ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Salsa dan Segalanya


__ADS_3

Sudah hampir gajian ke tiga Rudi di terminal. Dia bekerja dengan sangat bersemangat ditambah lagi hari itu adalah hari sabtu yang terkenal dengan tradisi malam minggu. Rudi sudah mengadakan janji dengan Salsa malam ini, ke sebuah tempat dimana Rudi akan menceritakan setiap hal tentang dirinya.


Rudi sangat penasaran bagaimana Salsa akan merespon hal yang akan ia ceritakan, mungkinkah dia akan marah atau dia akan senang karena yang selama ini ia sajikan makan dan memberinya tip yang sangat besar adalah ayah Rudi.


Sebuah hari yang akan menentukan apakah dia akan pulang dengan membawa wanita impiannya setelah tiga bulan di perantauan atau mungkin kemungkinan terburuknya adalah dia akan kembali dengan tangan kosong dan menunggu dinikahkan oleh salah satu putri kolega ayahnya.


Rudi tidak begitu peduli, apapun konsekuensi yang akan dia dapat dia akan tetap pulang dan melanjutkan kisah yang ditulis tuhan dan merelakan kisah FTV yang sangat ingin ia rasakan.


"Woyy! Rud! Ngelamun ya?", Ucap Erlang yang sedang duduk di belakangnya di dalam bus yang sudah kosong.


"Hahaha gak ada"


"Masih mikirin wanita yang kemarin?"


"Sudah tidak lagi, tapi dulu aku benar-benar penasaran dengan wanita itu"


"Hahaha, sudah tiga minggu wanita itu tidak muncul lagi"


"Hahaha, iya! Kalo ketemu lagi pasti sudah ku datangi dan ku tanyai"


"Hahaha, dia cantik Rud! Sumpah!"


"Lebay!!"


"Hahaha"


Semua penumpang sudah turun dari bus, Erlang mengajak Rudi untuk ngopi seperti biasa. Waktu berjalan cukup lama saat kita hendak menerima gaji, sesekali Rudi kembali melamunkan respon Salsa saat ia mengetahui asal-usul Rudi yang sesungguhnya.


Tidak jarang Erlang diabadikan oleh lamunan Rudi namun Erlang bukanlah sosok teman yang ingin tahu apapun tentang orang lain, dia lebih memilih diam dan balik mengabaikan Rudi.


"Lang, kamu punya pacar?", Tanya Rudi tiba-tiba.


"Pacar?"


"Iya, Pacar!"


"Pacar ya?"


"Iya, pacar! Pacar yang bernafas dengan hidung"


"Punya, tapi dia bisa terbang", Jawab Erlang dengan nada sok serius.


"Hahahaha, Serius Lang! Punya gak?"


"Hahaha, gak Rud! gak kepikiran nyari pacar"

__ADS_1


"Hahaha, kenapa?"


"Gak ada, hanya males aja"


"Ohhh, baiklah"


"Kamu punya?"


"Hahaha, punya! Tiga, tapi masih belum lahir!"


Mereka berdua mengobrol dengan asik tentang pacar dan wanita. Rudi yang selama ini belum pernah mendengar kisah percintaan Erlang pun dibuat kaget, ternyata Erlang juga mengalami kejadian buruk didalam hidupnya termasuk sebuah tato muka anak kecil yang ada di tangannya.


Rudi juga menceritakan beberapa kisah cintanya meskipun Rudi terkadang perlu berbohong untuk menutupi asal-usulnya.


Mereka bercerita dengan ceria dan terkadang memasuki sebuah cerita yang serius hingga sampai pada waktu bagi mereka untuk bekerja lagi.


Mereka masih melanjutkan cerita sambil berjalan beriringan menuju pangkalan bus dan mulai mencari penumpang.


Mereka berdua tidak nampak seperti bekerja, mereka menjadi semakin akrab setelah mereka saling bertukar cerita. Rudi dan Erlang sangat berantusias mencari dan menarik penumpang, seperti tidak ada beban.


Bus mulai berjalan menuju pangkalan asalnya. Rudi seperti biasa menjaga pintu bagian depan dan Erlang berada dibelakang. Dua jam bus berjalan di atas aspal panas, dua jam Rudi berada didalam bus yang engap jika tidak ada angin yang berhembus dari sela-sela jendela.


Bus sampai di terminal asal, Rudi dan Erlang pun langsung menuju ke kantor dan mengambil amplop yang sudah dari pagi ia tunggu.


