
Hari demi hari, Rudi berangkat dan pulang degan berbagai macam pengamalan dan lebih banyak lagi kenalan. Teman Rudi mulai bertambah. Rudi larut dalam kebiasaan barunya tidak terpikirkan sama sekali keluarga yang ada rumah.
Sabtu pukul tujuh pagi, Rudi berangkat bersama Salsa yang saat itu sedang mengenakan baju warna merah dan celana katun tebal. Salsa menutupi bajunya dengan jaket. Sedangkan Rudi? Masih sama seperti biasa, kaos seadanya dan celana jeans favoritnya. Mereka berjalan bersama seperti seorang teman yang sudah saling kenal sejak kecil, sangat akrab dan penuh canda tawa. Sesekali Rudi menjaili Salsa dengan menggelitiki perutnya, Salsa juga tak mau tertinggal untuk menjaili Rudi dengan membalasnya, Salsa menendang kaki Rudi yang sedang berjalan di depannya hingga terjatuh. Tidak ada dari mereka yang menganggap tindakan itu sebagai keseriusan, mereka saling menjaili satu sama lain dan menertawakan satu sama lain.
"Oh ya, Rud! Sesekali makan di luar yuk!!"
"Dimana? kapan?"
"Emmm, dimana ya? Kamu yang nyari tempatnya, Minggu mungkin enak"
"Minggu? Siang apa malam?"
"Siang"
"Minggu besok aku kerja"
"Emmm, Nanti malam? bisa?"
"Biii... sa!" jawab Rudi ter-batah-batah memikirkan apa yang akan dia lakukan, mungkin ada jadwal untuk hari itu.
"Baiklah nanti malam, kamu yang nentuin tempatnya"
"Ok"
Percakapan mereka terhenti setelah Salsa sampai ditempat biasa ia turun dari angkot dan Rudi masih dalam perjalanan didalam angkot yang hanya berisi tiga butir orang termasuk dirinya.
__ADS_1
"Mas, itu pacarnya ya?" tanya seorang bapak-bapak yang mengenakan pakaian seperti seorang pekerja kantoran, yang duduk di sampingnya.
"Ehhh... Bukan! Bukan! Dia teman saya" jawab Rudi yang kaget dengan pertanyaan aneh dari bapak-bapak asing itu. Setelah mendengar jawaban dari Rudi, bapak-bapak itu tersenyum dengan mata yang mengisyaratkan seolah-olah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rudi. Rudi tak menghiraukannya dan memalingkan wajahnya. Menghadap ke belakang tepat dimana kaca angkot menampakkan seorang anak kecil yang saling berhamburan memainkan sebuah permainan tradisional. Rudi teringat masa lalu, dimana saat dia masih berada di desa dan bermain dengan teman-temannya hingga larut sore dan melanjutkan permainan setelah magrib dan selesai ketika orang tua mereka menjemput dan marah. Sering pulang dengan badan penuh lumpur hingga tak jarang juga dipaksa pulang oleh ayah yang sedang marah. Beberapa pukulan sandal mendarat di pantat dan paha. Itu adalah hal mengerikan yang kini ia pahami maksudnya. Rudi menganggapnya sebagai bumbu kedewasaan, meskipun tak jarang kekerasan yang dilakukan oleh orang tua membuat anak menjadi liar dan tak terkendali, namun bagi anak yang mau berpikir;maka semua itu hanyalah sebuah cerita lucu sekaligus pembelajaran tentang kerasnya kehidupan.
Rudi Sampai di terminal, De Run terlihat dari jauh sedang mencari penumpang, Rudi pun menghampiri dan membantunya. Satu per-satu penumpang menaiki bus dan tidak butuh waktu lama semua kursi terisi penuh. Sungguh hari yang indah bagi para sopir dan kernet bus mendapatkan penumpang secepat itu.
Bus pun mulai berangkat, terkadang ditengah perjalanan bus masih berhenti dan memasukkan penumpang lagi, Kursi yang penuh membuat para penumpang tambahan ini harus rela berdiri, dan akan tetap berdiri hingga ada kursi yang kosong. Rudi mulai menagih ongkos mereka sedangkan De Run tenga asik berbincang dengan penumpang di depan.
Antara sedih atau senang, Rudi harus berhimpitan dengan para penumpang, terutama penumpang yang membawa tas besar. Berbagai macam bau dan wewangian membuat Rudi sedikit mual namun dia harus tetap menagih dan memberikan tiket perjalanan.
Beberapa jam berlalu, Bus sampai di tempat tujuan, beberapa penumpang mulai turun dan berhamburan. Ada yang menunggu jemputan ada juga yang menaiki angkot dan ojek.
Dari depan tempat sopir bus berada De Run berjalan menghampiri Rudi dan mengajaknya minum kopi.
"Ayo ngopi sek, kata sopir kita istirahat dulu"
"Hahaha, Alhamdulillah sampek poll kursinya"
"Aku sampek gak bisa napas"
"Ahahaha, masih kuat gak? kalo gak kuat tidur dulu aja"
"Kuat!, lanang kok" ("kuat laki kok")
Mereka berdua turun dari bus dan berjalan menuju warung kopi.
__ADS_1
Masih pukul sepuluh pagi, Rudi dan De Run asik menyeruput kopi dan berbincang kesana-kemari. Hingga tak terasa sudah satu jam mereka bersantai saatnya balik ke terminal asal. Rudi kembali menuju bus dan mencari penumpang tak lama kemudian bus hampir terisi penuh, ramai tapi tidak seramai keberangkatan dari terminal tadi pagi.
Hari Sabtu adalah hari dimana para pekerja terutama pekerja yang berada jauh dari rumah kembali ke kampung halaman masing-masing untuk melepas rindu dengan keluarga di rumah. Para perantau dan mahasiswa juga memenuhi beberapa kursi bus. Setelah sekian jam, Rudi tiba di terminal dan buru-buru pulang. Namun saat hendak keluar dari terminal terdengar seseorang memanggilnya.
"Diii, Rudiiiii!!"
Rudi menoleh mencari suara itu, yang pastinya itu adalah suara serak pakde Kirun.
"Mau kemana, ini jatahmu hari ini". Sambil mengulurkan Uang kertas berwarna biru.
"Wahh, kok banyak de"
"Iyo, Supirnya sedang bahagia"
"Hahaha, suwun de"
"Iya , sama-sama, mau kemana kok buru-buru?"
"Hahaha, biasa sabtu malam, nyari angin"
"Angin kehangatan ya?"
"Iya dong!"
Rudi berlari menuju jalan raya tempat dimana angkot menunggu penumpang. Dia pulang dengan bahagia, selain mendapatkan jatah yang lumayan dia juga memiliki janji spesial dengan Salsa.
__ADS_1
Rudi yang berada didalam angkot duduk dengan tangan menopang dagu, membayangkan bagaimana dia akan berdandan, membayangkan bagaimana akan berjalan malam minggu pertamanya dengan Salsa. Akankah ada hal istimewa diantara mereka? ataukah hanya akan menjadi makan malam dan perjalanan seperti biasanya.
...****************...