ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Apa Setelah Ini?


__ADS_3

Matahari terbit dengan gemulainya, langit terpejam dari gelapnya, lembu-lembu mulai mencari makan saat burung-burung berkicauan.


Air tenang lautan menciptakan pagi yang lebih indah dari pagi-pagi lainnya. Andin tertidur lelap memeluk Rudi. Mereka berdua tidur di luar tenda tanpa selimut dan penghangat lainnya.


Arga, Elsa, Laura dan Erlang sudah bangun sedari tadi dan mereka berdiri melingkari dua sejoli yang saling berpelukan itu.


Rudi dan Andin masih belum bangun dan teman-temannya yang menunggu mereka bangun cekikikan menangkapi dua temannya itu saling bermesraan diluar tenda tanpa sepengetahuan mereka.


Setelah cukup lama mereka menunggu. Andin dan Rudi pun terbangun dan kaget melihat teman-temannya sudah berdiri mengitari dirinya dan Andin. Rudi masih tertidur dan membiarkan Andin tetap memeluknya.


"Hah? Apa? Kenapa kalian bertingkah sangat konyol seperti ini?" Rudi bertanya dan masih rebahan di atas pasir.


"Nyenyak banget tidurnya ya? Jadi pengen!" Ucap Laura mengejek.


"Iya nyenyak banget, kalau aku juga sih bakal betah meskipun tidur di tengah lautan sana." Arga ikut mengejek.


"Hahaha, inilah kehidupan."


"Hahaha, sudah-sudah! Bangunin Andin, suruh cuci muka dan kita buat makan." Kata Laura.


"Makan nanti aja, masih pagi banget ini" bantah Rudi pelan.


Rudi kemudian beranjak dari tidurnya dan membangunkan Andin yang masih molor dan memeluknya erat. Rudi masih mencoba membangunkan Andin sedangkan teman-temannya mulai meninggalkan mereka berdua dan mencari kesenangan mereka masing-masing.


Laura dan Erlang tampaknya pergi ke dalam hutan dengan membawa kamera sedangkan Arga pergi mencari batu karang yang bisa ia tunggangi untuk bersantai dan merokok.


Elsa tidak terlihat kemana perginya. Sedangkan Rudi masih mencoba membangunkan Andin dengan lebih keras lagi hingga Andin terbangun.


Setelah Andin duduk, Rudi mengambilkan air agar digunakan oleh Andin untuk membasuh wajahnya yang kusam dan penuh pasih pantai.


Mereka berdua kemudian duduk menghadap lautan lepas yang masih tenang ombaknya. Didepan sana terlihat Arga yang asik menghisap rokok dan bersantai di atas sebuah terumbu karang yang besar.


Pantai tempat mereka menghadap ke arah barat sehingga mereka hanya bisa menikmati matahari terbenam dan di bagian belakang adalah pepohonan yang menutupi terbitnya matahari.


Andin masih sedikit menguap dan matanya masih sembab mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya dipundak Rudi yang duduk disebelahnya.


Kisah malam mereka begitu cepat berlalu, mereka tidak mengingat kapan mereka tertidur. Yang mereka ingat hanyalah dingin bibir mereka yang saling bersentuhan dan saling menikmati malam dibawah bintang.

__ADS_1


"Rud jika tadi malam kita hanya larut karena sebuah minuman, maka lupakan"


"He'em"


Andin kaget mendengar Rudi mengiyakan perkataannya. Ia tidak berharap bahwa apa yang ia lakukan dengan Rudi tadi malam hanyalah sebuah kejadian ya g disebabkan oleh efek minuman.


Andin melihat Rudi dan sepertinya Rudi bersungguh-sungguh dengan jawabannya. Andin hanya diam dan mengangkat kepalanya dari pundak Rudi, Iapun sedikit menjauh dan memberi jarak duduk mereka.


Rudi menyadari tingkah aneh Andin dan melihatnya dengan tertawa.


