ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Marni dan Andin


__ADS_3

"Rud, nanti malam kita makan diluar ya" ucap Andin.


"Berdua?"


"Iya, kalau mau ngajak Erlang sama Laura juga boleh"


"Yakin?"


"Hehehe, berdua aja."


Mereka berdua sedang sarapan dipinggir jalan, udara yang masih segar menandakan saat itu masih pagi sekali. Andin mendatangi Rudi yang masih tidur dan mengajaknya untuk mencari sarapan.


Entah apa yang dipikirkan oleh Andin hingga menyempatkan diri untuk menghampiri kos Rudi pagi-pagi sekali. Rudi beranjak mencuci muka dan langsung berangkat bersama Andin yang mengendarai motor matic miliknya.


Dua piring nasi pecel dipinggiran jalan memang sangat nikmat, terlebih lagi rasa pedas dan hangat dari tempe goreng dan kerupuk membuat nasi pecel menjadi sangat istimewa.


Mereka duduk lesehan menghadap ke arah jalan raya dimana motor dan mobil berlalu-lalang. Kesejukan pagi itu masih belum bercampur dengan polusi perkotaan yang pekat dan menyebalkan.


Setelah makan mereka langsung kembali ke kos dan Rudi bersiap untuk berangkat kerja.


"Bareng aku?" Tanya Andin.


"Boleh, tunggu ya aku mandi dulu”


"Boleh ikut?" Andin berkata dengan imut.


"Hahaha, mau minta jatah?"


"Hahaha, tidak... tidak, tidak!"


Rudi masuk ke dalam kamar mandi, Andin menunggunya di kasur tempat Rudi tidur. Dia mengamati sekelilingnya dan mengagumi Rudi dalam hal kebersihan dan caranya menata kamar agar lebih terlihat lebih minimalis.


Tidak lama setelah Andin menunggu, Rudi keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk sebagai penutup tubuhnya.


"Hadap sana!" Pinta Rudi.


"Hahaha, kenapa?"


"Yasudah kalau gak mau"


Rudi membuka handuknya tepat didepan Andin. Kekasihnya itu berteriak dan buru-buru menutup mata dengan kedua telapak tangannya.


"Gila!"


"Hahaha, salah sendiri tidak mau balik badan"


"Gila, sumpah gila! Hitam jelek!"


"Hahaha"


Kemudian Andin berbalik dan Rudi mengganti pakaiannya. Setelah selesai mereka langsung berangkat menuju terminal.


Rudi mengemudi motor metic milik Andin, perlahan dan santai. Jalanan sudah mulai ramai oleh beberapa pengemudi motor dan mobil. Andin memeluk Rudi dari belakang, ia menyandarkan dagunya di atas pundak Rudi dan mencoba untuk mengganggunya.


"Pelukannya jangan terlalu dekat dengan paha, nanti aku tidak fokus."


"Hahaha baiklah"


Setelah sampai di depan terminal, Rudi memberikan helmnya kepada Andin. Dia meminta agar Andin menyimpannya dan membawanya lagi nanti saat hendak makan malam.


Andin meminta Rudi untuk melepas helm yang ia pakai juga. Rudi heran dengan permintaan Andin yang memintanya untuk melepaskan helm.

__ADS_1


"Bukannya kamu langsung berangkat lagi?"


"Hahaha, lepasin"


Rudi melepas helm yang Andin pakai.


"Cium kening" pinta Andin.


Rudi tersenyum mendengar permintaan Andin yang tergolong konyol itu. Kemudian dia mencium kening Andin.


Setelah itu, Andin memakai helmnya lagi dan menaiki motornya.


"Mau kemana setelah ini?"


"Kerumah teman"


"Cewek?"


Andin mengangguk dan Andin menyalakan motornya.


"Nanti malam jangan lupa."


"Siap bos!"


Andin tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Rudi yang masih berdiri di depan terminal. Setelah Andin hilang dari pandangannya Rudi masuk ke dalam terminal dan mulai bekerja.


...----------------...


Makan malam antara Andin dan Rudi berlangsung ditempat yang sudah ditentukan oleh Andin. Rudi tidak memiliki rekomendasi yang lain.


Tempat yang terlihat sangat asing bagi Rudi, selama ini dia tidak pernah melihat tempat itu. Di atas sebuah tembok besar yang berada di atas jalan raya. satu meja dengan tiga kursi, pemandangan lampu jalan dan lampu-lampu kendaraan, membuat makan malam mereka menjadi sangat syahdu.


"Kamu pesan apa?" Tanya Andin yang sedang melihat daftar menu yang ada di atas meja.


"Baiklah"


Andin menulis apa yang mereka berdua pesan dan mengantarkannya ke tempat pegawai yang bertugas menerima pesanan.


