ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Tutup Mahkota


__ADS_3

Sore yang cerah, Rudi masih berada di dalam bus yang sedang menuju terminal asalnya. Tidak terasa sudah seharian ia berada dalam pekerjaan yang mengasikkan itu.


Setelah bus sampai di terminal, Rudi langsung pulang setelah berpamitan dengan Erlang dan pak Darto yang masih ingin ngopi bersama. Rudi tidak mengikuti mereka karena ia ingin ke pasar terlebih dahulu sebelum pulang. Ia merasa semua pakaian yang ia punya sudah cukup lama ia kenakan dan sudah waktunya untuk membeli beberapa pakaian baru.


Rudi masih memiliki uang dari sisa tabungannya yang dahulu. Masih kurang beberapa hari sebelum gajian ke-empatnya.


Rudi menaiki angkot dengan jurusan yang berbeda dengan angkot yang biasa ia naiki. Rudi duduk di kursi belakang, ia menatap ke belakang dan melihat beberapa orang yang tidak ia kenal. Mereka seperti robot yang taat dengan pekerjaan mereka, kaku dan tidak pernah menjadi provokator mogok kerja.


Rudi jadi teringat dengan para karyawan ayahnya yang sangat taat bekerja. Ayahnya sering kali memberikan beberapa insentif untuk para pekerjanya, dan mereka semua mendapatkan insentif tersebut.


"Semua orang butuh makan, semua butuh kerja" gumam Rudi pelan.


Setelah setengah jam ia berada di atas angkot, Rudi sampai di pasar tempat ia akan membeli beberapa pakaian.


Ia masuk kedalam pasar yang sudah mulai sepi itu, Rudi mencari toko yang menjual kaos dan celana levis. Ia tidak mengharapkan akan ada pakaian bermerek seperti yang biasa ia beli saat masih di rumah dulu.


Rudi menemukan tokonya dan mulai melihat-lihat beberapa baju dan kemudian ia mengambil dua kaos berwarna hitam dan memberikannya kepada penjual.


"Ada celana jeans gak om?" Tanya Rudi.


"Ada, ukuran berapa?"


"37-an"


"Sebentar ya,"


Penjual itu mengambil beberapa celana jeans yang diminta oleh Rudi dari laci paling atas tokonya dan memberikannya kepada Rudi.

__ADS_1


Rudi membuka bungkus celana yang diberikan kepadanya saru persatu, ia mencoba mencocokkan dengan ukuran kakinya. Empat celana yang diberikan kepadanya terlihat belum cocok bagi Rudi dan ia meminta beberapa lagi.


Sebuah celana jeans polos tanpa motif yang ketat namun berbahan elastis.


"Udah itu aja, udah cocok itu." Ucap seorang wanita tiba-tiba.


Rudi memalingkan wajahnya dan melihat wanita yang tiba-tiba saja nyeletuk kepadanya itu. Setelah Rudi melihat wanita itu, Rudi kaget bukan main. Ternyata wanita itu adalah Andin.


"Lah, kamu kok disini?"


"Kenapa? Gak boleh?"


"Boleh, boleh. Mau beli apa?"


"Beli tutup mahkota"


"Hahaha, entar juga tahu sendiri. Udah beli itu aja, udah cocok sama kamu itu. Terus temenin aku beli tutup mahkota."


Rudi mengiyakan perkataan Andin dan membayar pakaian yang sudah ia pilih. Setelah membayar, Rudi mengikuti Andin dari belakang.


"Rud, sini jalan bareng"


Andin mengajak Rudi agar berjalan beriringan di sampingnya.


"Rud, kenapa kamu nyusahin diri sendiri demi mencari seorang wanita yang kamu inginkan? Bukankah akan lebih mudah jika kamu tetap menampilkan posisimu?"


"Hahaha, biar seru aja. Akan sangat rugi jika hanya cerita hidup kita akan begitu-begitu aja"

__ADS_1


"Hahaha, ada juga ya cowok se-gila kamu"


"Hahaha, burung butuh jatuh dari pohon agar bisa menikmati awan-awan di angkasa."


"Namun akan lebih mudah jika mereka tidak perlu jatuh dari pohon untuk bisa menikmatinya"


"Karang meminta dihantam ombak atau ombak yang ingin menghantam karang?"


"Tidak keduanya"


"Terus bagaimana"


"Ombak dan karang sebenarnya tidak ingin saling bertabrakan" Andin menatap Rudi.


Rudi menatap Andin balik dan menaikkan alisnya seakan sedang menanyakan kelanjutan ceritanya.


"Karang menghadang ombak untuk berkorban agar daratan tidak termakan air asin itu dan ombak tidak akan ada tanpa angin yang memaksanya. Mereka berdua sama-sama dalam tekanan kekuatan alam yang tidak bisa mereka hindari"


Rudi memberikan tepuk tangan untuk pidato singkat dari Andin.


Setelah berjalan beberapa saat, Andin berhenti didepan sebuah toko yang menjual berbagai macam kutang. Rudi menatap Andin dengan mata terbelalak. Andin tertawa kecil melihat ekspresi Rudi yang nampaknya kebingungan.


"Ini adalah tutup mahkota".


Rudi baru menyadari apa yang Andin maksud dengan tutup mahkota itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2