ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Musik Yang Indah


__ADS_3

Terminal hari ini sangat sejuk. Masih banyak embun yang menempel diantar dedaunan. Rudi berjalan masuk ke dalam terminal dengan mengelus-elus bahunya untuk menghilangkan udara dingin yang melekat ditubuhnya.


Erlang masih belum datang, Rudi menunggunya di pangkalan bus bersama beberapa supir bus dan kernet lainnya.


"Erlang masih belum datang?" Tanya sopir bus yang duduk disebelahnya.


"Belum sepertinya, biasanya dia yang pertama datang."


"Mungkin masih tidur"


"Hahaha, tapi bener enak banget tidur pas cuacanya dingin seperti ini"


"Apalagi yang udah punya istri"


"Hahaha, apalagi yang istrinya dua."


Ditengah asiknya mereka mengobrol, Erlang datang dari kejauhan. Rudi dan supir itu membicarakan Erlang yang sedang berjalan ke arah mereka. Erlang nampak sedang kedinginan, Pria itu mengenakan jaket hitam dan melipat kedua tangannya.


Erlang berjalan pelan menuju ke arah Rudi yang sudah asik duduk dan merokok. Erlang langsung duduk diantara teman-temannya, dia menyela dan langsung merangkul Rudi.


"Dingin banget bro!" Ucap Erlang dengan gigi menggigil.


"Hahaha, pasti tidak mandi." Ucap Rudi.


"Mending bau ketiak daripada harus mandi"


"Kurang berapa menit lagi?" Tanya Rudi kepada temannya.


Teman Rudi sekaligus supir bus sebelah itu melihat jam tangannya.


"Masih setengah jam lagi"


Rudi menyalakan api dan menghisap satu batang rokok lagi. Ia menawarkan rokoknya kepada Erlang dan teman-temannya. Erlang mengambil satu dan yang lain menolaknya.


"Kamu gak kedinginan Rud?" Tanya Erlang.


"Biasa aja" jawab Rudi.

__ADS_1


Rudi yang hanya mengenakan kaos lengan pendek itu sebenarnya kedinginan hingga melipat kaki dan tangannya, ditambah Erlang yang masih merangkul dirinya membuat tubuhnya sedikit hangat.


Mereka melanjutkan obrolannya dan beberapa penumpang mulai masuk ke dalam bus. Beberapa penumpang juga terlihat kedinginan. Mereka masuk ke dalam bus dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tangan mereka.


Setelah waktu bekerja tiba, Rudi dan Erlang mulai bekerja. Mereka mencari penumpang dan membantu beberapa penumpang dengan barang bawaan yang cukup besar untuk ditaruh di bagian bawah bus. Sebuah bagasi yang mampu menampung hingga tiga manusia didalamnya.


"Mas ini bus ke barat?" Tanya seorang wanita yang ada dibelakang Rudi.


"Iya mbak" jawab Rudi tanpa menoleh ke arah wanita itu.


Wanita itupun berjalan melewati Rudi dan masuk ke dalam bus. Setelah wanita itu masuk ke dalam bus, tiba-tiba saja Rudi menyadari sesuatu tentang wanita itu. Suara wanita itu sangat tidak asing ditelinga Rudi.


Rudi pun menatap wanita yang sudah masuk ke dalam bus itu. Tidak diragukan lagi, dengan pakaian serba tertutup dan suara yang manis dan merdu. Wanita itu adalah Marni.


Rudi tidak langsung menghampiri Marni yang sudah duduk di kursi bus paling belakang. Dia melanjutkan pekerjaannya, membantu menaikkan beberapa barang dan terus mencari penumpang.


Rudi nampak sangat gelisah seperti biasa, seperti sedang tidur di atas sebuah kasur yang sangat nyaman namun ditindih oleh satu batu besar diatasnya. Ia merasakan sebuah kegelisahan dan kesenangan yang datang bersamaan.


Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, Rudi langsung masuk ke dalam bus dan menghampiri Marni.


"Mau pulang?" Rudi langsung bertanya.


"Apakah kamu benar-benar mencintai Andin?"


