ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Donat Untuk Sebuah Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Rud lagi libur?" Tanya Laura dari depan rumahnya.


"Libur!" Jawab Rudi dari lantai dua kamarnya.


Laura sedang menyapu dengan baju daster favoritnya. Dia belum menceritakan siapa pria yang mengantar dirinya. Sudah lima hari sejak hari itu, Erlang juga tidak menanyakan apapun kepada Rudi dan dia juga belum menemui Laura sejak hari itu.


Rudi tak ingin menjadi penengah hubungan mereka. Dia lebih memilih untuk diam dan mengamati terlebih dahulu.


Laura masih menyapu, dia tidak lagi mengajak Rudi bicara. Setelah ia selesai menyapu, Laura kemudian masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi.


Rudi masih berdiri di depan kamarnya sambil merokok dan menikmati udara yang masih segar. Beberapa orang yang tinggal di kos-kosan itu mulai berangkat bekerja. Pekerjaan dengan liburan formal tidak libur saat hari senin seperti libur yang dinikmati oleh Rudi.


Beberapa saat setelah orang-orang itu pergi, Rudi melihat Andin dengan motor maticnya. Rudi kemudian turun setelah melihat Andin dan dia langsung menemui Andin.


"Mau kemana sayang?" Tanya Rudi.


Andin melepas helmnya sendiri dan kemudian turun dari motornya.


"Tidak kemana-mana. Tumben manggil sayang?"


"Hahaha, biar imut aja"


"Hahaha, terimakasih sayang"


"Masuk dulu?" Tanya Rudi.


"Masuk kemana?"


"Neraka!"


"Hayuk.."


Mereka kemudian menuju kamar Rudi. Setelah tiba di depan kamar Rudi, Andin tiba-tiba balik menuju motornya dan mengambil sebuah kardus kecil dengan gambar donat berwarna-warni.


Setelah duduk bersama didalam kamar Rudi, Andin kemudian menuju kamar mandi. Setelah itu ia keluar dengan celana dan jaket yang sudah ia lepas.


Andin keluar dengan celana pendek dan kaos putih. Ia terlihat cantik dan seksi seperti biasa. Kemudian mereka memakan donat bersama.


Rudi mengambilkan segelas air untuk Andin.


"Kamu kok tahu aku sedang libur?"


"Tadi aku ketemu Erlang, dia bilang sedang libur jadi aku langsung kesini."


"Emang kamu gak kerja?"


"Lagi daring semua pekerjaanku"


"Oh... Bagaimana Erlang?"


"Apanya?"


Rudi menceritakan apa yang terjadi lima hari lalu saat Erlang datang dan melihat Laura diantar oleh seorang pria dengan sedan hitam.

__ADS_1


"Dia biasa aja sih, cengar-cengir seperti biasa. Dia gak cerita apapun"


"Aku khawatir dengan Erlang, takut dia semakin minder."


"Kamu udah cerita ke Laura?"


"Belum"


"Panggil Laura kesini aja, mumpung masih ada donatnya."


"Sekarang?"


"Besok! Tahun depan"


"Hahaha"


Rudi beranjak, namun sebelum ia pergi menemui Laura, dia mendekati wajah Andin dan mencium keningnya. Andin kemudian mengusap keningnya setelah dicium oleh Rudi. Bukan karena sebab, Andin mengusap keningnya karena bibir Rudi terdapat banyak sisa donat dan Rudi sengaja mengelapkan bibirnya di kening Andin.


Rudi pergi menemui Laura dengan senyum lebar diwajahnya setelah berhasil mempermainkan Andin.


...----------------...


Laura dan Rudi tiba di kamar dimana Andin sedang rebahan dengan donat yang masih tersisa lima biji. Laura duduk disebelah pintu masuk. Dia ikut mencicipi donat yang dibawa oleh Andin.


"Ada apa?" Tanya Laura.


"Gak ada, cuma mau nawarin donat" jawab Rudi.


"Iya, buat ayang Rudi"


"Pffftt..." Laura tertawa dengan donat yang masih belum ia kunyah.


