
...Dia adalah seorang wanita kelabu...
...Hari-harinya penuh dengan kunang masa lalu...
...Seperti bunga lili di malam hari...
...Mempesona penuh dengan luka...
...Andai keheningan malam menyertainya...
...Kesedihan juga akan berjumpa dengannya...
...Kini ia memutuskan untuk lepas...
...Dari perlakuan dan tabunya kasih sayang...
...***************...
Liburan hari kedua Rudi, ia memutuskan untuk mengunjungi dan menemani Salsa selama sehari penuh. Ia mengajak Laura yang juga sudah cukup lama tidak mengunjungi Salsa.
Rudi mendapatkan saran dari Laura agar dirinya membelikan makanan yang spesial dan beberapa hadiah. Saran yang tidak pernah terpikirkan oleh Rudi, karena setiap hari dia hanya membawakan buah-buahan, jajanan pasar dan beberapa minuman dalam kemasan.
Laura mengajak Rudi agar berangkat agak siang karena dirinya masih harus membersihkan teras dan rumah. Rudi menyetujui permintaan Laura dan dia juga memanfaatkannya untuk berbelanja beberapa makanan dan hadiah.
Rudi berangkat menuju pasar. Ia berpikir untuk membelikan sebuah kerudung dan anting.
Rudi belum pernah melihat Salsa dalam balutan kain indah yang menutupi rambutnya, dan kali ini ia akan melihatnya.
Rudi menghampiri sebuah toko busana muslim yang berada di lorong menuju sebuah makam di daerah itu. Konon makam itu adalah makam seorang ulama besar di daerah itu. Banyaknya orang yang ziarah ke sana membuat beberapa penduduk membuka toko pakaian dan makanan ringan.
Rudi cukup pilih-pilih dengan warna dan motif kerudung yang akan ia beli. Terlalu banyak pilihan, ditambah lagi Rudi tidak pernah membelikan kerudung untuk seorang wanita.
Penjaga toko menawarkan tiga kerudung dengan warna dan motif yang berbeda.
"Ini mungkin cocok kak" saran penjaga toko dengan mengulurkan sebuah kerudung berwarna merah mudah dengan motif simpel di tepiannya.
"Emm... Orangnya agak kecil dan imut kak, apa ini tidak terlalu kebesaran?" Ucap Rudi polos.
"Hahaha, kan cara memakainya dilipat dulu kak"
__ADS_1
"Ohh,.. Jadi dilipat dulu ya"
"Iya" ucap wanita penjaga toko itu.
Rudi sudah terlalu lama berada di tokoh busana muslim itu. Ia memutuskan untuk membeli tiga kerudung yang ditawarkan kepadanya dan langsung pulang.
Setibanya di kos-kosan, ia langsung menemui Laura di dalam rumahnya dan memberitahunya untuk segera bersiap dan berangkat. Rudi juga kembali ke kamarnya untuk bersiap.
...----------------...
Setelah mereka bersiap, mereka langsung menuju rumah sakit. Rudi sangat tidak sabar untuk memberikan kerudung yang baru saja ia beli dan melihat Salsa memakainya. Laura beberapa kali memuji inisiatif Rudi. Dia tidak berpikir Rudi akan membelikan sebuah kerudung untuk Salsa, karena yang ia pikirkan adalah sebuah gaun atau pakaian lainnya yang lebih mengarah ke sebuah penampilan ala barat yang lebih terbuka.
"Mimpi apa kamu hingga ingin membelikan Salsa sebuah kerudung?" Tanya Laura kepada Rudi yang sedang fokus menyetir.
"Hahaha, Rudi juga masih punya iman"
"Hahaha, aku juga penasaran bagaimana penampilan Salsa saat ia mengenakan kerudung"
"Hahaha, kenapa kamu tidak coba memakai kerudung juga?"
"Nunggu dilamar ustadz duda"
Obrolan mereka melahap waktu selama perjalanan. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua berjalan menuju kamar Salsa.
Rudi sangat bersemangat, bahkan ia terlihat sangat riang saat melewati beberapa kamar inap pasien lainnya. Laura senyum-senyum sendiri melihat Rudi yang sesekali mengintip pasien lain dan menyapa mereka.
Rudi sampai didepan pintu kamar Salsa, ia membuka pintunya dan tidak ada seorang pun didalam kamar itu. Bahkan Salsa juga tidak ada disana. Laura juga penasaran dan mengintip ke dalam kamar Salsa. Benar tidak ada seorang pun disana.
"Rud ayo kita tanyakan resepsionis rumah sakit"
"Baiklah, ayo!"
Rudi berjalan biasa dengan langkah yang lebih cepat. Sesampainya dimeja tempat dimana resepsionis rumah sakit duduk, Rudi menanyakan keberadaan pasien yang berada di kamar nomor 57, Lantai 3. Resepsionis itu membuka sebuah buku catatan dan mencari daftar pasien yang ada lantai tiga.
"Nomor 57? Atas nama Salsa?"
"Iya kak, atas nama Salsa?"
"Pasien tersebut baru saja keluar tadi pagi kak"
__ADS_1
"Pulang? Dengan siapa dia pulang?"
"Bersama penanggung jawab serta bos dari saudari Salsa"
"Bukannya dia belum sembuh total ya kak?" Laura mencoba untuk bertanya lebih dalam.
"Sebenarnya itu semua atas keinginan pasien sendiri kak"
"Oh, baiklah terimakasih"
Laura mengajak Rudi untuk duduk terlebih dahulu. Rudi sudah sangat panik mendengar Salsa sudah pulang tanpa sepengetahuannya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang hendak dilakukan oleh Salsa. Rudi merasakan perasaan kehilangan lagi dan menjadi sangat bingung dan marah. Ia sudah menjelaskan semuanya kepada Salsa bahwa dia akan menerimanya dalam keadaan apapun, namun sepertinya Salsa sangat tidak ingin membuat Rudi lebih tersiksa dengan keadaannya yang sekarang.
"Nanti kita temui bos Salsa"
"Tidak perlu! Sepertinya Salsa memang sudah tidak lagi ingin bersama denganku."
"Apa kau takin tentang itu Rud? Bagaiaman jika ada hal lain?"
"Entahlah Ra, hanya itu yang ada didalam pikiranku sekarang"
"Kita cari kejelasan terlebih dahulu, kau putuskan setelah itu"
"Aku sangat lelah Ra! Aku sudah mengatakan semuanya kepada Salsa, semuanya! Bahkan aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan"
"Tenangkan dirimu, kita cari orang yang mengantarkan Salsa terlebih dahulu, dan mencari penjelasan darinya"
Rudi hanya duduk dan menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong dan mengabaikan perkataan Laura.
Dia kehilangan Salsa untuk kedua kalinya. Rudi ling-lung dan tidak bisa memikirkan apapun lagi. dia hanya menatap langit-langit rumah sakit dan tidak mengatakan apapun. Laura hanya diam dan menunggu keputusan Rudi.
"Tenangkan dirimu, kita cari Salsa! Setelah itu terserah kamu," ucap Laura.
Rudi masih belum menjawab. Cukup lama ia melamun dan akhirnya dia berdiri dan mengambil minum yang ada disebelah tempat duduk resepsionis.
"Bisakah saya mengetahui siapa bertanggung jawab atas pasien yang bernama Salsa?"
"Namanya Bapak Amin"
"Baiklah terimakasih"
__ADS_1
Rudi pergi keluar rumah sakit dan Laura mengikutinya dari belakang.