
...Mawar akan mekar...
...Buah jambu mulai berbunga...
...Pohon jati mulai tinggi dan berisi...
...Cinta yang bersemi membunuh keinginan sendiri...
...Bagai badai yang menerbangkan angin lain...
...Bagai tsunami menerjang air lain...
...Pengorbanan untuk cinta adalah pengobatan untuk setiap luka...
...Mawar, jambu dan jati hanyalah tumbuhan...
...Tidak ada kaitannya dengan cinta milik Rama dan Shinta...
...----------------...
Erlang dan Laura kembali dari dalam hutan. Mereka datang dan menunjukkan hasil buruan mereka, beberapa foto pemandangan, hewan dan beberapa juga foto dengan pose seksi milik Laura.
Janda itu benar-benar terlihat seperti putri duyung yang telah mengeringkan siripnya hingga muncul kakinya. Begitu menawan dan tidak nampak seperti sudah berusia dan tua.
Mereka menunjukkan foto yang mereka dapat kepada Andin dan Rudi.
"Bagaimana? Bagus kan?"
"Iya bagus, modelnya" kata Andin.
"Maksudmu?" Laura bertanya.
"Hahaha, selain modelnya adalah jelek!" Ejek Rudi.
"Hahaha, bukan aku yang bilang ya Ra." Kata Andin sambil tertawa.
"Emang anak katak satu ini suka iri pada tubuh seksi janda ini" kata Laura sambil mengambil kembali kamera yang dibawa oleh Rudi.
Laura kesal dan meninggalkan Andin dan Rudi. Mereka berdua hanya tertawa melihat Laura yang sedang marah. Erlang mengikuti Laura dari belakang dan masuk ke dalam tenda.
"Ayo berenang?" Andin mengajak Rudi.
"Ayo, udah capek banget aku menahan tiga kepalamu yang besar-besar itu."
"Hah? Kepalaku? Tiga?"
Andin bertanya dengan wajah keheranan kepada Rudi, kemudian ia melihat ke bawah tepat dibawah dagunya. Andin tertawa setelah mengerti maksud perkataan Rudi dan kemudian mencubit paha Rudi.
__ADS_1
Mereka berdua berlari menuju sisi lain pantai yang sedikit berjauhan dengan Arga dan Elsa yang sedang bermesraan di atas batu karang. Mereka berdua berada disana cukup lama, dari awal mereka bertengkar hingga Elsa yang tidur di paha Arga dengan lelapnya.
Andin dan Rudi masuk ke dalam air dan bermain air bersama. Dua sejoli bahagia yang berlarian kesana-kemari, bergandeng tangan dan saling membasahi satu sama lain.
Seakan seluruh lautan adalah milik mereka berdua. Tidak ada yang mengamati atau melihat mereka. Mereka juga mencari hewan-hewan laut yang unik seperti beberapa keong yang biasanya hanya mereka lihat cangkangnya saja di akuarium.
Hewan-hewan mungil itu menjadi permainan yang sangat menyenangkan bagi mereka. Mereka membuat sebuah lubang besar di sisi pantai yang sedikit jauh dari jangkauan air laut. Mengumpulkan beberapa keong dan menaruhnya di lubang yang mereka buat.
"Lihatlah An" kata Rudi.
Rudi meniup keong yang ada ditangannya. Keong yang tidak mau keluar dari cangkangnya tiba-tiba saja keluar dan jatuh dari cangkangnya setelah ditiup perlahan oleh Rudi.
"Bisa begitu ya?" Andin bertanya heran.
"Hahaha, dulu saat masih di kampung aku suka bermain dengan ini. Tapi aku tidak tahu kenapa keong-keong ini keluar dari cangkangnya setelah di tiup."
"Hahaha, lucu ya"
Andin memegang keong yang sudah keluar dan jatuh dari cangkangnya. Ia memegang-megang bagian perut keong yang lembut dan sedikit membuat bulu kuduk berdiri saat disentuh.
Matahari sudah tinggi berada di atas kepala mereka. Sudah sangat terik dan membuat setiap manusia merasakan lapar dan haus.
Laura keluar dari dalam tenda bersama dengan Erlang. Mereka berdua keluar dengan membawa beberapa makanan siap saji yang masih perlu dimasak.
Erlang mencari kayu bakar dengan mengajak Arga yang masih memangku Elsa di pahanya. Ia membangunkan Elsa dan mengantarnya ke dalam tenda.