"Erlang belum pernah kesini lagi Ra?" Tanya Andin.


"Belum, ada apa?"


"Kemarin kata Rudi dia kesini dan..."


Belum selesai Andin mengatakannya, Laura menaruh donatnya dan bersiap untuk memotong perkataan Andin.


"Emmm... Sudah, kita sudah bertemu dan aku juga sudah menjelaskan semuanya."


"Jadi benar yang nganterin kamu itu mantan suamimu?" Rudi bertanya.


"Iya, Itu setelah aku bertemu dengannya untuk menolak ajakan rujuk darinya."


"Terus bagaimana dengan Erlang?"


"Dia sudah tahu dan kita sudah baikan"


"Oh pantesan tadi aku pas ketemu sama Erlang dia sudah cengingisan" kata Andin.


"Hahaha, dia selalu saja mempersalahkan harta. Dia takut jika aku akan lebih memilih yang lebih berpunya darinya."

__ADS_1


"Hahaha, memang begitulah Erlang"


"Oh iya An, kamu kenal Erlang dari kapan?"


"Dari kecil"


Rudi dan Laura kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Andin. Mereka tidak mengira bahwa Andi. dan Erlang adalah teman dari kecil.


"Kamu serius?" Tanya Rudi dengan wajah kaget.


"Hahaha, sebenarnya kita masih ada hubungan darah sih. Tapi aku tidak terlalu paham dia itu keponakan atau apa."


"Terus dia dulunya bagaimana? Kenapa dia pisah sama mantan istrinya?" Laura bertanya.


"Istrinya selingkuh sama orang lain yang lebih kaya darinya, mungkin karena itu dia takut punya hubungan denganmu Ra."


"Terus tato wajah anak kecil yang ada ditangannya?" Rudi bertanya.


"Itu anaknya, anaknya meninggal karena sakit dan orang tuanya tidak mampu membiayai rawat inapnya"


"Jadi dia bohong saat itu, dulu dia bercerita lain tentang tato anak kecil yang ada ditangannya."


"Dia sangat tidak suka ada orang yang merasa iba dengan keadaannya. Dia sangat egois akan hal itu."


Mereka bertiga terus menggali informasi tentang Erlang. Laura lebih banyak diam dan mendengarkan. Kisah Erlang cukup menarik untuk ia simak, begitu banyak pengalaman dan sikap yang membuat Laura semakin mantap untuk tetap bersama dengan pria itu.


Donat sudah tersapu habis, Rudi membelikan dua wanita itu es dan cemilan. Mereka melanjutkan obrolan dan bersantai hingga siang datang dan matahari mulai membakar udara menjadi aura panas yang menyengat.


Andin kemudian mengenakan celana dan jaketnya lagi, dia bersiap untuk kembali. Rudi dan Laura mengantarkan Andin hingga ia hilang dari pandangan mereka berdua.


Laura dan Rudi kemudian kembali ke kamar dan mereka mulai membahas hal lain. Hal lain yang tidak akan enak jika didengar oleh Andin.


Mereka bercerita tentang Marni. Rudi tidak pernah mencoba membandingkan Marni dengan Andin didalam obrolan itu. Dia hanya menyampaikan bagaimana Marni dan bagaimana Rudi mengagumi Marni.


"Menurutmu, apakah perlu aku meninggalkan Andin saat Marni sudah benar-benar datang dalam hidupku?"


"Seperti akan menjadi hal yang sangat sulit. Apalagi Andi adalah teman sekaligus sedarah dengan Erlang sahabatmu."


...----------------...


...Cinta itu adalah sebuah jelmaan nafsu...


...Ia merubah wajah nafsu dengan perasaan yang tidak adil...


...Cinta bisa menumbuhkan sebuah perang...


...Cinta juga bisa mendatangkan kedamaian...


...Tapi bagaimana dengan keegoisan manusia?...


...Cinta akan menjadi alasan paling sempurna untuk sebuah pertumpahan darah...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2