ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Saatnya Jujur


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak ada seorang wanita yang mengaku sebagai temannya dan menyebutkan bahwa namanya adalah Marni, Rudi masih saja memikirkan siapa wanita itu sebenarnya. Kenapa dia mengaku sebagai temannya namun tidak menemuinya atau paling tidak menyapanya? Rudi bergejolak dalam banyak pertanyaan yang membuatnya bingung.


Mencoba menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikirannya dengan bermain gitar, namun justru itu semakin membuatnya tidak bisa untuk tidak memikirkan wanita itu. Rudi meletakkan gitarnya menyulut putung rokok dan menghisapnya.


Rudi mencoba menerima rasa penasaran itu dan perlahan perasaan itu hilang bersama dengan asap-asap yang tertiup angin.


"Rud, mikirin apa?"


"Ehh, Kamu Ra!"


"Ada masalah apa Rud?", Tanya Laura sembari meletakkan pantatnya disamping Rudi.


"Gak ada masalah apa-apa Ra, hanya kemarin ada seorang wanita dia mengaku sebagai temanku, namun tidak menemuiku dan tidak menyapaku"


Rudi menceritakan semuanya kepada Laura dengan detail. Laura hanya diam dan menyimak cerita Rudi hingga akhir.


"Kamu tahu siapa dia?", Tanya Laura setelah Rudi selesai bercerita.


"Tidak! Tidak sama sekali, nama dan wajahnya pun aku tidak kenal"


"Hmmm aneh ya, jangan-jangan dia fans rahasiamu"


"Hahahaha, ngefans sama kernet adalah hal paling bodoh"


"Bisa jadi, bisa jadi dia hanya melihat ketulusan dan kebaikanmu"


"Hmmm, memang ada hal seperti itu didunia ini?"


"Bisa saja ada, lihat tuh Salsa"


"Hahahaha, Iya Salsa"


"Kamu suka sama Salsa?"


"Suka, dia lucu! hahaha"


"Bukan itu maksudku kepettt!"


"Hahaha, terus apa?"


"Perasaan, ada gak?"


"Hemm, kan perasaanku cuma buat kamu!"


"Uhhh, jadi malu", Kata Laura dengan nada manja dan mencubit paha Rudi.


"Oh iya, Salsa belum datang ya?", Lanjut Laura.


"Iya, sudah jam 5 dia juga belum pulang"


Mereka berdua melanjutkan percakapan itu dan sesekali Rudi bermain gitar dengan diiringi suara merdu milik Laura.


Sudah hampir sejam dan Salsa masih juga belum pulang. Laura kembali ke rumahnya dan Rudi juga berangkat ke kamar mandi.


Suara adzan mulai berkumandang Rudi masih didalam kamar dan bermain gitar. Hari-hari ia habiskan dengan bermain gitar dan berlatih berbagai macam lagu dan genre.


"Tok-tookk! Pakett mass! pakett"


Rudi tertawa mendengar suara wanita yang terdengar imut dan lucu itu. Suara Salsa begitu akrab dengan telinga Rudi bahkan aroma parfumnya juga tidak pernah asing bagi Rudi. Rudi segera membukakan pintu dan menyuruh salsa masuk. Kini Rudi sudah nampak lebih berani bagi Salsa.


"Mass, langsung aja ya mass", Salsa menggoda Rudi.


"Tidak... Tidak jangan lecehkan aku, aku sudah wudhu"

__ADS_1


"Hahahaha, Respon yang bagus. Ku beri seratus"


"Hahaha, dari mana saja baru pulang"


"Huhuhuhu, dia datang lagi Rud! Dia datang lagi"


"Haahh, siapa?"


"Itu yang kemarin ku ceritain, pengusaha ikan yang namanya solomonen bin solomunin bin sulmuninin"


"Hahahaha, ngapain dia kesana?", Tanya rudi sambil tertawa mendengar nama ayahnya dipermainkan oleh Salsa.


"Dia bilang dia suka sama masakanku, huhuhu"


"Lahh, bagus doong!"


"Bagus gundulmu, kalo nanti dia datang teros, matilah aku. Pulang malam teross"


"Hahaha, dapet tip gak?"


"Hahahahah, dapet donggggg!", Wajah Salsa tiba-tiba menjadi sangat ceriah.


"Haaahhuuu, berapa tuhh?"


"Banyak Rud!, Sumpah banyak banget"


"Hahaha berapa?"


"Ehh dua kali gaji aku sebulan, gila gak tuh orang!!", Jawab Salsa girang.


"Hahaha, emang gilaa tuh orang!"


"Punya bapak baik kek gitu, pasti anaknya manja-manja"


Banyak yang mengira menjadi anak orang kaya akan membuat anak menjadi manja, namun Rudi yang mengalami hal itu sangat tidak setuju. Sebagai anak pertama dan terakhir, Rudi sudah merakan makan garam bersama dengan orang tuanya. Memulai bisnis dan gagal, tidak punya uang dan banyak hutang, diremehkan bahkan tidak dianggap oleh keluarga. Semua itu membuat Rudi menjadi pribadi yang tidak pernah meminta kepada orang tuanya untuk setiap keinginannya Rudi akan berjuang sendiri.


