
Rudi bangun tidur dengan badan yang sedikit pegal, tadi malam membuang banyak tenaga untuk tertawa dan bercerita. Beberapa bayangan tentang kejadian tadi malam masih tergambar dibenaknya, termasuk bagaimana senyum indah milik Andin yang membuatnya tersipu malu.
Tubuh Rudi memang terasa sedikit pegal, namun segala hal yang ada di dalam pikirannya seakan sudah hilang setelah dia berbagi cerita dengan orang-orang tadi malam. Dia menjadi sedikit lebih tenang dan tidak terlalu memikirkan Salsa lagi. Seperti semua beban yang ada didalam pikirannya tiba-tiba saja sirna tak tersisa.
Rudi beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Matahari masih ragu-ragu dan malu menampakkan dirinya dan beberapa tetangga kamar Rudi masih lelap bermimpi.
Udara segar menjajaki dua lubang hidungnya, segar seperti kehidupan baru seorang bayi dari rahim ibunya. Rudi merenggangkan tiap-tiap persendian tubuhnya dan memulai menghisap sebatang rokok miliknya.
Setelah beberapa saat bersantai, beberapa tetangganya mulai keluar dari dalam kamar masing-masing dan bersiap untuk berangkat bekerja. Hari kamis begitu manis, banyak senyum sumringah dari bibir-bibir yang masih basah oleh ludah. Beberapa orang menyapa Rudi dan mereka saling bertukar senyum.
Tiba waktunya Rudi bersiap untuk berangkat bekerja.
...----------------...
Setelah berada di terminal ia menemui Erlang dan berbincang sebentar membahas beberapa hal yang terjadi tadi malam. Rudi juga berterimakasih kepada Erlang yang sudah mengajaknya ke pesta kecil itu.
"Andin itu anak mana Lang?"
"Dia asli sini, rumahnya tidak jauh dari tempat kemarin kita pesta"
"Kenapa? Kamu tertarik?" Tambah Erlang.
"Hahaha, tidak... Tidak!"
"Hahaha, dia sulit didekati"
"Hahaha, apaan sih"
Rudi sepertinya tertarik dengan Andin tapi dia masih malu-malu karena baru sekali bertemu. Erlang hanya senyum-senyum melihat tingkah laku Rudi dan sesekali mengejeknya.
Setelah cukup lama mereka bercanda, Rudi dan Erlang melanjutkan untuk bekerja. Satu per-satu penumpang mulai menaiki dan mengisi kursi bus.
Perjalanan dimulai dan mereka berdua juga naik ke dalam bus dan menagih ongkos penumpang.
...----------------...
Singkat cerita perjalanan bus mereka sampai pada perjalanan terakhir dan juga menandakan waktu pulang sudah dekat.
Erlang menagih ongkos penumpang dari bangku paling belakang dan nampaknya dia bertemu dengan seorang wanita yang dia kenal, Erlang mengajaknya mengobrol cukup lama dan Rudi tidak mengetahui hal itu. Rudi sibuk menelpon dan berbincang dengan pak sopir.
Setelah beberapa saat Erlang sampai pada kursi paling depan dan menghampiri Rudi.
__ADS_1
"Rud, kamu masih ingat dengan Marni? Marni yang pernah mengaku sebagai temanmu dulu sekali"
"Marni? Iya aku ingat, ada apa?"
"Itu dia dibelakang sana, katanya kamu disuruh menemuinya"
"Menemuinya?"
"Iya"
Rudi tidak berpikir panjang dan langsung menghampiri Marni yang sedang duduk dikursi paling belakang.
Semakin mendekati Marni semakin tubuh Rudi gemetar, seakan ada kekuatan yang membuat hati dan tubuhnya bergetar. Ia menghampiri Marni dengan hati yang berdebar-debar.
Rudi melihat Marni yang sedang duduk dan menghadap ke lantai. Rudi masih belum mengetahui bahwa Marni adalah wanita yang pernah bertemu dengannya dulu.
Marni masih menunduk hingga Rudi berada tepat didepannya. Rudi masih belum menyapa atau menyebut namanya, Rudi diam dan menunggu wanita itu mendongakkan kepalanya, namun wanita itu tetap tidak menunjukan wajahnya.
Dengan berat hati dan bibir yang membeku, Rudi memberanikan dirinya untuk memanggil nama wanita itu.
"Kamu yang namanya Marni?" Ucap Rudi.
"Iya, saya marni" jawab wanita itu dengan menunjukkan wajahnya.
"Hehehe iya"
Wajah yang pernah membuatnya tersipu, suara yang menggetarkan hatinya sekaligus wanita yang pernah membuatnya penasaran setengah mati, kini ia mengetahui namanya dan dia berada tepat dihadapannya.
"Aku Rudi" refleks Rudi mengajak kenalan Marni.
"Hahaha, bukankah kamu sudah mengenalkan diri sejak dulu"
Rudi kikuk, menggaruk kepala dan bertingkah seakan dia bersikap biasa saja.
"Oh iya, maaf saya lupa"
"Hahaha, kenapa kamu bertingkah aneh seperti itu?"
"Hehehe, tidak! Tidak! Aku biasa saja"
"Hahaha baiklah"
__ADS_1
"Oh iya dulu kamu pernah berkata aku akan mengetahui namamu lagi setelah aku mengetahui namamu. Maksudnya apa?"
"Hahaha" Marni tertawa lebar.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, sebenarnya itu hanya sebuah dialog yang pernah aku dengar dari sebuah film, tidak ada maksud lain"
"Ohh, jadi begitu."
"Iya"
Jawaban singkat Marni membuat Rudi semakin kikuk dan bingung hendak mengobrolkan apa dengan wanita yang ada di depannya itu. Rudi hanya berdiri dan mengedarkan pandangannya menyusuri beberapa penumpang lainnya. Ia kehilangan akal untuk membuka perbincangan lagi.
Marni menulis sesuatu di atas sebuah kertas. Tidak lama setelah dia selesai menulis, dia memberikannya kepada Rudi.
"Ini alamat dimana kamu bisa menemui aku"
"Alamat?"
"Iya, aku tidak berharap kamu mau menemuiku lagi, tapi ini untuk sebuah alat agar kemungkinan kita bertemu kembali semakin besar"
"Baiklah akan ku simpan"
"Kenapa kamu kaku banget saat mengobrol denganku? Tidak seperti saat kamu mengobrol dengan wanita lain"
"Hahaha, mungkin itu karena kamu terlalu menawan bagiku"
"Hahaha, aku memang menawan"
"Hahaha sangat percaya diri, aku suka"
Tiba-tiba saja kikuk Rudi hilang dan ketenangan mulai merambah ke sekujur tubuhnya.
Rudi merasa sangat nyaman dan menemukan sebuah keakraban dengan Marni. Seakan Marni sedang membantu dirinya agar tidak terlalu gemetar saat bersamanya.
Bunga-bunga bermekaran didalam hati Rudi. Hari Kamis berlalu dengan sejuta rindu yang siap menunggu. Rudi merasakan kebahagiaan sedang melambaikan tangan dan mengucapkan selamat datang.
Bus berhenti, semua penumpang turun termasuk Marni, Rudi melambaikan tangan tanda perpisahan dan ungkapan sebuah pertemuan mendatang.
Marni hilang dari pandangan Rudi namun bayangan senyum menawan miliknya masih menjadi prasasti kemesraan yang mungkin akan sulit dihilangkan.
__ADS_1
...----------------...