Erlang melihat teman-temannya bersiap untuk menyiapkan makan siang dan membantu. Andin membantu Laura menyiapkan peralatan sedangkan tiga pria itu mencari kayu bakar bersama.
...----------------...
Beberapa cemilan mereka masukkan ke dalam air mendidih dan mereka biarkan hingga matang.
Setelah beberapa saat menunggu. Makanan mereka siap untuk disantap. Arga memanggil Elsa yang masih tidur didalam tenda. Rudi mengambil gitar dan Laura menatap makanan di atas beberapa piring.
Sebuah mie instan dan beberapa sosis dan hiasan lainnya. Makanan yang disajikan terlihat sangat enak untuk dinikmati di pinggiran pantai yang asri dan bersih.
Setelah mereka berenam duduk mengitari api unggun, Laura membagikan makanan yang sudah ada di atas piring itu, masing-masing dari mereka mulai memakannya dengan lahap.
Rudi menjadi orang pertama yang menghabiskan makanannya dan mulai mengambil gitar yang ada disampingnya. Dia menyanyikan lagu-lagu kebersamaan dan pertemanan.
Mereka yang masih makan pun ikut menikmati alunan musik yang disajikan Rudi.
Arga dan Elsa saling suap satu sama lain. Mereka tidak menghiraukan teman-temannya yang sedang mengamati mereka dan pura-pura batuk.
"Dunia milik mereka berdua, yang lain ngontrak!" Teriak Erlang.
Semua orang tertawa, termasuk Rudi yang masih asik bermain gitar. Dua sejoli yang tidak akur memang sangat unik saat mereka saling bermesraan.
__ADS_1
Setelah mereka semua selesai makan, mereka mengumpulkan setiap sampah yang ada di sekitar mereka. Satu persatu sampah mereka masukkan ke dalam kantung plastik hingga sekitar mereka terlihat bersih.
"Oh iya, jadi kita balik kapan?" Erlang bertanya.
"Besok siang?" Jawab Laura.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Ngikut" Elsa ikut menjawab.
Erlang melihat Rudi dan Rudi mengangguk tanda dia setuju dengan apa yang mereka putuskan. Andin juga demikian dan kemudian Erlang kembali duduk.
"Lah? Aku tidak ditanya juga?" Arga protes.
"Tidak perlu, tidak penting dan tidak ada gunanya" Elsa mengejek Arga.
Mereka berdua kembali bertengkar setelah saling suap dan bermesraan beberapa menit lalu.
Lagi dan lagi, melodi penuh yang menyentuh hati. Menyebabkan candu dan rindu atas suasana pantai yang syahdu. Di bawah matahari yang terik dengan pakaian yang tidak terlalu menutupi tubuh. Erlang dan Rudi membuka kaosnya dan menunjukkan tubuh yang sangat berisi dan berotot. Tidak dengan Arga yang tidak ingin menunjukkan perut buncitnya dihadapan Elsa.
"Tidak apa-apa, perut buncitmu adalah hiburan untukku" puji Elsa yang berada disampingnya.
Mereka kembali tertawa lagi dengan kelakuan Elsa dan Arga.
Matahari mulai terbenam dan kenikmatan yang mereka dapat saat baru tiba di pantai kemarin kembali terulang.
Kenikmatan yang tidak akan mereka dapatkan bika tidak berada di hamparan lautan.
Arga, Elsa, Laura dan Erlang beranjak menuju ke dalam air dan bermain voli pantai. Mereka membawa sebuah bola dan bermain voli di pinggiran pantai.
Andin dan Rudi masih bermain gitar dan saling bernyanyi. Beberapa lagu tentang cinta dinyanyikan oleh Rudi untuk Andin. Andin sangat menikmati aroma melodi dari petikan jari gagah Rudi.
Kemesraan yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan. Masa kelam Andin seakan kini sedang memulai karma baiknya. Begitu banyak kesenangan bersama teman dan calon kekasihnya.
Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Sesuatu yang ia takutkan.
"Rud, kamu mau tidak jadi pacarku?"
"Baiklah, aku pacarmu mulai hari ini"
"Aku serius"
"Sama aku juga"
Andin mengulurkan jari kelingkingnya dan Rudi membalasnya dengan jari kelingkingnya juga. Tanda sebuah janji yang terikat bersama hati.
Mereka resmi menjadi sepasang merpati putih yang sering memuja kasih di atas atap rumah kita.
__ADS_1
Begitu cantik dan tidak banyak bicara, begitu yakin dan tidak banyak bertanya. Mereka adalah sepasang kekasih setelah ini.
...----------------...