Tiba-tiba rudi melamun dan mengingat setiap hal penuh rasa pahit didalam hidupnya dulu, kadang dia tersenyum kadang dia hendak menitihkan air mata.


"Ruuddd!"


"Ruuudiii"


"Woyyy!! Slempang kanan sepion kiri!"


"Aaahh, ahhh. hahh! Apa Sa?"


"Malah ngelamun"


"Hehehe maap"


"Aku balik dulu ya, aku sudah masak nanti makan bareng"


"Ok"


Rudi menutup pintu setelah Salsa keluar, kembali bermain gitar dan larut dalam bait-bait kekelaman masa lalu. Bagaimana keringat dan air mata ibunya dulu, bagaimana setiap keping uang adalah hal yang paling dia dan keluarganya butuhkan saat itu. Kini semua berubah, perusahaan yang dibangun ayahnya menjadi sebuah gudang para pencari nafkah untuk keluarga dan sekaligus sebuah harta yang tidak pernah terbayangkan olehnya saat ia susah dulu.


Larut semakin dalam dan lebih dalam. Rudi bersyukur dan memuja tuhan. Tentang bagaimana tuhan menguji dan menimang. Setiap hal buruk akan mendatangkan kebaikan dan juga sebaliknya. Rudi bersyukur dan sangat berterimakasih kepada Tuhannya.


Setelah kembali dari lubang masa lalunya Rudi beranjak menuju kamar Salsa.


Sampai di depan pintu kamat Salsa, Rudi mengetuk pintu dan terdengar Salsa mendekati pintu dan membukanya.


"Masuk, Rud! aku ganti pakaian dulu", Ucap Salsa yang masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Rudi melihat Salsa begitu indah, tubuh putih mulus yang masih basah oleh air dan rambut terurai tidak beraturan yang membuat Salsa semakin menawan. Tiba-tiba saja Rudi terpikirkan hal kotor didalam otaknya. Namun buru-buru ia membuangnya.


Salsa kembali setelah memakai kaos hitam hitam dan hot pant seperti biasa. Menyiapkan nasi dan mengeluarkan beberapa lauk yang ia buat tadi pagi. Sebuah masakan kering dan tetap enak meski dimasak tadi pagi.


"Emmm, tadyi pak Slemenan bilang gini juga", Ucap Salsa yang masih mengunyah makanan.


"Nanti aja ceritanya, makan dulu"


Salsa mengangguk, Rudi seperti sedang mengasuh seorang adik yang imut dan lucu.


Mereka berdua makan dengan hikmat, Rudi sangat menyukai cara makan Salsa yang tidak seperti wanita lain yang jaim dan pelan-pelan. Salsa makan dengan lahap namun tetap terlihat sopan, tidak ada suara saat dia makan dan tidak pernah dia menyisakan makanan di atas piringnya.


"Mau bilang apa tadi Sa?", Tanya Rudi.


"Emmm, itu tadi Pak Salman bilang kalo dia punya anak"


"Haah? Terus-terus", Rudi menanggapi dengan serius dan menahan senyum.


"Dia bilang katanya anaknya itu sedang pergi, dia juga bilang kalo anaknya sedikit lebih tua dari aku"


"Teruuss?"


"Dia bilang lagi, katanya andai anakku di rumah pasti sudah dia coba untuk mempertemukanku dengan anaknya"


"Hahahaha anaknya pergi kemana?"


"Dia gak tahu, katanya anaknya cuma pergi dan tidak bilang mau pergi kemana!"


"Emm, kalo kamu di jodohin sama anaknya mau?"


"Emmm mau gak ya? Kayaknya gak sih"


"Haahh! kenapa?"


"Pasti anaknya gak selucu kamu", Puji Salsa.


"Hahaha, aku jadi malu"


"Ihhh ******** kamu besarr yaa"


"Heeehh, kotorr!"


"Hahahaha"


"Anak orang kaya loo, pasti enak banget"


"Hehehe, Maap yaa, cewek seimut aku bisa dibeli pake harta"


"Hahahaha pede bangettt kepeeett!"


"Hahahha"


Entah kenapa, Rudi merasa bahwa jawaban yang diberikan Salsa terasa sangat serius meskipun disampaikan dengan guyonan. Semakin menyukai Salsa Rudi dibuatnya.


Setalah mengobrol cukup lama dengan Salsa, Rudi pamit untuk kembali karena sudah sangat larut.


Setelah sampai di kamarnya Rudi merebahkan badannya di kasur, diam sejenak mengingat bagaimana jawaban yang diberikan Salsa.


"Wanita seimut aku mana bisa dibeli pake harta", ucap Rudi mengulang perkataan Salsa.


"Hahahah, wanita gila! Mungkin sudah saatnya aku jujur kepadamu Sa! Hahahaha"


"Salsaaa.... Salsaaa!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2