Pertanyaan itu membuat Rudi terkejut. Kernet yang terkenal akan parasnya yang rupawan itu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya. Ia tidak menyangka bahwa Marni akan menanyakan sesuatu yang bukan urusannya seperti itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Rudi bertanya balik.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya penasaran dan tidak memiliki hal lain untuk dibahas denganmu"


"Itu karena kita jarang bertemu dan jarang mengobrol."


Marni tersenyum dan Rudi terheran-heran dengan senyum Marni yang nampak mencurigakan.


"Jadi bagaimana jika kita menambah waktu untuk saling bertemu?"


Rudi mendapatkan jawaban dari senyum mencurigakan Marni tadi. Ia menyadari bahwa dirinya telah memakan umpan yang diberikan Marni. Selain itu, Rudi juga menyadari hal lain tentang Marni. Rudi merasa bahwa wanita itu sangat cerdas dan sangat pandai dalam urusan perkataan dan perasaan.

__ADS_1


"Sepertinya tidak akan bisa" ucap Rudi setelah cukup lama tertegun.


"Kenapa?"


"Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan agar kita bisa lebih sering bertemu dan mengobrol."


"Bagaimana jika aku mempunyai solusinya?"


"Aku tetap akan memilih untuk tidak sering bertemu dan mengobrol denganmu"


"Berarti kamu tidak tertarik kepadaku?"


Rudi diam sejenak, ia tidak bisa mengatakan jika dirinya tidak menyukai wanita itu. Hal itu pasti akan menyakiti hatinya.


Sementara itu bus melaju di atas aspal panas dengan kecepatan penuh. Pagi yang dingin sudah menjadi sebuah siang yang panas dan gerah. Didalam bus itu terasa setiap keringat mulai bercucuran dan memenuhi bagian tubuh yang paling mudah berkeringat.


"Ongkos" ucap Rudi kepada Marni.


Rudi tidak menjawab pertanyaan terakhir Marni, ia justru menagih ongkosnya dan melanjutkan ke penumpang lainnya. Marni menutup kembali cadarnya dan Rudi berjalan menjauh dari dirinya.


Marni tidak mengatakan apapun lagi saat Rudi hendak meninggalkan dirinya. Marni duduk di kursi bagian belakang sendirian. Semua kursi di bagian belakang itu kosong. Hanya Marni seorang.


Marni menatap Rudi yang sedang menagih ongkos setiap penumpang. Mulai dari kursi belakang hingga kursi paling depan. Setelah itu Rudi berdiri didepan pintu masuk bagian depan bus. Pria itu tidak menoleh dan tidak menghampiri dirinya lagi.


Bus itu melaju dengan kencang tanpa ada jeda pemberhentian. Detik demi detik, menit demi menit hingga bus itu sampai di terminal tujuannya. Marni turun melalui pintu belakang dan Rudi turun dari pintu depan.


Rudi mulai menurunkan beberapa barang milik penumpang. Ia tidak menoleh sedikitpun ke arah Marni yang mulai menjauh dari bus.


Hingga sampai pada beberapa langkah, Marni menolehkan kepalanya ke belakang hendak memandang ke arah Rudi. Saat itu juga dalam sebuah kebetulan yang nyata, Mata Rudi juga menatap ke arah Marni. Kedua bola mata mereka saling Menatap satu sama lain. Dari keramaian para penumpang yang sedang turun dari bus itu, samar-samar terdengar musik indah yang masuk dari telinga Rudi dan menjalar masuk ke dalam hatinya. Musik itu begitu menenangkan hingga Rudi terbawa suasana dihadapan tatapan tajam mata Marni.


Terlihat senyum Marni terukir di balik cadar ungu mudanya. Wanita itu kemudian memalingkan wajahnya dari Rudi dan langsung berjalan pergi menjauh darinya.


Rudipun memalingkan wajahnya juga dan melanjutkan pekerjaannya. Setelah semua penumpang turun dari bus, Rudi masuk ke dalam bus lagi dan Erlang mulai memarkirkan bus itu.


"Ayo ngopi" ucap Erlang setelah mematikan mesin bus.


Rudi mengangguk dan Erlang turun dari atas bus. Mereka berdua kemudian pergi menuju tempat biasa mereka ngopi dan dan beristirahat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2