ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Hasrat Laura


__ADS_3

Tidak ada aktivitas Rudi yang berubah, setiap hari dia bangun, bekerja, bermain dengan Salsa dan tidur. Waktu berlalu cukup cepat, kini sudah akhir bulan kedua Rudi jauh dari rumah. Tepat saat itu juga Rudi mengambil gaji keduanya yang lebih banyak dari sebelumnya, Rudi cukup senang dan riang. Dia berpikir hendak meminta Salsa untuk masak sebuah menu spesial namun sampai sore Rudi tidak menjumpai Salsa.


Entah kemana Salsa yang biasanya pulang jam empat sore itu. Sembari menunggu kepulangan Salsa Rudi memikirkan hal baru apa yang hendak ia lakukan, semua yang dijalani Rudi setiap hari mulai terasa monoton dan membosankan.


Lama Rudi memikirkan apa yang akan membuatnya lebih nyaman untuk hari-hari selanjutnya hingga ia terpikirkan untuk membeli sebuah gitar. Rudi memang tidak cukup lihai bermain gitar namun ia kali ini benar-benar ingin memainkan alunan petikan gitar yang dulu ia pernah pelajari dari teman-temannya.


Masih jam lima rudi bergegas hendak ke pasar yang mungkin saja menjual sebuah gitar. Ia pun turun dan segera berangkat ke pasar.


...****************...


...Melodi baru akan dimulai...


...Bersamaan dengan alunan gitar dan senar...


...Ratu-ratu menari perlahan...


...Para hewan ikut bernyanyi...


...Ramaikan malam yang syahdu...


...****************...


Rudi sampai di pasar, namun tidak juga ia jumpai penjual gitar yang tampan atau cantik. Ia pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, mungkin saja ia bisa bertanya kepada Salsa atau Laura.


Sesampainya di kost Rudi masih tidak melihat Salsa mungkin ia harus bertanya kepada Laura dimana tempat penjual gitar didaerah sana. Pucuk dicinta Laura pun ada, Laura sedang duduk didepan rumahnya seperti seorang ratu yang tidak pernah memikirkan besok makan apa. Rudi pun menghampiri Laura dan nampak Laura senyum-senyum sendiri melihat Rudi yang sedang menghampirinya.


"Mbak, disini penjual gitar dimana ya?", Tanya Rudi.


"Kamu mau beli gitar?"


"Iya mbak"


"Ihhh.. panggil Laura aja! Risih banget dipanggil mbak sama kamu"


"Hahaha kan kamu sudah tua" ejek Rudi.


"Ndasmu tuaa. Ahahaha, emang kamu bisa lain gitar?"


"Emmm, bisa! Tapi gak jago".


Laura masuk ke dalam rumahnya tanpa mempersilahkan Rudi untuk duduk. Rudi berdiri cukup lama dan terdengar beberapa suara keras barang terjatuh dari dalam rumah Laura. Tak lama setelah itu, Laura keluar dengan membawa sebuah gitar yang kumuh namun nampak seperti sebuah gitar yang mahal.


"Itu punya kamu mbak?"


"Hehehe, iya", Jawab laura tersenyum sambil membersihkan debu yang menempel pada gitar.


"Duduk Rud! Biar ku beri kau sedikit hiburan"


Laura nampak sedang mengatur nada tiap-tiap senar gitar seperti seorang benar-benar paham tentang gitar. Tidak butuh waktu lama bagi laura, sepertinya dia sudah menemukan nada yang pas.

__ADS_1


"Request Rud, mau lagu apa?"


"Emmm, apa ya? Terserah kamu aja Ra", Ucap Rudi yang sedang kikuk memanggil Mbak Kos dengan nama aslinya.


Laura mulai melainkan sebuah lagu. Terdengar seperti lagu yang ia suka.


"Emmm, bintang kehidupan ya?"


Laura mengangguk dan melanjutkan bermain gitar sambil bernyanyi. Rudi yang mengenali lagu itupun ikut bernyanyi, tiba-tiba nuansa damai tercipta seperti yang diharapkan Rudi. Alunan gitar dan lagu-lagu yang dinyanyikan bersama dengan teman terasa sangat menyejukkan hati dan pikiran.