"Aku bukan manusia yang akan merelakan kehormatannya hanya karena sedang dalam pengaruh alkohol"


Andin menatap wajah Rudi dan mendekatinya lagi. Semakin dekat ia memandang wajah Rudi semakin dia terpesona dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir merah mudah milik Rudi.


Mereka sudah sangat dekat dan hampir saling berciuman. Aroma alkohol sisa tadi malam masih tercium dari kedua mulut mereka, namun Andin dan Rudi tidak menghiraukannya dan tetap saling mendekatkan bibirnya.


"Eitss... Jangan dulu! Jangan sekarang! Tunggu dulu" suara Elsa mengagetkan mereka.


Kemudian Elsa menghadap ke belakang dan berusaha untuk tidak mengintip apa yang sedang Rudi dan Andin lakukan.


Elsa menghitung dan langsung membalikkan badannya. Rudi dan Andin sudah tidak melakukan apa dan hanya saling menyandarkan kepala.


Elsa mendekati mereka dan merangkul dari belakang, ia menengahi dua sejoli yang saling jatuh hati itu.


"Apakah ini yang dinamakan cinta" ejek Elsa.


"Hahaha apaan sih Elsa sayang" balas Rudi.


"Lah? Baru juga satu malam sudah berani manggil wanita lain dengan kata 'sayang.' Apakah ini yang mereka sebut dengan cinta malam dengan pagi penuh penghianatan?"


"Hahaha, itu kamu ditunggu Arga disana" Rudi berkata sambil menunjuk Arga.


"Baiklah jika kalian tidak ingin aku ganggu"


Elsa berdiri dan meninggalkan mereka berdua. Dia berlalu menuju Arga dan berteriak memanggil nama Arga dengan keras. Arga melihatnya, wanita yang lucu dan konyol itu membuat Arga berdiri di atas batu karang dan bertingkah seakan mengusir Elsa yang sedang menghampirinya.


Elsa tidak menghiraukan Arga dan tetap berlari menuju ke arahnya.

__ADS_1


Rudi dan Andin tertawa melihat tingkah konyol dua temannya itu. Mereka mulai saling merangkul dan menikmati cahaya matahari yang masih baik dan tidak terlalu menyengat.


"Eh iya, kemana Erlang sama Laura?" Andin bertanya kepada Rudi.


Rudi membalas pertanyaan Andin hanya dengan mengangkat kedua bahunya sambil mengeluarkan bungkus rokok yang ada disaku depan celananya.


Rudi memberi isyarat kepada Andin seakan menanyakan apakah ia boleh merokok disebelah. Andin membalasnya hanya dengan mengangguk dan tersenyum. Ia teringat dengan hal istimewa yang terjadi tadi malam.


Satu, dua batang rokok sudah dihisap oleh Rudi dan Erlang dan Laura masih belum juga kembali. Dua sejoli janda dan duda itu masuk ke dalam pepohonan cukup lama dan membuat mereka khawatir.


Rudi pergi menghampiri Elsa dan Arga yang masih saling pukul dan cubit seperti tikus dan kucing.


"Laura dan Erlang kemana? Mereka sudah lama berada didalam hutan"


"Hahaha biarkan saja, paling mereka sedang berburu singa" jawab Arga.


"Yakin biarin saja?"


"Iya, udah! sana nikmati saja kemesraan-mu dengan Andin, aku mau mengurus kucing-ku yang manis ini"


"Hahaha, baiklah."


Arga dan Elsa terlihat sangat akur dengan saling pukul di atas batu karang. Arga tidak benar-benar memukul Elsa, namun Elsa memukul Arga dengan serius meskipun wajahnya penuh dengan senyuman bahagia.


Rudi kembali duduk disamping Andin.


"Setelah ini apa?"


"Apa yang apa?"


"Apakah kita akan..."


"Kita bicarakan nanti, untuk saat ini aku hanya ingin duduk dan berdua denganmu."


Andin tersenyum dan kembali menempelkan kepalanya di atas pundak Rudi dan memeluk lengan kekar miliknya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2