
Di langit yang jauh disana dua burung kecil saling terbang beriringan, seakan sedang memadu kasih. Dua burung kecil itu terlihat senang dan bahagia. Mereka terbang lebih tinggi dan jatuh lebih lebih cepat. Sayap kecil mereka saling bergandengan, dengan tubuh tang ringan. Dua burung itu jatuh dalam kebersamaan.
Terus meluncur hingga hendak menyentuh tanah, kemudian mereka berdua bangkit dan terbang lagi. Seakan dua burung itu ingin mengatakan kepada setiap manusia bahwa mereka berdua sudah siap terluka asalkan tetap bersama.
Rudi sedang mengantarkan Laura berbelanja, ia menunggu diluar sebuah gedung perbelanjaan yang cukup megah.
Rudi duduk dibawah pohon yang terdapat sebuah tempat duduk dari tumpukan batu bata yang sudah dilumuri oleh adonan pasir dan semen.
Pria itu duduk tenang menatap empat anak kecil yang saling bahu-membahu memanjat pohon mangga. Anak-anak kecil itu terlihat ingin mengambil sebuah layangan yang ada di atas pohon mangga. Tidak ada seorangpun yang hendak membantu mereka, seakan membiarkan anak-anak itu berusaha sendiri adalah jalan terbaik.
Rudi masih duduk disana, dia juga tidak ingin membantu anak-anak kecil itu. Ia lebih memilih untuk tetap duduk tenang disana merokok dan mengamati anak-anak kecil yang masih berusaha mengambil layangan itu.
Menatap tanpa menoleh kanan dan kiri hingga ia tidak menyadari bahwa seorang gadis sedang mengamati dirinya dari kejauhan dan mendekat. Wanita itu berjalan pelan dengan menundukkan wajahnya. Wanita itu semakin dekat dengan Rudi dan Rudi masih belum menyadari kedatangan wanita hingga wanita itu duduk disampingnya.
Rudi merasakan angin yang terhempas dari baju gamis wanita itu. Aroma harum dari wanita itu juga membuat Rudi sangat yakin bahwa yang sedang duduk disampingnya itu adalah seorang wanita.
Rudi memalingkan pandangannya dari anak-anak kecil yang sedang menggapai layangan dan menoleh ke arah wanita yang tiba-tiba saja duduk disampingnya.
Rudi terperanjat begitu melihat sosok wanita itu. Tanpa ia sadari dan ia duga, wanita itu adalah wanita yang sudah cukup lama tidak terlihat olehnya. Wanita cantik yang sempat ia lupakan demi menerima Andin.
Marni tersenyum dari balik cadarnya, matanya sangat indah dan sangat sejuk untuk dipandang. Rudi terpaku sebentar dan menggeser posisi duduknya. Ia sedikit memberi jarak antara dirinya dan Marni. Untuk beberapa saat, tidak ada obrolan antara mereka berdua.
"Kenapa kamu masih belum datang ke alamat yang aku berikan Rud?"
"Maaf aku masih sibuk, hehehe"
Rudi seperti sedang bingung menjawab pertanyaan Marni yang tanpa basa-basi itu.
"Ohh... Masih sibuk. Sedang apa kamu disini?"
"Nganterin teman belanja"
"Kamu juga tidak belanja?"
"Tidak, tidak ada"
Respon yang diberikan oleh Rudi seakan sedang menghindari obrolan dengan Marni, tapi didalam hatinya seperti ada sebuah gejolak yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Rudi tidak paham dengan situasinya saat ini, ia selalu merasakan gejolak itu saat sedang berdekatan dengan Marni.
"Kamu terlihat tegang, santai aja hehehe..."
"Hahaha, tidak! Aku tidak tegang." Ucap Rudi sambil menggaruk kepalanya.
"Bagaimana kabar Andin?"
"Baik, dia sehat seperti biasa"
"Yang kamu antar itu bukan Andin?"
__ADS_1
"Bukan, dia Laura. Teman sekaligus pemilik kos-kosan yang aku tinggali"
"Boleh kenalan tidak sala Laura?"
"Hahaha, sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu."
"Hahaha, kenapa bisa begitu"
"Dulu kamu tiba-tiba saja datang ke mejaku dan mengajak Andin berkenalan"
"Hahaha, aku hanya penasaran dengan wanita yang kamu ajak kencan."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa"
"Hanya penasaran saja"
"Kamu sering ke tempat itu?" Rudi mulai bertanya.
