
...Lintang dari tenggara menyampaikan salam dengan gembira...
...Hati manusia yang tatkala resah ubah menjadi taman bunga nan indah...
...Belenggu lepas derita pergi tak kembali...
...Lintang itu adalah kejayaan kekal dan abadi...
...Datang dari tenggara dan pergi ke dalam hati tiap manusia...
...Menyembuhkan serta menjadi mentari...
...Lintang itu abadi bagai doa-doa ibu dimalam hari...
...----------------...
Pagi itu Rudi berjalan mundur dari depan tangga hingga keluar area kos. Ia menyapa Laura yang sedang berdiri dengan sapu ditangannya. Laura tertawa tanpa henti melihat Rudi yang sedang bertingkah konyol, bak anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orangtuanya.
Pria tampan dan gagah itu menuju terminal dengan hati yang gembira. Suasana hatinya sedang baik. Senyumnya yang lebar seperti sedang menebar bahagia untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.
Rudi menyapa beberapa orang, bahkan dia juga menyapa manusia yang tidak ia kenal. Dia terlihat sangat girang dan tidak ada satu orangpun yang mengetahui sebab kenapa ia girang.
Si girang itu sampai di terminal. Erlang sudah berada disana, ia melihat Rudi dari kejauhan. Erlang menaikkan alisnya seakan sedang heran dengan tingkah Rudi. Semakin Rudi mendekat, perasaan heran Erlang semakin menjadi-jadi. Erlang terlihat sangat ingin menanyakan hal yang membuat Rudi begitu bahagia hari itu.
"Baru dapat jackpot?" Erlang bertanya.
Rudi tidak menjawab pertanyaan Erlang, ia justru bersiul dan semakin mendekat ke arah Erlang. Rudi kemudian menggandeng tangan Erlang dan mengajaknya berputar-putar. Erlang tidak menolaknya dan menuruti apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu. Ia berputar-putar cukup lama hingga ia merasa lelah dan berhenti.
"Kamu tahu tidak?" Rudi bertanya.
Pertanyaan aneh Rudi itu tidak mudah dijawab oleh Erlang dan dia hanya mengangguk dan menunggu Rudi melanjutkan perkataannya.
"Tadi malam aku telponan sama Andin, terus kita berdua ketiduran dan pulsa seratus ribu milikku habis hanya untuk mendengarkan Andin mendengkur."
Wajah heran Erlang seketika berubah menjadi wajah sumringah dan berseri-seri. Dia langsung tertawa setelah mengetahui alasan Rudi menjadi sebahagia itu.
__ADS_1
"Kenapa teman-temanku pada bodoh semua ya" ucap Erlang sambil tertawa.
"Hahaha, padahal pulsa itu kan uang terakhir untuk bulan ini. Mana masih lima hari lagi baru gajian."
"Hahaha, beli lagi dong."
"Hahaha, semenjak aku jadian dengan Andin, tabunganku adalah nol besar"
"Hahaha, itulah yang dimaksud dengan 'cinta itu buta!' Hahaha..."
Sebuah perkara lucu yang jarang orang mengerti karena kebanyakan orang akan sedih saat mengetahui pulsa sekaligus uang terakhirnya lenyap hanya untuk mendengarkan orang mendengkur, meskipun itu untuk kekasihnya sendiri.
Mereka berdua kemudian mulai bekerja setelah lelah saling tertawa dan bercengkrama. Bus melaju menyusuri jalan-jalan yang sudah tidak lagi asing untuk mereka.
Saat tiba di terminal, pak Darto tiba-tiba saja langsung menghampiri mereka berdua dengan wajah sedikit serius.
"Lang, Rud ikut saya." Ajak pak Darto.
Erlang dan Rudi tanpa bertanya mengikuti pak Darto dari belakang sambil cengingisan, sedangkan pak Darto tidak menggubris mereka sama sekali.
"Nanti apapun pertanyaannya cukup jawab iya aja ya." Ucap pak Darto serius.
Mereka berdua mengangguk tanpa membantah. Terlihat jelas raut pak Darto sedang sangat serius.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam sebuah ruangan, seperti sebuah ruangan yang digunakan untuk rapat. Dua kursi sofa panjang, satu sofa pendek dan sebuah meja yang terbuat dari kayu.
Ada dua orang duduk disana, satu berkacamata dan satunya lagi gendut dengan perut buncit namun tidak memakai kacamata.
Dua orang itu mempersilahkan mereka duduk. Setelah duduk nampak raut wajah pak Darto menjadi sedikit tegang dengan keringat dingin bercucuran.
"Apa benar kamu mau keluar?" Tanya si kacamata.
"Iya benar"
Suasana hening menjadi hening sesaat. Erlang dan Rudi kaget mendengar pertanyaan pertama dari mereka berdua.
__ADS_1
Setelah cukup lama hening, dua orang itu kemudian menghadap ke arah Erlang dan Rudi yang duduk di sebelah pak Darto.
"Jadi siapa yang akan menggantikan pak Darto?" Si kacamata bertanya.
Rudi dan Erlang kebingungan mendengar pertanyaan itu, kemudian pak Darto menunjuk Erlang sambil mengatakan bahwa Erlang yang akan menggantikan dirinya.
"Kamu bisa nyetir bus?"
"Iya bisa" jawab Erlang sesuai yang diminta oleh pak Darto.
"SIM ada?"
"Iya ada"
"Kamu siap untuk menggantikan pak Darto?"
"Iya siap."
"Baiklah kalau begitu. Nanti saya akan mengurus surat pengunduran diri pak Darto secepatnya."
"Terus kamu ngapain kesini?" Tanya si gendut sambil menatap Rudi.
Rudi kebingungan, dia menatap pak Darto sambil mencari bantuan jawaban, namun pak Darto justru malah mengabaikan Rudi.
"Loh ditanya kok tambah diam saja." Lanjut si gendut.
"Emmm... Saya anu... Saya cuma diajak kesini sama mereka berdua pak."
"Ohh... Baiklah"
Rudi lega pertanyaan si gendut itu hanya sampai disitu. Rudi merasa seperti sedang dipermainkan. Erlang dan pak Darto terlihat cengingisan sambil menutup mulutnya.
Rudi kembali lagi dipermainkan oleh teman satu pekerjaannya seperti dulu saat ia dipermainkan oleh pakde Kirun. Rudi tidak merasa marah atau kesal, justru ia menganggap hal itu sebagai guyonan tingkat atas yang hanya bisa diperankan oleh sahabat antar sahabat.
...----------------...
__ADS_1