makanannya.
Rudi sesekali menatap Marni, entah bagaimana dia mengatakan perasaannya yang masih belum begitu jelas. Dia tidak merasakan sebuah kekaguman yang sama dengan saat dia mengagumi Andin dan Salsa.
Sebuah perasaan yang cukup aneh, dia seakan mengidolakan sosok Marni. Dia menyukai wanita itu, namun disisi lain dia seakan tidak mampu untuk memilikinya. Benar-benar sebuah gejolak yang membuat bingung.
Sementara mereka berdua tengah asik dengan kesibukan masing-masing, tiba-tiba ada seorang pria kekar bertato memanggil nama Marni. Pria itu tidak langsung masuk, dia menunggu Marni menjawabnya dan baru masuk setelahnya.
"Ada apa?" Tanya Marni.
"Pesananmu" pria kekar itu menyodorkan sebuah bungkusan kecil berwarna putih.
Setelah memberikannya kepada Marni, dia menatap Rudi sebentar dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Siapa pria itu?"
"Pengen tahu?"
"Iya"
__ADS_1
"Tanya ke orangnya langsung saja"
"Hahaha"
Marni menaruh bungkusan putih kecil itu di atas meja. Rudi penasaran dengan apa yang ada didalamnya, namun dia berusaha menyingkirkan rasa penasarannya dan melanjutkan menonton televisi.
"Rud, kamu masih memikirkan masa lalu-mu?"
Rudi tersentak mendengar pertanyaan Marni yang tanpa basa-basi itu. Dia merinding, mulutnya membeku dan dia tidak langsung menjawab pertanyaan Marni.
Marni telah selesai makan. Dia masuk ke dalam dapur. Marni seakan tidak peduli apakah Rudi akan menjawab pertanyaannya atau tidak.
"Kamu gak gerah pakai jaket terus?" Ucap Marni setelah keluar dari dapur.
Rudi melepaskan jaketnya dan marni mengulurkan tangannya mengambil jaket Rudi. Wanita itu kemudian menaruh jaket Rudi.
Marni duduk kembali disampingnya dan mengambil alih tayangan televisi yang hanya menayangkan berita bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini.
"Akhir-akhir ini aku mulai melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi didalam hidupku."
"Apakah kamu bisa melupakan segalanya?"
"Aku rasa bisa"
"Datanglah kepadaku jika kamu butuh bantuan"
"Hahaha, terimakasih. Ada satu hal yang sangat ingin aku tanyakan"
"Tapi jangan tersinggung"
"Aku bukan wanita yang mudah tersinggung"
"Baiklah, kenapa kamu begitu perduli dengan diriku yang bisa dibilang orang asing ini?"
"Hahaha, kamu bukan orang asing bagiku. Aku sudah mengenalmu dari dulu"
"Sejak kapan?"
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang"
"Jadi apakah kita berteman?"
"Hehehe, baik temanku"
Saat itu juga, seakan didalam hati Rudi terdapat sebuah cahaya kecil yang semakin terang. Dia merasakan sebuah kebahagiaan yang seakan sudah lama terpendam didalam hatinya.
Rudi membenarkan posisi duduknya, dia menyandarkan kepala dan punggungnya disofa yang lembut dan empuk. Sementara Marni dia menatap televisi seakan memperhatikan tayangan yang ada di televisi itu. Terlihat jelas hanya mata Marni yang fokus pada tayangan televisi, hatinya sedang berbunga-bunga dan bibirnya yang terlihat sangat lembut dan mempesona itu tersenyum kecil. Sangat kecil dengan arti yang sangat besar.
"Oh iya, aku masih bingung bagaimana aku memanggil dirimu"
"Panggil saja Ani, beberapa orang terdekatku memanggilku begitu"
__ADS_1
"Baiklah Ani"
"Hehehe..."
Didepan televisi itu mereka berdua mulai mengobrol layaknya seorang teman. Rudi mulai merasa sangat dekat dengan wanita itu. Beberapa guyonan dan cerita lucu disampaikan oleh Rudi untuk membuat Marni tersenyum. Dia mulai tergila-gila dengan senyuman wanita itu.
......................
...Perasaan itu pernah aku rasakan...
...Jutaan bunga dalam ladang impian...
...Aku jatuh cinta padamu dan engkau juga demikian...
...Perlahan kita berjalan...
...Dalam deras ombak dan gelapnya malam...
...Sesekali kita bergandengan...
...Sesekali kita saling mengadu pukulan...
...Kita menyemai dalam warna-warni...
...Aku sangat menyukai hari itu...
...Hari dimana senyumanmu diadu dengan bunga melati...
......................
Rudi berpamitan kepada Marni. Hari sudah mulai gelap dan dia juga merasa tidak enak dengan beberapa tetangga Marni. Rudi buru-buru pergi keluar dari dalam rumahnya.
Rudi berjalan menunduk dengan tersenyum hingga ia lupa bahwa jaketnya masih ada didalam rumah Marni.
Rudi kembali dan mengambil jaketnya, dia berpamitan lagi dan Marni tertawa lepas melihat tingkah konyol Rudi.
Beberapa saat kemudian saat Rudi telah sampai di depan kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan melepas jaketnya. Entah apa yang dia pikirkan, dia merogoh saku jaketnya meskipun ia tahu bahwa dia tidak menyimpan apapun disana.
Rudi menemukan sebuah bungkusan putih kecil didalamnya. Dia teringat dengan barang yang diberikan oleh seorang pria galak bertato kepada Marni.
Rudi membuka bungkusan itu, dia terkejut bukan main. Bungkusan itu ternyata berisi beberapa ganja. Rudi tersenyum kembali, dia mengingat wajah Marni yang berusaha membantu dirinya tanpa mengatakan apapun.
"Benar-benar wanita yang menakutkan. Hahaha..."
Saat itu juga Rudi mengunci rapat kamarnya dan mulai melakukan ritualnya. Satu hisapan dan dia langsung teringat dengan teman matinya yang sudah sangat lama tidak ia sapa.
Rudi mengambil gitar yang sudah sangat lama tidak ia gunakan. Ia membersihkan debu-debu yang menempel pada gitar kesayangannya itu.
Ia mulai menekan beberapa senar. Rudi melakukan pemanasan hingga ia benar-benar memainkan melodi yang telah lama mati.
Tidak pernah terbayangkan olehnya jika petikan gitar dan lagu-lagu yang ia nyanyikan akan terasa semenyegar-kan itu. Seakan udara segar yang sudah lama tidak singgah didalam tubuhnya mulai masuk perlahan melalui ubun-ubunnya.
__ADS_1