ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Sebuah Kejujuran Besar


__ADS_3

Dari atas sana Rudi dan Andin menatap lurus ke depan. Jurang yang dalam dan gelap itu dihiasi oleh angin dan sinar lampu perkotaan. Rudi menaruh gitarnya setelah beberapa kali menyanyikan lagu romantis didepan Andin.


Minuman yang mereka sudah habis, malam sudah cukup larut dan kedai yang berada di atas bukit itu sudah mulai sepi. Andin memegang tangan Rudi yang sedang menatap ke jurang yang gelap didepannya.


"Rud, kapanpun dan di manapun, jika aku mendapati dua pilihan dan salah satunya adalah dirimu..." Andin menghela nafas.


"Maka aku akan selalu memilih dirimu!" Lanjutnya.


Rudi tersenyum mendengar perkataan Andin itu. Ia menarik tangan yang digenggam oleh Andin dan meletakkan di atas tangan Andin serta menggenggam balik tangan kekasihnya yang dingin, kecil dan lembut itu. Seakan Rudi juga berusaha mengatakan hal serupa.


Kepercayaan antara mereka berdua kini semakin tumbuh dan terus tumbuh seiring berjalannya waktu.


Penjaga kedai disana sudah mulai menyapu. Minuman yang mereka pesan sudah mereka bayar sedari mereka memesan, jadi mereka tidak perlu buru-buru untuk membayar sebelum kedai benar-benar tutup.


"Mau pulang?" Tanya Rudi.


"Kita muter-muter dulu"


"Baiklah tuan putri"


"Hehehe"


Rudi dan Andin berjalan menuju parkiran dan langsung melanjutkan perjalanan malam mereka.


Andin memeluk Rudi dari belakang dengan sangat erat. Rudi mengembangkan motornya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi memegang tangan Andin yang sedang memeluknya dari belakang.


"Kamu tidak kedinginan?" Tanya Rudi.


"Tidak. Kamu?"


"Aku hanya merasakan kenyamanan dan kehangatan"


"Hehehe"


Rudi mengendarai motor dengan sangat pelan. Mereka hanya ingin menikmati malam kebersamaan yang mereka miliki saat ini. Kendaraan yang tidak terlalu ramai namun masih banyak manusia yang sedang menjalankan aktivitas mereka.


Beberapa warung kopi yang masih ramai, penjual nasi malam yang masih menunggu pembelinya dipinggiran trotoar dan beberapa anak kecil yang sedang bermain bola ditengah jalan raya.


Pemandangan-pemandangan itu ikut serta mengindahkan kebersamaan mereka diatas motor.


Rudi masih mengitari jalan raya itu, ia berbelok-belok ke-kanan dan ke-kiri. Tidak ada tempat yang hendak dituju, mereka hanya berputar-putar tanpa henti. Menikmati malam dan angin yang semakin dingin.


Tengah malam itu seakan segala pikiran tidak mengenakan milik Rudi mulai luntur dan hancur. Ia hanya merasakan sebuah kenyamanan yang datang bersama dengan pelukan yang diberikan oleh Andin.


"Rud, aku tidak peduli siapa dirimu sebenarnya. Aku hanya tahu bahwa kamu adalah Rudi yang saat ini aku cintai dengan sepenuh hati" Andin mengatakan sesuatu yang membuat hati Rudi bergetar lagi.


Pria yang sedang mengendarai motor matic itu tidak bisa berkata-kata. Ia hanya diam dan tersenyum tanpa membalas pernyataan Andin.


Tangan Rudi yang sedang menggenggam tangan Andin itu semakin lama semakin kencang. Seakan Rudi tidak ingin melepaskan tangan dan pelukan Andin.


Setelah cukup lama mereka berputar-putar tanpa tujuan. Andin mulai mengantuk dan sesenggukan karena tiba-tiba saja tertidur di atas motor.

__ADS_1


"Ayo pulang ya?" Rudi bertanya.


"Ayo"


"Jangan sampai tertidur, pegangan yang erat karena kita akan meluncur ke rumah."


"Hahaha, baiklah"


Andin menguatkan pelukannya dan Rudi memegang kedua setir motornya dan menancap gasnya.


Motor itu melaju dengan kecepatan penuh. Andin tidak lagi mengantuk, justru wanita itu semakin memeluk Rudi dengan erat dan cengingisan girang karena Rudi yang sedang berlagak bagaikan penunggang MotoGP.


"Hahaha, jangan kencang-kencang" ucap Andin.


"Hahaha, kita meluncur seperti angin" kata Rudi.


"Bahaya jangan kencang-kencang!" Andin mencubit perut Rudi.


"Hahaha, baiklah-baiklah.."


Rudi mengurangi kecepatannya setelah Andin mencubit perutnya berkali-kali.