Mereka berdua duduk dan mengobrol sesaat sebelum minuman mereka sampai. Rudi memandang Andin yang sedang memandangi kendaraan yang ada dibawahnya.


Dia merasa seperti ada sebuah ketidaknyamanan yang mulai mendekati hatinya. Dia menatap Andin begitu lama, namun tidak ada suatu perasaan seperti saat dia melihat Andin pertama kali.


Seperti dia sedang memaksakan perasaan yang tidak seharusnya ada didalam hatinya.


"Ada apa?" Tanya Andin.


Andin menatap Rudi yang sedang kebingungan memandanginya.


"An, apakah kamu benar-benar mencintaiku?"


"Kamu meragukanku?"


"Tidak, hanya saja seperti ada sebuah perasaan takut"


"Takut apa?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin aku masih takut untuk ditinggalkan seseorang lagi."


"Jangan begitu"


"Hahaha, lupakan saja. Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu."

__ADS_1


"Katakan padaku jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu"


"Mungkin jika pikiranku terganggu, itu pasti ulah perasaan riduku kepadamu"


Andin tersenyum mendengar gombalan Rudi yang begitu manis itu.


Angin malam itu begitu tenang dan lembut. Menembus pori-pori dan mengalir melewati kulit. Ketenangan seperti menjadi sebuah jaminan di tempat itu, tidak ada suara keras dari pengunjung lain, tidak ada bising kenalpot dan bahkan hewan-hewan ikut serta memadamkan suara mereka.


Rudi melihat sekelilingnya, mengamati setiap gerak dari pengunjung lainnya. Tiga wanita dengan cadar dengan baju lebar duduk bersama dalam satu meja menjadi hal yang paling menarik perhatiannya.


Tiga wanita itu saling tertawa dengan pelan dan saling bicara dengan pelang. Tidak ada satu katapun yang terdengar oleh telinga Rudi, seakan angin membawa suara mereka ke atas kayangan.


Dia memandangi tiga wanita itu dengan sangat lama hingga salah satu dari mereka memandang balik ke arah Rudi. Seketika detak jantungnya berubah menjadi sangat cepat dan tidak beraturan.


Rudi adu mata dengan wanita itu saat Andin sedang asik melihat ke jalan raya. Rudi merasa seakan mengenali mata indah itu. Seakan dia kenal siapa wanita yang ada dibalik cadar itu.


Ia melepas pandangannya dan beralih memandang Andin dan mengajaknya berbicara. Andin menanggapi dengan sangat menyenangkan, seakan tidak ada hal yang tidak bisa ia gunakan sebagai bahan pembicaraan.


Singkat dalam sebuah cerita antara mereka berdua, datanglah seorang wanita bercadar yang kemudian duduk di kursi ke tiga. Andin menatap wanita itu, begitu juga Rudi. Wanita itu hanya duduk dan diam.


"Maaf ya mbak, mbak ini siapa?" Andin bertanya.


Wanita itu tidak langsung menjawab dan membuka cadar yang ia pakai.


Rudi menatap wanita dengan keringat dingin, dia adalah Marni. Marni yang ia kagumi, sebuah kebetulan apa yang mempertemukan dirinya dengan wanita itu lagi dan sebuah petaka apa yang mempertemukan Andin dengan wanita itu.


Rudi hanya diam dan tidak berani mengatakan apapun.


Wanita itu mengajak Andin berkenalan setelah ia membuka cadarnya. Dia tidak menghiraukan Rudi yang masih kaget dengan kedatangannya.


"Nama saya Marni" Marni memperkenalkan diri.


"Saya Andin."


"Hehehe senang berkenalan denganmu Andin"


"Saya juga"


"Baru datang kesini?"


"Emmm, sudah beberapa kali, tapi dia baru pertama ini." Ucap Andin sambil menunjuk Rudi.


"Ini suaminya?"


"Hehehe bukan, dia pacar saya"


"Ohh, sering-sering ajak kesini mbak. Oh iya, kemarin saat ada acara disini kamu kesini tidak?"


"Yang pas malam minggu? Yang BTS itu?"


"Hehehe iya"


"Saya kesini dong! Kamu kesini juga?"


"Iya dong, kan saya fans terbaiknya"


"Hahaha, saya juga ngefans, makanya saya nonton juga"


"Wah kebetulan dong, sayangnya kita belum saling kenal ya."


"Hehehe iya, kapan-kapan kalau ada lagi kita kesini bareng yuk!"

__ADS_1


"Hayuk! Saya dengar-dengar akan ada BTS lagi dekat-dekat ini"


Mereka berdua mengobrol dengan sangat lancar seakan mereka berdua sudah saling kenal. Rudi menatap kedua wanita itu terheran-heran dan tetap diam. Dia tidak mengatakan apapun.


__ADS_2