ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Asap Kebebasan


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Rudi mulai bekerja. Rudi setelah ditinggalkan Andin sangat berbeda dengan Rudi sebelumnya. Kini pria itu menjadi sangat sulit untuk diajak bercanda dan menjadi sangat pendiam.


Hari-hari yang ia lalui ia penuhi dengan diam dan menenangkan pikirannya, ia masih belum menyentuh barang-barang yang akan merusak dirinya. Hanya rokok dan alkohol yang ia geluti tiap hari, baik ada Erlang ataupun saat ia sendirian. Didalam kamarnya penuh dengan botol minuman.


Tidak ada yang mengingatkan atau menegur Rudi agar mengurangi alkohol dan rokok yang ia konsumsi. Semua teman-temannya hanya melihat dan menemaninya agar tidak sampai menyentuh barang yang lebih berbahaya.


Hingga suatu hari ada yang seorang temannya yang menawarkan sebuah gulungan rokok yang sudah diisi dengan barang lain.


Dimas adalah seorang penjaga parkiran di sekitar pasar. Rudi mengenal Dimas dari salah satu teman sesama kernetnya yang juga memberikannya rekomendasi.


Itu adalah rokok ganja pertama Rudi yang ia hisap didalam kamarnya yang terkunci rapat. Hal itu ia lakukan setelah ia pulang bekerja. Rokok ganja atau yang biasa Dimas sebut sebagai 'cimeng' itu ia berikan kepada Rudi secara cuma-cuma karena Rudi baru saja mencobanya.


Saat itu, di dalam kamarnya mengepul asap dari satu batang rokok yang membuat kepala Rudi terasa ringan dan tenang. Sore itu tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam kamar Rudi.


Satu batang itu ia habiskan dalam satu kali duduk, setelah satu batang itu habis, Rudi langsung tidur tanpa membuat keributan apapun.


Efek yang diberikan oleh cimeng itu membuat Rudi tidur lelap hingga matahari terbit dari timur. Saat Rudi bangun seluruh tubuhnya menjadi sangat ringan dan pikirannya sangat tenang. Ia akhirnya berniat untuk membeli beberapa dari Dimas dan akan ia gunakan setiap hari setelah ia bekerja.


Dalam keadaan kabut itu Rudi tetap memikirkan agar setiap hal yang ia lakukan tidak menggangu pekerjaannya dan tidak menyusahkan teman-temannya.


Setiap hari setelah ia pulang kerja, ia selalu mampir ke pasar terlebih dahulu sebelum pulang ke kosan. Kebiasaan barunya itu berjalan hingga satu minggu. Selama satu minggu itu pula pikirannya berlarut-larut mulai tenang dan bisa melupakan Andin. Namun sisi buruknya semakin hari semakin membuatnya tidak bisa lepas dari rokok ganja itu. Dari satu hari satu batang kini menjadi dua batang setiap hari.


Karena sudah cukup lama Rudi memesan dari Dimas, Dimas pun menyarankannya untuk membeli dalam bentuk ganjanya saja dan mencampurnya sendiri kedalam batang rokok. Rudi menyetujui saran Dimas itu dan mulai membeli ganjanya saja.


Kini tidak ada lagi yang Rudi yang ia sisihkan, setiap uang yang ia dapat ia gunakan untuk membayar kos, makan, rokok dan beberapa ganja.


Tidak ada satu orangpun yang mengetahui kebiasaan Rudi yang baru ini. Bahkan Laura yang akhir-akhir ini mulai sering bersama dengan Rudi didepan teras rumahnya juga tidak melihat tanda-tanda perubahan sikapnya.


Rudi perlahan menjadi sosok Rudi yang seperti biasanya, yang berbeda darinya kini justru porsi bercandanya yang semakin besar.


...----------------...


"Rud, baru pulang?" Tanya Laura.


Rudi yang ingin menuju kamarnya itu mengurungkan niatnya dan menghampiri Laura.


"Iya, Ra. Ada apa?"


"Tidak ada, duduk sini dulu kita ngobrol"

__ADS_1


"Hahaha, ngobrol saja tanpa kopi? Asem dong!"


"Hahaha, tenang saja nanti aku buatin"


"Sip! Buatin satu termos ya"


"Hahaha, jangankan satu termos. Satu galon pun aku buatin"


"Uhh... Jadi sayang..."


"Hahaha, duduk dulu aku buatin kopi"


"Siap mama kos. Erlang tidak kesini?"


"Tidak, udah empat hari ini dia tidak kesini"


"Baiklah..."