Mereka melewati tugu yang tempat mereka membeli pentol. Penjual pentol itu sudah tidak ada disana, namun masih ada beberapa orang yang sedang bersantai disana bersama teman-temannya. Tugu itu terlihat seperti sebuah tempat yang sangat nyaman untuk bersantai bersama teman dimalam hari yang tenang.


Rudi melanjutkan perjalanannya menuju kos-kosan-nya.


"Kamu mau pulang atau tidur di tempatku?" Tanya Rudi.


"Baiklah"


Mereka berdua melaju melewati jalan-jalan yang mereka lalui saat berangkat tadi. Jalanan itu terlihat sama, namun dengan manusia yang berbeda.


Lampu jalanan masih menantikan dan menunggu kepulangan mereka berdua. Seakan sedang menyambut kedatangan sepasang merpati yang baru saja selesai memadu kasih.


Lampu-lampu itu masih terang seperti beberapa sebelumnya. Seakan lampu-lampu itu tidak kehilangan semangat dan cahayanya.


Tidak terasa sepasang merpati itu sudah sampai didepan gedung tempat Rudi tidur. Andin turun dari motor dan Rudi menaruh motornya ke tempat yang dikhususkan untuk parkir agar aman.


"Helm-nya taruh dimana?" Tanya Andin.


"Sini, taruh di motor saja"


Andin melepas helmnya dan memberikannya kepada Rudi.


Setelah selesai memarkirkan motor, Andin dan Rudi langsung menuju kamar. Seperti biasa, kamar Rudi selalu terlihat nyaman dan harum. Andin langsung membuka jaketnya dan langsung merebahkan badannya di atas kasur Rudi.


"Cuci kaki dan muka dulu." Suruh Rudi kepada Andin.


Andin langsung beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta kakinya. Setelah itu giliran Rudi mencuci kaki dan wajahnya.


Setelah itu mereka berdua duduk berdekatan. Rudi mengambilkan segelas minuman untuk ia berikan kepada Andin.

__ADS_1


"Tidak ada obat tidurnya kan?" Tanya Andin dengan becanda.


"Hahaha, obat tidur sih tidak, tapi kalau racun tikus iya"


"Hahaha, alangkah jahatnya dirimu."


"Hehehe..."


Rudi kemudian duduk kembali dan menyalakan sebatang rokoknya. Pria itu tiba-tiba saja terpikirkan untuk mengatakan sesuatu kepada Andin.


Yang ingin Rudi katakan kepada Andin adalah segala hal tentang seorang wanita bernama Marni yang akhir-akhir ini sering ia temui atau lebih tepatnya menemui dirinya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu jangan marah dulu dan jangan menyela sebelum aku selesai menceritakan semuanya."


"Apa itu?"


"Janji-lah terlebih dahulu"


"Baiklah aku berjanji"


"Kau ingat dengan wanita yang pernah mengahmpiri kita saat sedang kencan? Wanita yang mengaku bernama Marni?"


Andin mengangguk tanpa mengatakan apapun seperti janjinya.


Rudi melanjutkan ceritanya. Ia memulai dari awal saat dia bertemu dengan Marni, kapan saja ia bertemu dengan Marni dan apa saja yang terjadi antara dirinya dengan Marni. Bahkan Rudi juga menceritakan ketertarikannya dengan kecantikan Marni.


Andin mendengarkan, wajahnya terlihat sangat serius. Wanita itu benar-benar tidak menyela dan marah terhadap apa yang diceritakan oleh kekasihnya itu.


Andin terlihat sangat dewasa kala itu. Wanita itu berusaha mencerna apapun yang dikatakan dengan oleh Rudi dengan segenap hati dan pikiran jernihnya.


"Jadi itulah yang terjadi antara aku dan Marni, aku sudah menceritakan segalanya. Sebelumnya aku tidak berani menceritakan semua ini karena aku takut akan merusak hubungan kita, jadi hanya aku ceritakan kepada Laura saja." Ucap Rudi serius.


"Terus?" Jawab Andin singkat.


"Terus? Terus bagaimana denganmu?"


"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?"


"Dengan segenap hati"


"Apakah kamu benar-benar ingin memiliki diriku seutuhnya tanpa memiliki yang lainnya?"


"Benar"


"Tidak ada yang perlu kamu risaukan, aku mempercayai kesetiaan-mu dan demikian pula dirimu bisa mempercayaiku"


Rudi tersenyum mendengar jawaban Andin yang melegakan itu. Mereka berdua sama-sama tersenyum. Mata mereka saling menatap. Dua bola hitam bulat yang ada ditengah mata mereka saling bertemu.


Wajah mereka berdua semakin dekat selaras dengan pandangan mereka. Hidung mereka berdua saling bertemu, bibir mereka saling beradu. Aroma mereka saling bertukar dan lampu kamar dimatikan.


Mereka berdua mengadu kasih layaknya sepasang merpati di atas menara tinggi. Tidak pernah takut jatuh dan tidak pernah takut terhempas angin.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2