"Hahaha, maaf sudah ada janji sama cewek"


"Emmm, gitu ya sekarang, mainnya sama cewek teros"


"Hahaha, iri bilang busss"


"Hahaha, ya sudah nikmati malammu, aku tak nyari room saja"


"Hahaha"


Mereka berdua berpisah setelah berjalan bersama dari kantor menuju jalan raya tempat angkotan umum mangkal.


Rudi pulang dengan wajah yang riang, tidak memikirkan apapun selain respon Salsa nanti, bahkan berapa isi amplopnya pun tidak ia intip.


Sampai di kos-kosan, Rudi berjalan melewati kamar Salsa dan mengamati apakah Salsa sudah berada di kamarnya atau belum. Pintu masih tertutup rapat dan gorden jendela juga belom dibuka. Menandakan Salsa belum pulang bekerja.


Rudi langsung menuju kamarnya, mencuci kaki dan membasuh mukanya. Kemudian dia duduk di kasur dan mencoba membuka amplop yang berisi gaji ke tiganya.


"Emmm, lebih banyak dari bulan ke dua", Begitu gumamnya.


Rudi tidak tertarik sedikitpun dengan berapa gaji yang ia terima. Bukan karena gaji menjadi kernet tidak seberapa jika di bandingkan dengan gajinya saat mengurus perusahaan ayahnya melainkan karena Rudi dari dulu tidak pernah mempermasalahkan berapa yang akan dia dapat karena dia hanya peduli dengan bagaimana nuansa saat iya bekerja. Sebuah ideologi yang mengutamakan hasrat daripada gaji yang ia terima.

__ADS_1


Sudah cukup lama Rudi duduk dan menunggu Salsa pulang, ia pun memutuskan untuk keluar dan mencoba melihat apakah Salsa sudah pulang atau belum.


Rudi menuju pagar lantai dua depan kamarnya, dari jauh ia melihat Salsa yang baru pulang dengan membawa satu kantong plastik besar di tangan kanannya.


Salsa yang menyadari dirinya sedang di awasi oleh Rudi mencoba memberi isyarat untuk mengajak Rudi makan sambil menunjuk kantong plastik yang dia bawa. Rudi mengiyakannya dan langsung turun menghampiri Salsa.


"Wah banyak makanan nih"


"Hehehe iya, ada tujuh bungkus"


"Kok tumben bawa makanan dari tempat kerja?"


"Iya tadi ada bahan lebih dan bos nyuruh untuk dimasak dan di bawa pulang"


"Kayaknya enak nih masakan tuan putri"


"Hahahaha, Sopan dikit ya sama tuan putri yang masakin kamu setiap hari"


"Hahaha, siap tuan putri!", Ujar Rudi dengan melakukan gerakan hormat dan berdiri tegak.


Salsa menyuruh Rudi untuk membagikan beberapa box lainnya ke tetangga kamar dan menyisakan satu untuk Laura yang biasanya belum makan. Kemudian mereka makan dan berbincang sebentar sebelum berangkat mandi dan bersiap untuk menikmati malam minggu bersama.


...****************...


...Jika jemari kecilmu ku genggam...


...Jika hatimu yang layu ku dekap dengan kencang...


...Jika tubuh mungilmu ku peluk dengan pelan...


...Jika air matamu ku sapu dengan tanganku...


...Apakah itu tanda aku boleh mencintaimu...


...Atau aku hanya kertas bagi pena untuk bercerita?...


...****************...


Mereka berdua mandi di kamar mandi masing-masing, saling berdandan dan saling ingin terlihat menawan satu sama lain. Rudi dengan badan berisi tegap dan gagah, Salsa dengan tubuh kecil rampung hitam wajah yang penuh gemerlap rembulan. Mereka berdua bertemu dan saling memandang.


"Seperti biasa, kecil dan tidak dekil", Ucap Rudi setelah melihat bagaimana Salsa berdandan.


"Seperti biasa, tinggi, tegap dan gagah seperti monas", Balas Salsa.


Mereka berdua langsung berangkat menuju tempat yang sudah Rudi tentukan. Salsa tidak mengetahui kemana Rudi akan mengajaknya, dia hanya mengikuti pria yang sangat ia percaya itu, kemanapun dan kapanpun asal bersamamu aku ikut saja. Begitulah yang akan dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2