Terkadang Laura merasa risih dengan beberapa guyonan yang diucapkan oleh Rudi, namun ia tetap bersikap biasa saja dan mencoba memakluminya karena takut akan merusak masa-masa pemulihan otaknya.


Rudi mengeluarkan rokoknya dan menyembunyikan beberapa ganja yang baru saja ia beli. Rudi menyalakan satu batang rokoknya dan menunggu Laura selesai membuatkan kopi untuknya.


Setelah beberapa saat menunggu, Laura keluar dengan membawa satu gelas kopi dan beberapa roti tawar.


"Hahaha, perhatian banget. Jadi malu"


"Hahaha, ini roti tawar. Biar aku ambilkan selai-nya dulu"


Laura masuk lagi dan keluar membawa satu botol gelas selai berwarna merah. Setelah itu ia duduk mulai mencampur selai di atas roti dan memakannya.


Rudi mengikuti apa yang dilakukan oleh Laura, namun ia menata roti sebanyak tiga lapis dengan dua lapis selai didalamnya. Nafsu makannya mulai menggila dan Laura hanya tertawa melihat tingkah Rudi yang semakin kocak.


"Rud, kamu sudah baikan?"


"Hahaha, baikan dengan siapa?"


"Bukan baikan itu, tapi bagaimana dengan perasaanmu? Sudah baikan?"


"Hahaha, sudah. Jangan terlalu menghawatirkan aku"

__ADS_1


"Hahaha, baiklah jika begitu"


"Kamu kapan nikah dengan Erlang?"


Pertanyaan Rudi yang tiba-tiba saja itu membuat Laura kaget hingga membuat Laura menyemburkan sedikit makanan yang masih ia kunyah.


"Hahaha, kenapa kamu bertanya seperti itu? Sangat tidak seperti dirimu"


"Hahaha, hanya penasaran"


"Nunggu kamu saja, nanti kita nikah bersama"


"Hahaha, jangan nunggu aku. Sepertinya akan lama untukku menikah"


Raut wajah Laura berubah seketika. Wanita itu baru saja menyadari bahwa pernyataan terakhirnya itu sepertinya menyinggung Rudi. Laura menyalahkan dirinya sendiri dalam hati dan mencoba untuk mencari pembahasan lain.


"Erlang bagaimana? Ugal-ugalan tidak?"


"Hahaha, tidak! Kalau kamu melihat Erlang saat dia sedang nyetir bus, pasti kamu akan pangling"


"Hahaha, kenapa?"


"Serius banget! Susah diajak bercanda"


"Hahaha"


Mereka terus mengobrol, Laura memikirkan banyak dalam obrolan itu. Wanita itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengucapkan beberapa kalimat yang mungkin akan menyinggung perasaan Rudi.


Setelah cukup lama mereka mengobrol hingga kopi dan roti yang disiapkan oleh Laura habis tanpa sisa. Rudi mulai merasakan gatal dibagikan tenggorokannya dan ia langsung pamit pergi.


Rudi masuk ke dalam kamar, menutup jendela dan pintunya rapat-rapat. Ia membuka jaket dan kaosnya, bertelanjang dada dan mulai mencampur ganja yang ia beli dengan dua batang rokok.


Rudi mengeluarkan sedikit bagian dari ujung rokok dan memasukkan beberapa ganja ke dalamnya. Setelah dua batang itu terisi penuh, Rudi memukul-mukulkan bagian bawah rokoknya ke tanah hingga ganja yang sudah ia campur memadat dan menyatu dengan rokok.


Satu batang ia nyalakan dan satu batang lainnya ia simpan didalam laci lemari.


Asap mulai mengepul didalam kamarnya. Rudi menghisapnya dalam-dalam, menyimpannya didalam tenggorokannya cukup lama dan baru ia keluarkan.


Asap itu seperti sebuah ilusi yang membawanya menuju sebuah kebebasan dan kelegaan pikiran. Perlahan pikirannya mulai melayang, perlahan seluruh tubuhnya meringan.

__ADS_1


Rudi mencari sandaran untuk punggung dan kepalanya sudah mulai tidak bisa tahan. Seluruh tubuhnya terasa ringan dan lemas. Rudi menghisap lagi dan menghembuskan asapnya dengan mendongak menatap langit-langit kamarnya.


Rudi terbang bersama asap yang mulai menghilang, tidak ada pikiran yang memberatkan dirinya saat itu. Rudi merasakan sebuah kebebasan tanpa memikirkan efek samping dari apa tang sudah ia lakukan.


__ADS_2