Rudi larut dalam petikan Laura dan suaranya yang indah dan lembut. Lagu "Bintang Kehidupan" harusnya membutuhkan power yang besar, namun bagi laura itu seperti hal yang mudah. Suara khas Pop dan Rock yang halus dan lembut. Rudi memandangi Laura, Laura tiba-tiba menjadi sosok yang berbeda. Aura ketenangan yang dulu tidak pernah dirasakan oleh Rudi saat berada di samping Laura, kini mulai merambah hati dan jiwa.


Cukup lama mereka berdua bernyanyi, beberapa lagu yang dinyanyikan Laura cukup menghipnotis Rudi. Tidak terasa hari sudah gelap.


"Hahaha, ternyata mbak bisa main gitar"


"Hahaha, dulu aku juga pernah ikut band dan aku jadi gitaris serta vokal"


"Ohh pantesan"


"Ini ambil buat kamu". Kata Laura dengan memberikan gitarnya kepada Rudi.


"Ahahaha, serius?"


"Iya, ambil aja"


Sudah cukup larut, tak terasa sudah jam 9 malam. Rudi berpamitan serta berterimakasih kepada Laura karena telah memberikan gitarnya.


"Nanti kalo aku sudah cukup mahir aku kesini lagi", Ucap Rudi yang mulai beranjak pergi. Laura hanya mengangguk dan tersenyum. Cukup aneh bagi Rudi, sifat laura tidak seperti biasanya.


Rudi berjalan sambil menenteng gitar menaiki tangga. Saat hendak menuju kamarnya Rudi melihat seorang wanita yang nampaknya dia kenal.


"Ehemm, enak banget ya berduaan dengan tante kos-kosan". Celetuk Salsa yang sudah lama menunggu mereka berdua selesai.


"Ciee, cemburu ya?"


"Hahaha, kenapa aku harus cemburu dengan bunga sedangkan aku adalah lebah?"


"Cemburu tak berupa, cemburu itu seperti bunga yang layu"


"Biarkan bunga-bunga itu layu, sebab bibit bunga baru adalah dari bunga-bunga yang layu"


"Bagaimana kau begitu pintar menanggapi percakapan ini, ini adalah hal baru yang ku tahu darimu"


"Aku butuh senja untuk menghibur aku butuh sajak untuk melebur"


"Aku ingin menjadi sarang jika kau burung"


"Aku ingin menjadi karang jika kau lautan"

__ADS_1


"Hahaha, sudah-sudah! Dari tadi aku nunggu kamu"


"Uhhh aku lelah banget hari ini, ada lembur gara-gara ada pengusaha ikan yang mampir"


"Pengusaha ikan?", Tanya Rudi sedikit kaget.


"Iya, kalo gak salah namanya pak Salman"


"Pak Salman?". Rudi kaget bukan main ternyata itu adalah ayahnya.


Menurut Rudi dunia itu terlalu kecil, dia sudah pergi jauh dari rumah tanpa ada yang tahu kemana tujuannya namun tidak bisa disangka ayahnya saat itu berada dekat dengannya.


Salsa kembali bercerita tentang pengusaha ikan itu. Tak jarang Salsa melampiaskan rasa kesalnya dan tak jarang juga Salsa terkagum-kagum oleh kepiawaian pengusaha ikan itu dalal mengolah ikan. Rudi mendengar curhatan Salsa tentang ayahnya itupun tertawa dalam hati.


"Oh iya Sa, ternyata tante-tante kos kita itu dulunya seorang anggota band dan ini gitarnya"


"Ahahaha, buat apa kamu memegang gitar? memang kamu bisa main gitar?"


"Bisaa dong"


"Coba mainin"


"Hahaha kan sudah malam, besok sahaja"


"Baiklah"


"Besok masakin yang spesial ya, aku baru saja gajian"


"Pffftt, aku besok gajian tapi tadi juga dapet tip lumayan banyaakk". Ujar Salsa dengan girang dengan tangan seperti sedang mengipaskan uang.


"Ahahaha, dapet tip berapa?"


"Merahhhhh Limaaaa, gila gak tuh orangg"


"Ahahahah, mantep bangett dong!"


"Yoisss,.. Besok kita masak masakan paling mantap"


"Kamu besok masih kerja?"


"Gak sihh, besok cuma ngambil gaji. Paling jam 9 udah pulang"


"Baiklah, besok kamu tulis apa aja yang perlu dibeli, aku yang belanja"


"okeh"


Setelah mengobrol sedikit lama Salsa kembali ke kamarnya dan Rudi juga masuk kedalam kamarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2