"Iya sering, disana tempat aku dan teman-temanku bersantai"
"Jadi..." Rudi belum selesai berbicara dan Marni memotongnya.
"Alamat yang aku berikan kepadamu masih kamu kamu simpan?"
"Datanglah."
Wanita itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Rudi yang terlihat seperti masih ada yang ingin ditanyakan kepada Marni.
Marni berjalan cepat, masuk ke dalam gang dan kemudian menghilang dari pandangannya. Rudi menatap Marni dari dari belakang sebelum Marni hilang dari pandangannya. Ia sangat menyesal karena masih ada sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat lama ia tanyakan kepada Marni. Rudi sangat ingin mengetahui apa motif Marni datang dan pergi begitu saja dari hidupnya. Seakan Marni adalah dalang sekaligus orang yang sudah sangat lama memperhatikan dirinya.
Rudi masih menatap gang tempat Marni menghilang. Ia tidak sadar Laura sudah ada dibelakangnya dengan membawa satu kantong plastik besar.
"Rud, ayo pulang." Ucap Laura mengagetkan Rudi.
"Sudah selesai?"
"Iya sudah, kamu tidak cari makan dulu?"
"Kamu mau makan dulu?" Rudi bertanya balik.
"Aku tidak lapar tapi kalau kamu lapar kita cari makan dulu"
"Tidak, aku tidak lapar"
"Baiklah mari langsung pulang saja"
__ADS_1
"Baiklah."
Kemudian Rudi mengambil motor dan langsung pulang bersama Laura. Dalam perjalanan pulang, Rudi sama sekali tidak melupakan bagaimana Marni menemui dirinya. Ia juga berusaha menerka alasan dibalik datang dan perginya wanita yang tiba-tiba.
Teriknya matahari pagi itu tidak terasa seakan baru jam tujuh pagi, cukup panas dan membuat tubuh bercucuran keringat.
Singkat perjalanan mereka sampai di kos-kosan dan mereka berdua langsung menuju depan rumah Laura. Setelah Laura turun dari motor, Rudi langsung menaruh motor itu di garasi dan menemui Laura kembali.
"Ra, ada minuman?"
"Alkohol?"
"Iya"
"Tumben pagi-pagi mau minum"
"Hahaha, sedang haus"
"Yasudah masuk, minum didalam saja biar tidak dilihatin orang."
"Pake es batu ya"
"Siap bos" ucap Laura dengan gaya hormat.
Rudi tertawa melihat Laura yang hormat kepadanya. Wanita setengah tua itu terlihat seperti anak kecil yang tidak rela disuruh-suruh oleh orang lain.
Laura kemudian masuk ke dalam dapur dan mengambil segelas minuman yang ia taruh didalam kulkas, ia juga membawa beberapa potong es batu kristal dan dua gelas berukuran sedang.
Mereka berdua duduk bersampingan dan Rudi langsung menuangkan minuman untuk Laura.
Rudi tidak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi kepadanya saat sedang menunggunya berbelanja tadi. Ia lebih memilih untuk diam dan mencerna apa yang sedang direncanakan oleh Marni untuk dirinya.
"Kamu sudah tidak pernah bertemu dengan Marni lagi Rud?" Laura bertanya.
"Tidak pernah, terakhir kali aku bertemu dengan Marni itu dulu yang pernah aku ceritakan kepadamu."
"Yang pas kamu sedang kencan dengan Andin dan tiba-tiba Marni datang itu?"
"Iya"
"Aku sebenarnya sangat penasaran dengan wanita itu, Erlang juga tidak terlalu mengetahui wanita itu."
"Hahaha, kan aku sudah menceritakan semuanya kepadamu"
"Maka dari itu aku penasaran dengan wanita, wanita yang bisa membuat seorang Rudi terkagum-kagum."
"Hahaha, biasa saja"
__ADS_1
Pembahasan mereka tentang Marni disudahi hingga disana, mereka kemudian membahas hal lain yang lebih menyenangkan, dan hal lain yang menyenangkan itu adalah setiap hal dan cerita tentang Erlang sang kekasih Laura yang paling imut dan romantis.